Bacaini.ID, JOMBANG — Merayakan kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan upacara dan mengibarkan bendera. Bagi komunitas Shiddiqiyyah, rasa syukur atas kemerdekaan juga diwujudkan dengan membantu warga yang membutuhkan.
Tahun ini, sebanyak 136 rumah layak huni dibangun melalui program yang mereka sebut sebagai Rumah Syukur. Sepuluh di antaranya berada di Kabupaten Jombang. Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sosial dalam memperingati kemerdekaan Indonesia.
Selain pembangunan rumah, organisasi Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (Dhibra) Shiddiqiyyah Pusat juga menyalurkan bantuan kepada sekitar 200 anak yatim dan fakir miskin. Sebanyak 30 veteran di Kabupaten Jombang turut menerima tali asih.
Rangkaian kegiatan dipusatkan di Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathan Minal Iman Shiddiqiyyah, Jombang.
Ketua Dhibra Shiddiqiyyah Pusat, Shofwatul Ummah, mengatakan kegiatan tersebut telah dimulai sejak 17 Agustus 2026. Rangkaian acara diawali dengan wiridan dan doa bersama sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan Indonesia.
“Berawal dari tanggal 17 Agustus, 18, 19 Agustus. Tanggal 17 Agustus tadi diawali dengan wiritan bersama, berdoa, mensyukuri nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia dan nikmat berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Shofwatul Ummah.
Setelah doa bersama dan sujud syukur, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian santunan. Masing-masing penerima memperoleh paket bantuan senilai sekitar Rp250 ribu.
Menurut Shofwatul Ummah, penerima bantuan berasal dari wilayah Jombang dan sekitarnya.
“Ini bentuk syukur. Karena tidak boleh kita tidak mensyukuri, harus mensyukuri, karena ini sebuah nikmat besar,” ujarnya.
Bukan hanya santunan yang menjadi perhatian dalam peringatan kemerdekaan tahun ini. Shiddiqiyyah juga melanjutkan program pembangunan rumah bagi warga yang membutuhkan.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Shiddiqiyyah (Orshid), Joko Herwanto, mengatakan pada 2026 ada 136 unit Rumah Syukur yang dibangun di berbagai daerah di Indonesia.
Khusus di Jombang, terdapat 10 rumah yang dibangun. Setiap rumah diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp100 juta.
Program tersebut bukan kegiatan baru. Menurut Joko, pembangunan Rumah Syukur telah berjalan hampir 25 tahun. Jika dikumpulkan sejak pertama kali dilaksanakan, jumlah rumah yang telah dibangun mencapai sekitar 2.500 unit di berbagai daerah di Indonesia.
“Alhamdulillah konsisten setiap tahun kurang lebih 135 sampai 140 unit rumah yang terbangun,” kata Joko.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana Shiddiqiyyah menerjemahkan rasa syukur atas kemerdekaan ke dalam kegiatan sosial.
Tak Melupakan Para Veteran
Di tengah berbagai kegiatan sosial tersebut, para veteran juga mendapat tempat tersendiri.
Sebanyak 30 veteran di Kabupaten Jombang menerima tali asih. Bagi Shiddiqiyyah, pemberian tersebut bukan sekadar bantuan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada mereka yang pernah terlibat dalam perjuangan bangsa.
“Kita tidak pernah melupakan pejuang-pejuang bangsa yang terefleksikan dengan kita selalu mengundang veteran-veteran yang ada di Kabupaten Jombang,” ujar Joko.
Ia menjelaskan, kegiatan syukur kemerdekaan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan berdasarkan petunjuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Dalam pandangan Shiddiqiyyah, 17 Agustus diperingati sebagai momentum kemerdekaan bangsa Indonesia. Sementara 18 Agustus 1945 dimaknai sebagai momentum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Keduanya tidak terpisahkan, yang kedua-duanya wajib disyukuri,” katanya.
Rasa syukur itu kemudian diwujudkan dalam dua bentuk, yakni ibadah ritual dan kepedulian sosial. Doa dan sujud syukur menjadi bagian dari bentuk pertama, sementara santunan, tali asih kepada veteran, serta pembangunan rumah menjadi wujud kepedulian kepada sesama.
Joko berharap rangkaian kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata. Menurut dia, peringatan kemerdekaan semestinya juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan rasa syukur sekaligus memperkuat kepedulian terhadap masyarakat di sekitar.
Dengan cara itu, kemerdekaan tidak hanya diperingati sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga diisi dengan tindakan nyata yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.(syi/edt)




