Bacaini.ID, KEDIRI – Pengamat politik Timur Tengah Hasibullah Satrawi mengingatkan para demonstran dan pengkritik pemerintah untuk meniatkan gerakan pada perbaikan bangsa. Jika tujuannya ingin merusak, dipastikan gerakan mereka akan ditinggalkan rakyat.
“Bermacam kritik yang sangat pedas itu, jangan sampai thrust defisit apa lagi menjadi disthrust. Kita tidak sedang berperang. Kita sedang peduli kepada republik. Kita sedang peduli kepada rakyat, tetapi kita juga ingin pemerintahan yang baik,” kata Satrawi dalam forum diskusi tentang arah gerakan mahasiswa di program Rakyat Bersuara yang ditayangkan di Inews.
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo ini juga mengingatkan, jika arah pergerakan adalah menciptakan ketidakpercayaan kepada pemerintah, maka hal itu dipastikan tidak akan mendapat dukungan dari rakyat.
Satrawi juga menjelaskan bahwa kebebasan berekspresi dan berpendapat yang saat ini dilakukan para aktivis, baik di forum bebas maupun media sosial, tak lepas dari iklim demokrasi yang dibangun pemerintah saat ini.
“Jika kita lihat negara tetangga, coba dicek, sosial medianya sebebas kita nggak. Ada kekurangan itu pasti, tapi jangan lupa keseimbangan dijaga. Indonesia punya keistimewaan,” katanya.
Satrawi juga mengajak peserta diskusi untuk melihat keaktifan Presiden Prabowo dalam konflik Timur Tengah, dimana hal itu tidak dilakukan oleh presiden sebelumnya. Namun sayangnya hal itu tidak bisa dijelaskan kepada publik dengan benar, karena kegagapan timnya.
Dalam hubungan luar negeri, Prabowo sudah cukup cerdik mensiasati situasi dunia yang serba tidak pasti. Keanggotaan BOP adalah cara untuk menghindari sikap agresif Presiden Amerika Donald Trump, tetapi di sisi lain Indonesia memberi bantuan kepada Palestina. “Sayangnya ada kelemahan dari sisi argumentasi timnya,” kata Satrawi.
Ia mencontohkan, saat ini publik disodori informasi jika Indonesia tidak berdaya sama sekali di hadapan Trump. Bahkan ada yang menyebut Prabowo hanyalah orang yang membawa map. Akhirnya isu keikutsertaan Indonesia dalam keanggotaan BOP menjadi olok-olok di dalam negeri.
Padahal fakta yang terjadi sangat berkebalikan. Menurut Satrawi, Presiden Prabowo juga melakukan manuver yang tidak dilakukan kepala negara lainnya, seperti menemui Presiden Rusia dan Presiden Tiongkok sekaligus. Dia ke Eropa, sekaligus juga ke Arab.
“Isu yang berkembang presiden hanya berguru kepada Trump. Lebih parah lagi seakan-akan Indonesia hanya mendukung Israel. Padahal itu jauh sekali,” kelas Satrawi.
Karena itu ia menyarankan kepada pemerintah untuk meningkatkan efektivitas dalam berkomunikasi, dengan menempatkan orang-orang yang tepat untuk berbicara. Sehingga argumentasi pemerintah bisa diterima oleh nalar publik dengan baik.
Akibatnya, setiap gagasan positif yang disampaikan Presiden tiba-tiba menjadi kehilangan ruh ketika menjadi sebuah kebijakan. Untuk itu ia menyarankan kepada Presiden untuk memperbaiki managerial timnya. Sebab meski memiliki postur yang gemuk, tetap tidak mampu menjembatani gagasan pemerintah dengan masyarakat.
“Mungkin presiden harus puasa dulu, perkuat aspek managerial timnya yang gemuk agar berjalan dan bekerja sesuai ide yang disampaikan. Ini pembuktian, tidak perlu retorika lagi,” pungkasnya.
Terakhir, Satrawi berharap agar Presiden bisa bersikap adil kepada seluruh rakyatnya, baik dari kalangan bawah, menengah, maupun atas. Sebab narasi yang sering disampaikan Presiden adalah mengutamakan keberpihakan kepada rakyat kecil, tetapi sinis kepada kelompok elit.
Penulis: Hari Tri Wasono




