Bacaini.ID, JEMBER – Program pemutaran film pelajar “Layar Siswa” menjadi salah satu upaya membangun ekosistem perfilman di Kabupaten Jember. Kegiatan yang digagas komunitas film pelajar itu kini mulai mendapat perhatian luas dari sekolah hingga orang tua siswa.
Ketua Panitia Layar Siswa, Bayu Pradana, mengatakan program tersebut bermula secara tidak sengaja saat dirinya mendapat tugas membuat film ketika duduk di semester enam kuliah. Film hasil tugas itu kemudian diputar di bioskop dan mendapat respons positif.
“Awalnya enggak sengaja. Saya bikin film tugas kuliah lalu coba ditayangkan di sini. Ternyata dengan kemampuan anak-anak yang apa adanya masih bisa memanjakan mata di layar lebar,” ujar Bayu saat ditemui Sabtu (30/5/2026)
Dari pengalaman itu, Bayu mulai melihat potensi besar karya film pelajar di Jember. Ia kemudian terinspirasi setelah mengikuti komunitas perfilman yang mengadakan pemutaran alternatif karya pelajar dari berbagai sekolah.
“Saya lihat karya pelajar Jember ternyata bagus-bagus. Saya pikir ini cocok kalau ditayangkan di bioskop,” katanya.
Layar Siswa pertama kali digelar dengan menayangkan empat film pelajar. Antusiasme penonton di luar perkiraan. Dua studio bioskop bahkan penuh hingga panitia harus menolak sebagian penonton yang ingin masuk.
“Waktu itu ramai sekali, sampai overload. Penontonnya dari jenjang SD, SMP sampai SMA,” ungkapnya.
Menurut Bayu, tujuan utama Layar Siswa bukan sekadar pemutaran film, melainkan membangun ekosistem perfilman di Jember yang dinilai masih minim ruang apresiasi dan diskusi.
Ia menyebut Jember sebenarnya memiliki sekolah perfilman, namun perkembangan ekosistem film lokal dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan.
“Banyak orang luar bilang Jember punya sekolah film, tapi ekosistemnya masih gini-gini saja. Nah, kami coba membangun itu pelan-pelan,” ujarnya.
Melalui program tersebut, Bayu juga ingin mengenalkan dunia perfilman sejak dini kepada anak-anak. Untuk peserta tingkat SD, pembelajaran lebih difokuskan pada seni peran dibanding teknis kamera.
“Kalau anak SD belum mungkin belajar kamera karena masih jauh dengan teknologi. Jadi kami masuk lewat seni peran dulu,” katanya.
Respons orang tua, lanjut Bayu, cukup positif. Dukungan keluarga dinilai penting agar anak-anak bisa berkembang di dunia perfilman, terutama terkait izin proses produksi film.
Menurutnya, kendala yang sering dihadapi pelajar SMA adalah keterbatasan izin syuting malam hari, padahal banyak adegan film membutuhkan pengambilan gambar pada malam hari.
“Kalau tanpa dukungan orang tua bakal susah. Anak-anak SMA sering terkendala izin syuting malam,” ucapnya.
Bayu menilai iklim perfilman di Jember masih membutuhkan banyak ruang putar dan forum diskusi. Ia mengaku persoalan itu juga sempat menjadi pembahasan bersama sineas dari Yogyakarta.
“Ruang putar karya anak-anak Jember masih minim. Forum sharing dan diskusi perfilman juga ada, tapi jarang sekali,” katanya.
Ke depan, Layar Siswa direncanakan tidak hanya menggelar pemutaran film di bioskop, tetapi juga roadshow ke sekolah-sekolah untuk memutar sekaligus mendiskusikan karya pelajar.
“Harapannya nanti sebelum acara utama, kami keliling ke sekolah-sekolah untuk memutarkan karya mereka lalu dievaluasi bersama supaya kualitasnya semakin baik,” ujarnya.
Pada gelaran terbaru, Layar Siswa menayangkan 10 film pilihan dari total 23 film yang masuk seleksi. Bayu mengatakan proses kurasi dilakukan untuk menjaga kualitas karya yang diputar di bioskop.
“Kami juga memberi evaluasi ke sekolah yang belum lolos supaya tahu kekurangannya di mana,” pungkasnya.(meg/ADV)




