Bacaini.ID, KEDIRI – Adanya rasa cemas usai melahirkan menjadi salah satu bukti kesiapan lahir batin (mental) menjadi seorang ibu tidak datang otomatis. Karenanya di sejumlah rumah sakit modern menerapkan sistem ‘rooming-in’, di mana ibu dan bayi ditempatkan dalam satu kamar selama 24 jam penuh.
Sebuah studi medis terbaru dari Wroclaw Medical University telah membuktikan kesiapan seorang ibu merawat bayinya tidak ditentukan oleh seberapa cepat luka fisik pasca-melahirkan pulih, melainkan oleh kondisi psikologisnya, terutama tingkat kecemasan dan kemampuan mengelola emosi.
Temuan ini membawa pesan bahwa merawat bayi baru lahir bukanlah beban yang harus dipikul seorang ibu seorang diri. Suami dan keluarga wajib siaga. Dikutip dari News Medical Life Sciences, berikut langkah nyata yang harus dilakukan untuk mendampingi ibu di masa-masa paling rentan.
Ibu Baru Tidak Otomatis Siap Menjalani Peran sebagai Ibu
Kesalahan terbesar yang sering dilakukan orang terdekat adalah menganggap naluri keibuan akan langsung muncul begitu bayi lahir tanpa hambatan. Padahal, ibu baru sedang menghadapi kombinasi kelelahan fisik yang ekstrem dan perubahan hormon yang drastis.
Ketika seorang ibu terlihat ragu, cemas, atau kewalahan saat memegang atau menyusui bayinya, jangan buru-buru menghakimi atau melabelinya kurang kompeten. ‘Kesiapan’ adalah persepsi subjektif, berbeda pada setiap orang. Pada jam-jam atau hari-hari pertama, ibu yang baru melahirkan mungkin merasa tidak memiliki cukup cadangan tenaga mental. Jangan menuntutnya untuk siap dan mampu mengerjakan fungsinya sebagai seorang ibu. Berikan empati dan validasi perasaannya hingga ibu merasa didukung.
Tanyakan Kondisi Emosional, Bukan Hanya Soal Bayi
Saat menemani ibu baru, pertanyaan yang paling sering dilontarkan biasanya bernada teknis, seperti: “Bayinya sudah waktunya menyusu belum?”, “Sudah bisa tidur nyenyak?”, atau “ASI-nya lancar?”.
Ubah arah percakapan untuk lebih berempati pada kondisi si ibu dengan menanyakan kondisi mentalnya. Ajukan pertanyaan sederhana namun penuh makna: “Bagaimana perasaanmu/kondisimu hari ini?” atau “Sudah siap menggendong? Ayo kubantu”.
Pertanyaan ini membuka ruang bagi ibu untuk jujur mengenai suasana hatinya atau kecemasannya tanpa merasa tertekan untuk terlihat sempurna di hadapan orang lain.
Kesiapan Menyusui Tidak Berarti Siap Siaga 24 Jam
Studi menunjukkan bahwa keinginan kuat untuk menyusui tidak selalu berarti ibu siap siaga mengurus bayi sepanjang hari tanpa istirahat. Seorang ibu bisa saja sangat termotivasi memberikan ASI eksklusif, namun di sisi lain ia merasa sangat kelelahan secara mental.
Sebagai keluarga, jangan hanya fokus pada keberhasilan menyusui bayi. Bantu ringankan beban domestiknya agar ia bisa fokus memulihkan tenaga. Sediakan makanan hangat, ambil alih tugas mencuci pakaian atau membersihkan rumah, dan biarkan ia fokus pada bayinya, atau beristirahat saat bayi tidur.
Malam Hari Menjadi Waktu Penting Suami untuk Siaga
Malam hari adalah masa paling menantang dan melelahkan bagi ibu baru. Ketika dunia luar tertidur dan rumah menjadi sunyi, kecemasan, rasa terisolasi, dan kelelahan fisik biasanya mencapai puncaknya.
Data menunjukkan bahwa tingkat kesiapan ibu untuk merawat bayi pada malam hari jauh lebih rendah dibandingkan siang hari. Di sinilah peran suami menjadi sangat mutlak untuk bergantian atau ambil alih tugas pengasuhan di malam hari. Misalnya, suami dapat bangun untuk mengganti popok atau menggendong bayi sebentar setelah disusui, sehingga ibu mendapatkan waktu tidur berkualitas yang sangat dibutuhkannya untuk menstabilkan kondisi fisik dan mentalnya.
Validasi Perasaan Ibu untuk Membangun Kepercayaan Diri
Kecemasan terbesar seorang ibu baru biasanya bersumber dari rasa takut salah atau merasa tidak becus. Keluarga terdekat adalah garda terdepan untuk menghapus rasa takut tersebut.
Berikan apresiasi atas hal-hal kecil yang ia lakukan. Ucapkan kalimat penguat seperti, “Kamu sudah melakukan pekerjaan yang hebat” atau “Wajar kok merasa lelah, kita urus sama-sama ya“. Dukungan emosional yang konsisten terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan secara drastis dan mempercepat pemulihan psikologis pascapersalinan.
Keluarga bukanlah sekadar penonton yang memuji bayi yang baru lahir, melainkan pilar penyangga bagi kesehatan mental sang ibu. Dengan memahami bahwa kecemasan pasca-melahirkan adalah nyata dan butuh penanganan bersama, keluarga sedang merawat dua kehidupan sekaligus: bayi yang baru menapakkan kaki di dunia, dan seorang perempuan yang baru saja terlahir kembali menjadi ibu. (bl/sa)




