Bacaini.ID, JAKARTA — Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam serangkaian aksi militer di laut. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global dan berpotensi berdampak langsung pada negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap harinya. Eskalasi konflik terbaru menyebabkan puluhan kapal tertahan, gangguan pengiriman, serta lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Konflik Berawal dari Operasi Militer
Krisis ini berakar pada serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilakukan pada 28 Februari 2026. Menanggapi serangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sempat menutup Selat Hormuz, menghentikan distribusi jutaan barel minyak per hari dan menciptakan tekanan besar pada pasokan energi dunia.
Upaya diplomasi sempat dilakukan pada awal April melalui perundingan yang dimediasi Amerika Serikat. Gencatan senjata sementara berhasil dicapai, namun tak berlangsung lama. Perundingan kembali menemui jalan buntu setelah Iran mengajukan tuntutan ekonomi dan pengelolaan tertentu di Selat Hormuz, yang ditolak Washington.
Iran pada 17 April sempat mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pengumuman tersebut membuat harga minyak global turun signifikan. Namun, hanya berselang sehari, Teheran kembali menyatakan penutupan selat sebagai respons terhadap blokade angkatan laut Amerika Serikat yang dinilai masih berlangsung.
Insiden Kapal Perdagangan
Ketegangan meningkat pada 19 dan 20 April dengan terjadinya sejumlah insiden keras di laut. Beberapa kapal komersial dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz.
Pada Sabtu (19/4), sebuah kapal tanker diserang kapal cepat IRGC. Di hari yang sama, sebuah kapal kontainer dilaporkan terkena proyektil dengan sumber tembakan yang belum dipastikan. Insiden paling serius terjadi keesokan harinya ketika kapal kontainer Touska ditembak oleh kapal perusak Amerika Serikat setelah dinilai mengabaikan peringatan radio. Kapal tersebut kemudian dikuasai dan diperiksa oleh pasukan AS.
Rangkaian kejadian ini memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah AS (WTI) naik hampir tujuh persen, sementara harga Brent melonjak lebih dari lima persen dalam satu hari perdagangan.
Puluhan Kapal Tertahan
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa selama sepekan terakhir sedikitnya 27 kapal telah dipaksa berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran. Kondisi ini membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari jalur Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan.
Iran merespons penyanderaan kapal Touska dengan peringatan akan mengambil langkah balasan, yang semakin memperbesar kemungkinan eskalasi militer terbuka di kawasan.
Pasar Energi Dunia Bergejolak
Ketegangan di Timur Tengah langsung tercermin pada pasar keuangan global. Harga minyak bergerak sangat fluktuatif, sementara pasar saham dunia cenderung melemah setiap kali muncul kabar insiden baru di Selat Hormuz.
Amerika Serikat berupaya meredam lonjakan harga dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan darurat, termasuk pelonggaran sanksi energi tertentu dan pemberian izin sementara kepada beberapa negara untuk mengamankan pasokan minyak alternatif.
Dampak ke Indonesia
Bagi Indonesia, situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Sebagai negara pengimpor minyak, gangguan pada jalur ini berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga energi domestik. Selain itu, meningkatnya aktivitas militer di Selat Malaka, yang merupakan jalur alternatif utama dikhawatirkan dapat memperparah gangguan distribusi.
Berdasarkan analisis terbaru, cadangan bahan bakar nasional diperkirakan hanya mencukupi kebutuhan sekitar tiga pekan dalam kondisi normal. Jika gangguan pengiriman berlanjut, tekanan terhadap cadangan energi nasional dapat mulai terasa dalam beberapa minggu ke depan.
Krisis Belum Menemukan Jalan Keluar
Hingga kini belum ada tanda-tanda penyelesaian konflik dalam waktu dekat. Amerika Serikat masih mempertahankan blokade laut, sementara Iran terus mengancam penutupan penuh Selat Hormuz.
Ketidakpastian ini membuat pasar energi global tetap berada dalam tekanan dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi negara-negara importir minyak. Pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, diminta bersiap mengantisipasi dampak lanjutan dari krisis geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda ini.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono





