Bacaini.ID, KEDIRI – Puluhan mantan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Kota dan Kabupaten Kediri menggelar sarasehan di kantor redaksi Bacaini.id, Jl Guyangan Paron, Ngasem, Kabupaten Kediri, Sabtu, 9 Mei 2026.
Diskusi ini menghadirkan Asjhari Madjid, alumnus GMNI Universitas Jember, sebagai pemantik. Dalam paparannya, Asjhari mengulas kembali sejarah lahirnya GMNI dari kongres ke kongres, yang menegaskan bahwa organisasi ini sejak awal berdiri berakar pada semangat nasionalisme dan marhaenisme.
“GMNI lahir dari rahim perjuangan, dari semangat kaum muda yang ingin menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Para alumni juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai nasionalisme sebagai perekat persatuan di tengah polarisasi politik dan derasnya arus globalisasi.
Nasionalisme, sebagaimana diajarkan Bung Karno, bukanlah chauvinisme sempit, melainkan cinta tanah air yang berlandaskan keadilan sosial. Sementara marhaenisme yang mengajarkan keberpihakan pada rakyat kecil semakin relevan di tengah ketimpangan ekonomi dan sosial.
“Marhaenisme adalah perjuangan untuk memberi tempat yang layak bagi kaum kecil, agar mereka tidak menjadi korban sistem yang menindas,” kata Asjhari mengutip pesan Bung Karno dalam forum itu.
Ia juga mengingatkan kembali bagaimana GMNI menjadi wadah kaderisasi mahasiswa yang berkomitmen pada cita-cita proklamasi. Dari kongres ke kongres, GMNI selalu menegaskan garis perjuangan yang berpihak pada rakyat.
Sejarah panjang itu, menurutnya, harus menjadi bahan refleksi generasi sekarang agar tidak tercerabut dari akar ideologi bangsa.
Diskusi yang juga dihadiri kader GMNI aktif dari berbagai perguruan tinggi di Kediri ini berkembang pada isu-isu aktual kebangsaan, mulai dari melemahnya solidaritas sosial, krisis moral politik, hingga tantangan ekonomi rakyat kecil. Para alumni menegaskan bahwa GMNI harus tetap menjadi rumah perjuangan, tempat kader belajar berpikir kritis sekaligus berani mengambil sikap.

Pertemuan alumni GMNI ini meneguhkan kembali komitmen bahwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti di kampus. Semangat juang tetap hidup dalam diri para alumni, yang kini berkiprah di berbagai bidang.
“Sekali GMNI tetap GMNI. Idealisme boleh diuji oleh zaman, tapi api juang tidak pernah padam,” kata Agus Edi Winarto, Ketua PA GMNI Kabupaten Kediri.
Dengan mengangkat kembali nilai nasionalisme dan marhaenisme, para alumni GMNI Kediri berharap generasi muda tetap menjadikan ajaran Bung Karno sebagai kompas perjuangan.
Penulis: Hari Tri Wasono





