Poin Penting:
- Penelitian Savanna Theory of Happiness menemukan individu dengan kecerdasan tinggi cenderung tidak terlalu bergantung pada interaksi sosial yang sering untuk merasa bahagia
- Temuan tersebut tidak berarti orang cerdas tidak membutuhkan teman, melainkan lebih nyaman mengejar tujuan pribadi tanpa harus sering bersosialisasi
- Studi Harvard selama lebih dari 80 tahun menegaskan kualitas hubungan sosial tetap menjadi salah satu faktor utama kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang
Bacaini.ID, KEDIRI – Ungkapan bahwa orang cerdas cenderung lebih suka menyendiri sering beredar di media sosial. Klaim tersebut dikaitkan dengan penelitian tentang Savanna Theory of Happiness, namun benarkah orang dengan IQ tinggi memang tidak membutuhkan banyak teman?
Klaim tersebut juga kerap dipakai untuk menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri ketimbang berkumpul dengan orang banyak. Tidak begitu butuh berinteraksi dengan orang lain.
BACA JUGA: Mengenal Sapiosexual, Ketika Cerdas Mengubur yang Seksi dan Berduit
Salah satu penelitian yang paling sering dikutip berasal dari Norman P. Li dan Satoshi Kanazawa yang diterbitkan British Journal of Psychology pada 2016. Keduanya memperkenalkan konsep Savanna Theory of Happiness, sebuah teori yang mencoba menjelaskan bagaimana kebiasaan manusia modern masih dipengaruhi oleh kondisi kehidupan nenek moyang di masa lampau.
Mengenal Savanna Theory of Happiness
Teori ini berangkat dari gagasan bahwa manusia modern masih membawa karakteristik psikologis yang terbentuk saat nenek moyang hidup dalam kelompok kecil pemburu-pengumpul. Menurut Li dan Kanazawa, kepadatan penduduk yang tinggi dan terlalu banyak interaksi sosial dapat mengurangi tingkat kebahagiaan sebagian orang.
Dalam penelitian terhadap lebih dari 15.000 responden di Inggris, mereka menemukan bahwa secara umum orang merasa lebih bahagia ketika memiliki interaksi yang lebih sering dengan teman dekat. Namun, hubungan tersebut ternyata lebih lemah pada individu dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.
Temuan tersebut kemudian populer dengan klaim ‘semakin cerdas orang, semakin malas bertemu orang’, meskipun hasil penelitian tersebut banyak mendapatkan kritik dari para peneliti lain dan kesimpulan teori tidak sesederhana itu.
Yang ditemukan para peneliti adalah bahwa orang dengan kecerdasan lebih tinggi tampaknya tidak terlalu bergantung pada frekuensi interaksi sosial untuk merasa bahagia. Mereka tetap dapat memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, tetapi mungkin lebih nyaman menghabiskan waktu untuk bekerja, belajar, atau mengejar tujuan pribadi. Dengan kata lain, ‘tidak terlalu membutuhkan interaksi sosial yang intens’, bukan merasa ‘tidak membutuhkan teman’.
Sejumlah psikolog menilai teori tersebut terlalu bertumpu pada penjelasan evolusioner yang sulit dibuktikan secara langsung. Selain itu, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa kecerdasan menyebabkan seseorang lebih suka menyendiri. Faktor lain seperti kepribadian, pekerjaan, gaya hidup, dan budaya juga dapat memengaruhi preferensi seseorang dalam bersosialisasi.
Psikolog kepribadian umumnya menilai sifat introvert dan ekstrovert memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kebutuhan sosial dibanding tingkat kecerdasan semata.
Hubungan Sosial Tetap Penting untuk Kebahagiaan
Temuan dari Harvard Study of Adult Development yang telah berlangsung lebih dari 80 tahun justru menunjukkan bahwa hubungan sosial yang sehat merupakan salah satu faktor terpenting bagi kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang.
Namun, yang dimaksud bukan banyaknya jumlah teman, melainkan kualitas hubungan yang dimiliki. Seseorang dapat memiliki lingkaran pertemanan kecil, namun tetap merasa bahagia karena memiliki hubungan yang dekat dan bermakna.
Savanna Theory of Happiness tidak menyimpulkan bahwa orang cerdas tidak membutuhkan teman. Teori tersebut hanya menunjukkan bahwa sebagian orang dengan kecerdasan lebih tinggi mungkin tidak terlalu bergantung pada interaksi sosial yang sangat sering untuk memperoleh kepuasan hidup.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Tradisi Gotong Royong Nusantara: Jimpitan, Julu-Julu, Mapalus yang Masih Bertahan dan artikel lainnya di Rubrik BACA




