Bacaini.ID, WASHINGTON — Presiden Donald Trump membuka front baru melawan industri energi domestiknya sendiri. Ia menuntut ExxonMobil Corp. dan Chevron Corp. memangkas harga bahan bakar setelah kedua perusahaan mencatat lonjakan laba kuartalan yang dipicu oleh disrupsi pasokan minyak akibat konflik Iran.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyasar langsung dua produsen migas terbesar Amerika. “Mereka menghasilkan terlalu banyak uang karena adanya kelangkaan. Saya tidak menyukainya,” katanya.
Ia menambahkan jika Chevron dan ExxonMobil sudah terlalu banyak uang. Mereka harus mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada publik dan menurunkan harga eceran untuk konsumen.
Komentar tersebut menempatkan Gedung Putih pada posisi berseberangan dengan mekanisme pasar bebas yang selama ini menjadi argumen utama industri energi AS, bahwa harga mengikuti pasokan dan permintaan, bukan arahan politik. Ini juga merupakan sinyal tekanan politik langsung terhadap dua konstituen korporat penting menjelang siklus politik berikutnya.
Akar masalah bermula 28 Februari 2026, ketika serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu Teheran merespons dengan mengganggu jalur ekspor minyak di Selat Hormuz, memicu apa yang digambarkan sebagai disrupsi pasokan minyak terbesar dalam catatan sejarah.
Dampaknya bergerak cepat melalui rantai harga:
– Indikator: Minyak mentah AS (rata-rata kuartalan, Apr–Jun)
– Sebelum Konflik: —
– Pasca-Konflik: ~US$92/barel
– Perubahan: +27% vs Q1 2026
– Indikator: Minyak mentah AS (sejak serangan)
– Sebelum Konflik: —
– Pasca-Konflik: —
– Perubahan: +20%
– Indikator: Bensin rata-rata AS (per galon)
– Sebelum Konflik: US$2,98
– Pasca-Konflik: US$4,10 (Senin, 3/8)
– Perubahan: +40%
– Indikator: Laba bersih Chevron (Q2)
– Sebelum Konflik: US$2,5 miliar (Q2 2025)
– Pasca-Konflik: US$12 miliar
– Perubahan: +380% (hampir 400%)
– Indikator: Laba bersih ExxonMobil (Q2)
– Sebelum Konflik: US$7,1 miliar (Q2 2025)
– Pasca-Konflik: US$14,5 miliar
– Perubahan: +104% (lebih dari 2x lipat)
Sumber: data AAA dan laporan keuangan Exxon dan Cevron
Korelasi antara ketiganya cukup jelas secara aritmetika: kenaikan harga minyak mentah 27% pada kuartal yang sama dengan lonjakan laba mendekati 400% pada Chevron menunjukkan ekspansi margin yang jauh melampaui kenaikan biaya input — pola klasik yang memicu tuduhan windfall profit dalam episode volatilitas energi sebelumnya.
Reaksi Pasar: Investor Membaca Sinyal, Bukan Substansi
Pasar merespons cepat begitu pernyataan Trump dipublikasikan — saham Chevron ditutup melemah hampir 2%, sementara ExxonMobil bergerak lebih rendah dalam magnitudo lebih kecil.
Pergerakan ini konsisten dengan pola historis: pernyataan presidensial yang menyerang laba korporat cenderung memicu koreksi jangka pendek berbasis risiko regulasi yang dipersepsikan, terlepas dari apakah ada mekanisme kebijakan konkret yang menyertainya. Sejauh ini, Trump tidak menyebutkan instrumen kebijakan spesifik — tidak ada windfall profit tax, price cap, atau ancaman regulasi yang diartikulasikan dalam pernyataan tersebut. Tekanan yang diberikan sepenuhnya bersifat retorik dan politis.
Baik Chevron maupun ExxonMobil belum memberikan tanggapan resmi. Kesunyian korporat pada tahap ini adalah pilihan strategis yang umum — merespons terlalu cepat berisiko mengonfirmasi narasi “keuntungan berlebihan,” sementara diam terlalu lama membiarkan tekanan politik terakumulasi tanpa perlawanan naratif.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri W




