• Login
Bacaini.id
Tuesday, September 8, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Coop Coffee Indonesia Dorong Perempuan Petani Kopi Terlibat dalam Ekonomi Karbon

ditulis oleh Solichan Arif
8 September 2026 13:33
Durasi baca: 8 menit
Perempuan petani kopi terlibat dalam ekonomi karbon dan biodiversitas

Perempuan petani kopi didorong terlibat dalam pengukuran karbon, biodiversitas, dan pengelolaan lanskap berkelanjutan (foto/ist)

Reporter: Eko | Editor: Solichan Arif

Poin Penting:

  • Perempuan petani kopi didorong menjadi aktor utama dalam pengukuran dan pengelolaan karbon, biodiversitas, serta keberlanjutan kebun.
  • Coop Coffee Indonesia menggunakan teknologi dan MRV untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam mengumpulkan, memahami, dan memanfaatkan data.
  • Model pemberdayaan diarahkan dari beneficiary menjadi decision maker, sehingga keberlanjutan lanskap kopi dapat memberi nilai ekologis sekaligus ekonomi.

Bacaini.ID, BALI – Dibalik setiap kebun kopi terdapat lanskap yang menyimpan karbon yang itu menjaga biodiversitas, sebagai sumber penghidupan masyarakat dan sekaligus jawaban dari solusi perubahan iklim. Melalui PT. Koop Kopi Indonesia dalam Indonesia Carbon and Biodiversity Summit The Westin, Nusa Dua, Bali, 8-9 September 2026, Coop Coffee Indonesia memaparkan perspektif tersebut.

Dengan terjadinya perubahan iklim semua dituntut melihat pertanian bukan sekadar sektor produksi komoditas. Ketika bicara masa depan karbon, maka juga harus membicarakan siapa yang ada di lapangan, siapa yang menjaga lanskap, dan siapa yang memiliki kapasitas mengukur perubahan yang terjadi di dalamnya.

Baca Juga: Perhutanan Sosial Jangan Dibebani Menurunkan Emisi

Coop Coffee Indonesia berpandangan, pertanian, karbon, biodiversitas, teknologi, dan mata pencaharian bukanlah agenda yang berjalan sendiri. Semuanya harus dibangun dalam satu ekosistem yang menghubungkan lanskap, petani, data, teknologi, dan pasar.

Saat ini dan sekaligus menjadi langkah konkrit, Coop Coffee Indonesia berada pada tahap origination dan implementation, menerjemahkan konsep karbon dan keberlanjutan menjadi aksi nyata di tingkat kebun dan komunitas petani kopi.

Kerja-kerja dilakukan langsung dari sumbernya, yaitu lanskap kopi dan masyarakat yang mengelolanya, dengan membangun kapasitas petani. Praktik pertanian dikembangkan lebih berkelanjutan, menghubungkan pengetahuan lokal dengan teknologi, serta memastikan perubahan di tingkat lahan dapat terdokumentasi dan terukur.

“Dalam model ini, perempuan petani kopi menjadi salah satu aktor utama yang tidak ingin kemudian menempatkan perempuan hanya sebagai penerima manfaat dari program pemberdayaan,” kata CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus di Nusa Dua, Bali, Selasa (8/9/2026). 

“Perempuan namun juga didorong untuk terlibat langsung dalam proses yang selama ini dianggap sangat teknis, termasuk Measurement, Reporting and Verification (MRV),” sambungnya. 

Peran Perempuan Dimulai dari Tingkat Kebun

Peran tersebut dapat dimulai dari tingkat paling dasar, yakni dengan memahami apa yang sedang diukur di kebun mereka, melakukan pengamatan dan pencatatan kondisi lahan.

Kemudian juga mengumpulkan informasi melalui perangkat digital, mengenali perubahan praktik pertanian, hingga memahami bagaimana data tersebut digunakan untuk melihat perkembangan karbon, biodiversitas, dan produktivitas.

Baca Juga: Jumlah Kedai Kopi di Indonesia Terbanyak di Dunia

Dengan cara ini, perempuan petani kopi bukan sekadar sumber informasi bagi sebuah sistem MRV, tetapi menjadi bagian aktif dari proses pengukuran dan pembuktian dampak.

Di sinilah Coop Coffee Indonesia menjalankan fungsi penting sebagai penghubung antara teknologi dan masyarakat. Teknologi digunakan bukan sekadar untuk menghasilkan dashboard atau angka karbon, tetapi untuk membawa data dan pengetahuan kembali kepada petani.

Coop Coffee Indonesia membantu menerjemahkan bahasa teknologi dan karbon menjadi sesuatu yang dapat dipahami dan digunakan oleh masyarakat di tingkat tapak. Sebaliknya, pengetahuan dan pengalaman petani menjadi input penting untuk membuat data tersebut memiliki konteks.

Coop Coffee Foundation Bangun Hubungan Dua Arah

PT. Koop Kopi Indonesia melalui program pemberdayaannya lewat entitas Coop Coffee Foundation yang kemudian dengan pendekatan ini telah menciptakan hubungan dua arah. 

Teknologi membawa data dari kebun ke sistem, masyarakat membawa pengetahuan dari kebun ke dalam data. Coop Coffee Indonesia berada di tengah proses tersebut untuk memastikan bahwa keduanya dapat bekerja secara berkesinambungan.

“Karena itu, MRV bukan hanya persoalan verifikasi karbon. MRV menjadi bagian dari proses pemberdayaan,” tegas Reza Fabianus.

Ketika seorang perempuan petani memahami data dari lahannya sendiri, maka ia memiliki informasi yang lebih kuat untuk mengambil keputusan mengenai praktik pertanian, produktivitas, pengelolaan lingkungan, dan masa depan kebunnya.

Data tidak berhenti sebagai angka untuk kepentingan proyek atau pasar, tetapi kembali menjadi alat pengambilan keputusan bagi petani.

Karbon, Biodiversitas, dan Mata Pencaharian Tak Bisa Dipisahkan

Sebuah kebun kopi yang sehat bukan hanya kebun yang mampu menyerap karbon tetapi juga kebun yang memiliki ekosistem yang beragam, tanah dan air yang terjaga, produktivitas yang baik, serta mampu memberikan penghidupan yang lebih kuat bagi keluarga petani.

Karena itu, implementasi di lapangan diarahkan untuk melihat carbon, biodiversity, dan livelihoods sebagai satu kesatuan. Praktik pertanian, keberadaan pohon penaung, kondisi tanah, produktivitas kopi, biodiversitas, serta peran masyarakat menjadi bagian dari sebuah lanskap yang saling terhubung.

Dalam jangka panjang, Coop Coffee Indonesia ingin membangun sebuah model di mana kopi menjadi pintu masuk menuju living landscape economy.

Konsumen tidak hanya mengenal kopi berdasarkan rasa, kualitas, atau asal geografisnya, tetapi juga dapat memahami lanskap yang menghasilkan kopi tersebut: siapa yang merawatnya, bagaimana lahan dikelola, bagaimana biodiversitas dijaga, bagaimana karbon diukur, dan bagaimana masyarakat memperoleh manfaat.

Disinilah teknologi menjadi penting, namun bagi Coop Coffee Indonesia, teknologi bukan tujuan akhir dimana teknolgi merupakan enabler. 

Tujuannya adalah membangun sistem yang membuat masyarakat lebih mampu memahami, mengukur, dan mengambil bagian dalam nilai yang dihasilkan oleh lanskap mereka sendiri.

Dengan demikian Coop Coffee Indonesia bukan sekadar sebagai pelaksana program kopi berkelanjutan namun berperan sebagai origination and implementation platform yang mempertemukan komunitas petani.

“Khususnya perempuan, dengan teknologi, pengetahuan, data, praktik pertanian, biodiversitas, dan peluang ekonomi karbon,” papar Reza Fabianus.

Model tersebut mengubah cara melihat pemberdayaan. Pemberdayaan bukan lagi hanya memberi pelatihan atau bantuan kepada perempuan, tetapi juga memberi kapasitas untuk menjadi bagian dari sistem yang menciptakan dan mengukur nilai.

Dari Beneficiary Menjadi Decision Maker

Perubahan fundamental dari beneficiary menjadi participant, kemudian menjadi data contributor dan berlanjut menjadi decision maker. Sebab pada akhirnya, masa depan ekonomi karbon tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan atau seberapa besar pasar karbon berkembang. 

Kredibilitasnya juga ditentukan oleh kualitas implementasi di tingkat tapak dan oleh keterlibatan masyarakat yang menjaga lanskap tersebut.

“Di titik inilah Coop Coffee Indonesia menempatkan perempuan kopi sebagai bagian penting dari masa depan tersebut,” jelasnya. 

Perempuan bukan hanya penerima manfaat dari aksi iklim namun mereka ikut mengukur, memahami, menjaga, dan menentukan perubahan yang terjadi di lanskap mereka.

Ketika perempuan, teknologi, data, kopi, biodiversitas, dan karbon dapat bekerja dalam satu ekosistem, maka sebuah kebun kopi tidak lagi hanya menjadi tempat menghasilkan komoditas.

“Ia menjadi living laboratory untuk membangun masa depan ekonomi karbon yang lebih inklusif, terukur, dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Tiga Peran Utama Coop Coffee Indonesia

Dalam hal ini Coop Coffee Indonesia memiliki tiga peran utama: Origination & Implementation, yakni membawa agenda karbon dan keberlanjutan dari konsep ke kebun dan komunitas.

Kemudian, Technology & MRV Enabler, yakni membangun kapasitas dan menyediakan pendekatan teknologi agar perempuan dapat terlibat langsung dalam pengumpulan, pengukuran, dan pemahaman data.

Dan peran ketiga adalah Women & Livelihood Empowerment, yakni memastikan perempuan bukan hanya beneficiary, tetapi menjadi data contributor, climate actor, dan decision maker, sehingga nilai karbon dan keberlanjutan terhubung dengan peningkatan penghidupan.

Peran dalam ekosistem ini dapat ditegaskan melalui tiga fungsi utama: sebagai origination dan implementation platform, sebagai enabler teknologi dan MRV, serta sebagai penggerak pemberdayaan perempuan dan penguatan livelihood. 

Ketiganya saling terhubung dan menjadi fondasi pendekatan Coop Coffee Indonesia dalam membangun ekonomi karbon yang berangkat dari tingkat tapak.

Peran sebagai origination dan implementation platform artinya, Coop Coffee bekerja dari sumbernya, yaitu lanskap kopi dan komunitas petani, untuk menerjemahkan agenda karbon, biodiversitas, dan keberlanjutan menjadi aksi nyata.

Ini mencakup penguatan kapasitas petani, mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, mengidentifikasi potensi dampak lingkungan, serta memastikan bahwa perubahan yang terjadi di tingkat kebun dapat didokumentasikan dan diukur.

Membangun Ekonomi Karbon dari Lanskap Kopi

Dengan pendekatan ini, karbon tidak diposisikan sebagai konsep yang datang dari pasar, tetapi sebagai sesuatu yang dibangun dari praktik nyata di lanskap pertanian.

Kemudian peran sebagai technology and MRV enabler diterjemahkan teknologi digunakan untuk menghubungkan apa yang terjadi di kebun dengan kebutuhan data dalam ekonomi karbon. Namun yang lebih penting, Coop Coffee mendorong teknologi dan MRV tidak menjadi sistem yang bekerja dari atas ke bawah.

Masyarakat, terutama perempuan petani, perlu memahami apa yang diukur, bagaimana data dikumpulkan, dan untuk apa data tersebut digunakan. Karena itu, perempuan didorong untuk terlibat dalam pengamatan, pencatatan, pengumpulan informasi lapangan, penggunaan perangkat digital, serta proses pengukuran dan pelaporan.

Dengan demikian, teknologi bukan sekadar alat untuk menghasilkan data, tetapi menjadi sarana untuk membangun kapasitas dan kepemilikan pengetahuan di tingkat komunitas.

Sementara peran sebagai penggerak women empowerment dan livelihood diartikan pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada menjadikan mereka penerima manfaat dari program pertanian atau iklim. Coop Coffee ingin mendorong perubahan posisi perempuan dari beneficiary menjadi participant, dari participant menjadi data contributor, dan dari data contributor menjadi decision maker.

Ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan, teknologi dan data dari lanskap mereka sendiri, mereka memiliki posisi yang lebih kuat untuk memahami perubahan, berkontribusi dalam proses MRV, mengambil keputusan, dan pada akhirnya ikut menentukan nilai yang dihasilkan dari keberlanjutan lanskap dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Ketiga peran tersebut kemudian bertemu dalam satu tujuan, yakni membangun kesinambungan antara perempuan, kopi, teknologi, karbon, biodiversitas, dan livelihood. Coop Coffee Indonesia tidak melihat karbon sebagai agenda yang berdiri sendiri.

Karbon, biodiversitas, dan mata pencaharian harus bergerak bersama, karena lanskap yang sehat membutuhkan petani yang memiliki penghidupan yang layak, sementara penghidupan yang berkelanjutan membutuhkan lanskap yang produktif dan tangguh terhadap perubahan iklim.

“Dengan model tersebut, Coop Coffee Indonesia tidak hanya berbicara mengenai pemberdayaan perempuan atau teknologi secara terpisah,” sambungnya 

Yang dibangun adalah sebuah ekosistem di mana perempuan menjadi pelaku, teknologi menjadi enabler, MRV menjadi mekanisme pembuktian, dan lanskap kopi menjadi sumber nilai ekologis sekaligus ekonomi.

“Inilah yang memungkinkan aksi iklim bergerak dari sekadar komitmen menjadi implementasi yang dapat diukur dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di tingkat tapak,” pungkas Reza Fabianus. (ek/sa)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: BaliCoop coffee Indonesiaekonomiekonomi karbonIndonesia Carbon and Biodiversity Summit The WestinKopiNusa Duapetani kopiPT Koop Kopi Indonesia
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Perempuan petani kopi terlibat dalam ekonomi karbon dan biodiversitas

Coop Coffee Indonesia Dorong Perempuan Petani Kopi Terlibat dalam Ekonomi Karbon

Toba Pulp Lestari. Foto: IG@tobapulplestari

Perjalanan Toba Pulp Lestari Akhirnya Duduk sebagai Tersangka Korporasi

Ilustrasi perpecahan kepala daerah dan wakilnya. Foto: bacaini/AI

Pecah Kongsi Kepala Daerah dan Wakil Makin Membesar di Jawa Timur

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In