Poin Penting:
- Jepang memperkenalkan istilah kokushobi setelah suhu di sejumlah kota melampaui 40°C sebagai peringatan bahaya gelombang panas ekstrem
- Gelombang panas menyebabkan ribuan warga dirawat di rumah sakit, ratusan mengalami serangan panas dalam sehari, dan memicu peringatan kapasitas ambulans
- Kampanye Tokyo Cool Biz yang mendorong pakaian kerja lebih santai memicu polemik, termasuk munculnya fenomena sunehara atau “pelecehan bulu kaki”
Bacaini.ID, KEDIRI – Jepang menghadapi gelombang panas paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir setelah suhu udara menembus 40 derajat Celcius. Kondisi tersebut mendorong Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkenalkan istilah baru kokushobi yang berarti ‘hari yang sangat panas’ atau ‘hari yang kejam’ sebagai peringatan terhadap bahaya panas ekstrem.
BACA JUGA: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Jadikan AC Produk Tiongkok Raja Pasar
Pemerintah metropolitan Tokyo juga telah melakukan kampanye ‘Tokyo Cool Biz’ sejak April, mendorong para pekerja kantoran, terutama pria berpakaian lebih casual tanpa lagi memakai setelan jas dan dasi, namun hal itu berujung polemik karena dianggap terlalu ‘vulgar’ karena berada dalam ruangan kantor dan membuat tidak nyaman para pekerja perempuan.
Gelombang Panas Picu Lonjakan Korban Serangan Panas
Tiga kota di wilayah Jepang tengah yakni Tajimi, Gujo, dan Toyoda, saat ini mencatat suhu yang menembus ambang batas 40 derajat Celcius. Kondisi cuaca panas ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga minggu depan. Peningkatan ini sejalan dengan tren kenaikan intensitas gelombang panas di seluruh dunia, di mana tahun lalu Jepang sempat mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah sebesar 41,8°C di kota Isesaki.
BACA JUGA: Heat Dome Kepung Eropa, 1.300 Orang Tewas Terpanggang Gelombang Panas
Jepang telah memiliki beberapa kategori suhu, mulai dari hari-hari dia atas 25°C, 30°C, hingga 35°C yang dikenal sebagai ‘moshobi’ atau ‘hari-hari yang sangat panas’. Dan kini, Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkenalkan istilah baru: kokushobi. Penggunaan prefiks ‘koku’ yang berarti keras atau kejam dipilih untuk menggambarkan tingkat panas yang jauh lebih ekstrem.
Berdasarkan laporan Kyodo News, hampir 300 dari 914 titik pengamatan di negara tersebut mencatat adanya ‘moshobi’ pada hari Selasa (21/7), sementara peringatan serangan panas telah dikeluarkan oleh pihak berwenang di lebih dari 40 prefektur.
Dampak dari gelombang panas ini langsung dirasakan pada sektor kesehatan. Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo melaporkan sebanyak 287 orang, yang berusia antara 3 hingga 103 tahun, harus dilarikan ke rumah sakit pada hari tersebut karena diduga mengalami serangan panas, menjadi jumlah tertinggi yang tercatat tahun ini menurut stasiun televisi nasional NHK yang dikutip oleh BBC.
Pihak pemadam kebakaran bahkan mengeluarkan peringatan kelebihan kapasitas ambulans dan mendesak masyarakat untuk menggunakan pendingin ruangan, minum cukup air serta garam, serta menghindari aktivitas luar ruangan yang berkepanjangan.
Data mingguan terbaru dari Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana menunjukkan dalam rentang waktu 6 hingga 12 Juli, terdapat 4.580 orang yang dirawat di rumah sakit dan tujuh orang meninggal dunia akibat serangan panas. Ancaman ini juga berdampak besar pada sektor tenaga kerja. Tahun lalu, jumlah pekerja yang menderita serangan panas mencapai rekor 1.803 orang, dengan 19 korban di antaranya meninggal dunia.
Sebagai langkah adaptasi menghadapi musim panas yang semakin terik dan krisis energi akibat ketidakstabilan di Timur Tengah, Pemerintah Metropolitan Tokyo menggalakkan kembali inisiatif pelonggaran berpakaian.
Tokyo Cool Biz Jadi Upaya Adaptasi Menghadapi Panas Ekstrem
Dilaporkan oleh BBC, Gubernur Tokyo Yuriko Koike memperkenalkan kampanye ‘Tokyo Cool Biz’ pada bulan April lalu, menyusul tradisi serupa yang pertama kali ia luncurkan sebagai menteri lingkungan hidup pada tahun 2005 (Cool Biz) dan pascagempa Tohoku 2011 (Super Cool Biz).
BACA JUGA: Kemarau Basah, Musim yang Membingungkan: Panas Tapi Hujan Deras
Melalui kebijakan baru ini, para pekerja kantoran didorong untuk meninggalkan setelan jas dan dasi konvensional, serta beralih ke pakaian yang lebih kasual seperti kaus, sepatu kets, dan celana pendek di tempat kerja. Kendati demikian, kebijakan memperbolehkan celana pendek di kantor ini menuai beragam tanggapan dan menjadi polemik.
Berdasarkan survei Gorilla Clinic pada bulan Juni, sebanyak 53,5% responden menentang penggunaan celana pendek untuk bekerja, sementara 46,5% mendukungnya. Penolakan tersebut bukan hanya berakar dari etiket kantor tradisional, namun juga memicu istilah online baru bernama ‘sunehara’ atau ‘pelecehan bulu kaki’.
Sejumlah perempuan pekerja kantoran mengeluhkan ketidaknyamanan karena terpaksa melihat bulu kaki rekan kerja pria, sementara di sisi lain para perempuan masih diharapkan mengenakan stoking di lingkungan kantor mereka.
Akibat kekhawatiran ini, semakin banyak pria Jepang yang mendatangi klinik kecantikan untuk melakukan perawatan penghilangan bulu kaki dengan laser demi menjaga etiket sosial.
Selain menyesuaikan pakaian kerja, masyarakat Jepang juga berbondong-bondong memanfaatkan berbagai gadget dan produk pendingin baru, seperti pakaian berpendingin kipas terintegrasi, handuk basah sekali pakai, payung pelindung UV dan panas, serta kipas angin tangan portabel.
Para ahli dari Jaringan Akademik Jepang untuk Pengurangan Bencana turut mengingatkan pentingnya proses aklimatisasi panas, mengingat tubuh manusia memerlukan waktu beberapa minggu untuk beradaptasi dengan suhu tinggi, terutama di tengah tingkat kelembapan Jepang yang tinggi, yang itu membuat keringat sulit menguap.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Daftar Gaya Kepemimpinan Lama yang Tak Disukai Gen Z dan artikel lainnya di rubrik INTERNASIONAL




