Poin Penting:
- Tren fashion viral seperti wide-leg trousers, high heels, dan kuku palsu memiliki risiko kesehatan jika digunakan tanpa memperhatikan faktor ergonomi
- High heels dapat meningkatkan tekanan pada kaki dan lutut, sedangkan celana model floor-skimming meningkatkan risiko terjatuh
- Dermatolog menyarankan penggunaan kuku palsu dibatasi dan memberi waktu istirahat bagi kuku asli untuk mencegah kerusakan
Bacaini.ID, KEDIRI – Sisi gelap tren fashion tengah jadi sorotan dan viral di tengah industri mode global yang terus bergerak melahirkan tren baru di linimasa media sosial, mulai platform TikTok hingga Instagram. Tak sedikit tren fashion diciptakan murni demi kepentingan visual dan estetika tanpa memperhitungkan faktor ergonomis atau kenyamanan fungsional bagi tubuh manusia saat dipakai untuk aktivitas sehari-hari dan bahkan berbahaya.
BACA JUGA: Tren Fashion Quiet Luxury: Gaya Mewah Anti Norak
Fenomena ini seiring munculnya berbagai kasus nyata di lapangan yang membuktikan sejumlah item fesyen populer menyimpan potensi bahaya serius jika dikenakan tanpa kehati-hatian atau dalam durasi yang tidak wajar. Berikut tiga item fesyen ikonis yang paling sering menjadi sorotan karena risikonya terhadap kesehatan fisik:
Wide-Leg Trousers Ala Zara, Tren Stylish yang Berisiko Menyebabkan Cedera
Beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan oleh gelombang video viral yang menampilkan para perempuan yang tersungkur, terpeleset, atau jatuh saat mengenakan celana panjang berpotongan lebar (flowy wide-leg pants) keluaran jenama mode cepat global, Zara. Tren celana yang dirancang dengan potongan ekstra panjang hingga menyapu lantai (floor-skimming) ini dengan cepat dijuluki warganet sebagai ‘death trousers’ atau celana maut setelah ribuan laporan lelucon maupun kecelakaan kecil membanjiri media sosial global.
BACA JUGA: Gaya Ngortis ala CORTIS: Berantakan, Rebel, tapi Jadi Tren Fashion 2026
Secara estetika, celana model ini memang menawarkan daya tarik yang luar biasa. Potongan pinggang yang fleksibel berpadu dengan kain ringan yang menjuntai lebar mampu menciptakan ilusi optik kaki yang lebih jenjang, memberikan siluet tubuh yang elegan, serta menonjolkan kesan gaya hidup perkotaan yang modern dan kasual. Namun, masalah mendasar terletak pada aspek kepraktisan fisik. Kain dan potongan celana sangat mudah terlipat ke bawah telapak kaki saat pemakainya berjalan.
Risiko keselamatan celana lebar menjadi perbincangan warganet global dengan jutaan tayangan video insiden fisik mulai dari luka lecet pada lutut, keseleo pergelangan kaki, hingga kasus cedera yang membutuhkan penanganan medis darurat.
High Heels Tingkatkan Risiko Gangguan pada Kaki, Lutut, dan Otot
Jika ada satu item fesyen yang paling lama bertahan sebagai simbol status, keanggunan, dan profesionalisme sekaligus paling banyak dikecam oleh para dokter ortopedi, itu adalah sepatu hak tinggi (high heels). Mengenakan sepatu dengan hak di atas 5 sentimeter telah lama jadi bagian dari kode busana formal maupun profesional bagi perempuan di seluruh dunia. Kendati memperindah postur dengan mendongkrak tinggi badan dan menegakkan punggung sekilas, dampak biologis yang ditimbulkannya jauh lebih kompleks daripada yang terlihat.
BACA JUGA: Tip Padukan Warna Busana Agar Terlihat Serasi
Secara biomekanik, tubuh manusia dirancang untuk mendistribusikan berat badan secara merata di seluruh tapak kaki, mulai dari tumit hingga ke bagian depan. Ketika seseorang mengenakan sepatu hak tinggi, distribusi alami tersebut mengalami distorsi total.
Berdasarkan riset ilmiah di bidang podiatri, mengenakan sepatu berhak 7 sentimeter dapat meningkatkan tekanan pada bagian depan kaki (forefoot) hingga mencapai 76 persen dibandingkan saat seseorang mengenakan sepatu datar. Bahkan hak setinggi 5 sentimeter sudah cukup untuk mendongkrak tekanan di area bantalan kaki sebesar 57 persen.
Lonjakan tekanan ekstrem pada area metatarsal ini memicu berbagai gangguan klinis jangka panjang, mulai dari metatarsalgia (nyeri terbakar di telapak kaki depan), peradangan selaput sendi (sinovitis), hingga percepatan pembentukan bunion (benjolan nyeri pada sendi jempol kaki akibat deformitas struktural).
Efek domino dari penggunaan high heels merambat langsung ke struktur tubuh bagian atas. Pergeseran pusat gravitasi tubuh ke depan memaksa otot paha depan dan lutut bekerja ekstra keras untuk menjaga keseimbangan, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan kompresi pada sendi lutut sebesar 23 persen.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga menyebabkan tendon Achilles dan otot betis mengalami pemendekan permanen karena berada dalam posisi terkontraksi secara terus-menerus, membuat pemakainya merasa kesakitan saat harus kembali mengenakan sepatu datar.
Kuku Palsu Akrilik dan Gel Bisa Memicu Infeksi serta Kerusakan Kuku
Tren kecantikan kuku buatan, baik melalui teknik akrilik maupun pelapis gel, telah menjadi bagian integral dari gaya hidup modern. Kuku panjang dengan ragam seni dekoratif (nail art) memberikan kepuasan estetika tersendiri, menciptakan ilusi jari-jari tangan yang lebih panjang dan terawat. Namun, di balik hasil akhir yang memukau, prosedur pemasangan dan pemeliharaan kuku palsu menyimpan berbagai ancaman dermatologis yang kerap diabaikan oleh para penggunanya.
BACA JUGA: Y2K Fashion Bangkit Lagi: Nostalgia 2000-an Kembali Jadi Tren
Proses aplikasi kuku akrilik secara konvensional menuntut teknisi kuku untuk mengikir permukaan lempeng kuku asli secara agresif hingga terasa kasar agar bahan perekat dapat menempel dengan sempurna. Tindakan mekanis ini secara langsung menipiskan dan melemahkan struktur pelindung alami kuku. Selain itu, bahan kimia keras yang terkandung dalam monomer akrilik serta cairan pelarut aseton yang digunakan selama proses pelepasan (removal) membuat kuku kehilangan kelembapan alaminya, menjadikannya sangat kering, rapuh, dan rentan mengelupas selama berbulan-bulan berikutnya.
Asosiasi Dermatologi Amerika (AAD) memperingatkan bahwa penggunaan kuku buatan meningkatkan risiko onycholysis, kondisi di mana lempeng kuku terlepas dari dasar kuku akibat trauma mekanis harian seperti mengetik atau memasak. Celah mikro yang terbentuk menjadi sarang ideal bagi koloni jamur (onychomycosis) dan bakteri, sementara paparan akrilik dapat memicu alergi kontak berupa peradangan kulit di sekitar jari hingga kelopak mata.
Untuk meminimalkan dampak buruk tersebut, para dermatolog menyarankan agar penggunaan kuku buatan dibatasi hanya untuk momen-momen khusus, menghindari pemotongan kutikula secara berlebihan yang berfungsi sebagai pertahanan alami tubuh terhadap kuman, serta memberikan jeda waktu istirahat yang cukup bagi kuku asli agar dapat melakukan regenerasi secara optimal.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Viral Batik Pekalongan Jadi Polemik Netizen Indonesia Vs Malaysia dan artikel lainnya di rubrik BACAGAYA dan untuk informasi lebih lengkap mengenai kelas Yoga silahkan kunjungi akun Instagram Bacagaya





