Bacaini.ID, JAKARTA — Konsentrasi dana di perbankan nasional makin tajam. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Juli 2026 mencatat total simpanan perbankan mencapai Rp10.348,86 triliun, tumbuh 10,9% secara tahunan.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kelompok simpanan di atas Rp5 miliar, yang melonjak 17,3% menjadi Rp5.999,21 triliun, setara sekitar 58% dari seluruh simpanan perbankan.
Kelompok lain tumbuh jauh lebih lambat:
– Kelompok: Di atas Rp5 miliar
– Pertumbuhan: 17,3%
– Nominal: Rp5.999,21 T
– Kelompok: Di bawah Rp100 juta
– Pertumbuhan: 4,7%
– Nominal: Rp1.160,36 T
– Kelompok: Rp100–200 juta
– Pertumbuhan: 4,4%
– Nominal: Rp480,05 T
– Kelompok: Rp200–500 juta
– Pertumbuhan: 3,2%
– Nominal: Rp763,46 T
– Kelompok: Rp1–2 miliar
– Pertumbuhan: 2,9%
– Nominal: Rp567,29 T
– Kelompok: Rp500 juta–1 miliar
– Pertumbuhan: 1,9%
– Nominal: Rp645,72 T
– Kelompok: Rp2–5 miliar
– Pertumbuhan: 0,8%
– Nominal: Rp733,79 T
Dari sisi mata uang, simpanan valas tumbuh 19,8%, mengungguli rupiah yang naik 9,3%. Berdasarkan jenis, deposito tetap terbesar dengan Rp3.784,43 triliun, tumbuh 14%.
baca ini: Gudang Garam Hadapi Persaingan Timpang Dengan Rokok Ilegal
LPS sebelumnya mencatat kelompok di atas Rp5 miliar tumbuh 15,44% per Juni 2026. Angka Juli 17,3% menandakan tren yang menguat, bukan lonjakan sesaat.
Sementara segmen di bawah Rp5 miliar tumbuh 0,8–4,7%, atau seperempat hingga sepertiga laju kelompok jumbo. Yang paling mencolok justru Rp2–5 miliar (0,8%), kelompok tepat di bawah ambang jumbo. Pola ini mengindikasikan pertumbuhan simpanan nasional praktis ditopang satu segmen saja.
Kombinasi deposito (+14%) dan valas (+19,8%) menunjukkan pemilik dana besar cenderung memarkir kekayaan pada instrumen aman dan melakukan lindung nilai kurs. Mereka cenderung menahan diri, bukan ekspansi ke sektor produktif.
Bila kondisi ini berlanjut, likuiditas menumpuk di bank tanpa mengalir ke ekonomi riil.(dkw/edt)




