Bacaini.ID, KEDIRI – Kostum badutnya sudah lusuh. Cat topengnya sering luntur oleh keringat dan debu jalanan. Tapi Satuan tetap tersenyum, bukan karena bahagia, melainkan karena itu bagian dari pekerjaannya. Ia tahu, anak-anak tak akan membeli balon dari wajah yang muram.
Di rumah kontrakannya, kehidupan jauh dari warna-warni balon. Istrinya, Sri Wahyuni, sering mengeluh tentang penghasilan yang tak cukup. Utang menumpuk, kebutuhan anak-anak tak terpenuhi. Pertengkaran menjadi rutinitas yang lebih sering dari makan malam.
Rabu pagi, 6 Mei 2026, sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh. Di rumah kontrakan Dusun Sumbertempur, Mojokerto, suara cekcok pecah. Satuan dan istrinya bertengkar hebat. Emosi yang menumpuk selama bertahun-tahun meledak.
Dalam amarah, ia membenturkan kepala istrinya ke lantai, lalu mengambil pisau dapur. Ketika darah mulai mengalir, ibu mertuanya, Siti Arofah, datang mencoba melerai. Tapi situasi sudah di luar kendali. Satuan menusuk dan menggorok leher sang mertua. Rumah yang dulu jadi tempat berteduh berubah menjadi lokasi tragedi.
Kronologi Tragedi
- Rabu pagi, 6 Mei 2026, sekitar pukul 07.30 WIB: Di rumah kontrakan Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Mojokerto, terjadi cekcok antara Satuan dan istrinya, Sri Wahyuni. Pertengkaran memuncak menjadi kekerasan. Satuan membenturkan wajah istrinya ke lantai dan menyayat lehernya dengan pisau dapur.
- Mertua datang: Siti Arofah (53), ibu Sri Wahyuni, masuk ke rumah dan memergoki aksi tersebut. Panik, Satuan langsung menyerang Siti dengan pisau, menusuk perutnya tiga kali dan menggorok lehernya dua kali. Siti tewas seketika di kamar kontrakan.
- Pelarian singkat: Setelah kejadian, Satuan kabur meninggalkan rumah dengan pakaian berlumuran darah. Tetangga menemukan kedua korban dan melaporkan ke polisi. Beberapa jam kemudian, Satuan ditangkap di Asemrowo, Surabaya.
- Pengakuan di polisi: Ia mengaku gelap mata karena tekanan ekonomi, rasa cemburu, dan merasa tidak dihargai sebagai suami. Meski demikian, ia menangis dan menyatakan masih mencintai istrinya.
Kisah Satuan adalah potret getir tentang bagaimana tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga bisa menghancurkan kehidupan. Kostum badut yang seharusnya membawa tawa justru menjadi simbol duka. Seperti tokoh Joker dalam film, Satuan adalah badut sedih yang akhirnya meledak dalam tragedi.
Senyum badut yang ia tampilkan hanyalah topeng untuk menutupi kenyataan pahit: penghasilan yang tak menentu, utang menumpuk, dan tuntutan gaya hidup istrinya yang dianggap terlalu tinggi. Dokumen keluarga bahkan digadaikan untuk menutup utang, membuat Satuan semakin tertekan.
Balada ini mengingatkan kita bahwa di balik wajah ceria yang kita lihat di jalanan, bisa saja tersimpan penderitaan yang tak terbayangkan. Satuan bukan hanya pelaku kriminal, ia juga cerminan rapuhnya manusia ketika beban hidup terlalu berat untuk ditanggung.
Penulis: Hari Tri Wasono





