Bacaini.ID, BLITAR – Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa menegaskan usulan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold 7 persen pada Pemilu 2029 bukan untuk mempersulit Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurutnya, sikap tersebut sudah menjadi konsistensi politik Nasdem sejak pertama kali mengikuti pemilu pada 2014
Usulan menaikkan ambang batas parlemen oleh Nasdem bukan untuk diarahkan kepada PSI. “Nggak ada diarahkan ke PSI,” tegas Saan Mustopa di sela ziarah di Makam Bung Karno di Kota Blitar Jawa Timur Selasa (3/3/2026).
Baca Juga:
- Tokoh Nasdem Ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar: Ingin Jalan Lurus dan Tangkap Spirit Nasionalisme
- Tanpa Wawali Blitar, Mas Ibin ‘Pamer’ 70 Prestasi di Refleksi 1 Tahun
Sikap Partai Nasdem terkait ambang batas parlemen 7 persen, kata Saan sudah berlangsung lama dan tidak pernah berubah. Dimulai sejak Pemilu 2014 berlanjut ke Pemilu 2019 dan Pemilu 2024.
Begitu juga pada Pemilu 2029 mendatang, Partai Nasdem ingin ambang batas parlemen dari 4 persen naik menjadi 7 persen. Menurutnya Nasdem memiliki sikap yang konsisten.
Partai Nasdem ingin adanya keselarasan antara sistem kenegaraan presidensial dengan keberadaan jumlah partai yang lebih sederhana. Bukan multipartai yang diistilahkannya berasa parlementer.
Karenanya Saan Mustopa menolak jika usulan ambang batas parlemen itu dikaitkan dengan PSI karena faktanya sudah disuarakan sebelum PSI lahir dan Partai Nasdem bertekad memperjuangkan usulannya di DPR.
“(Usulan ambang batas perlemen) Tidak ada kaitan dengan partai lain. Kita ingin sistem kenegaraan saling menopang,” paparnya.
Sementara dalam ziarah di Makam Bung Karno Kota Blitar, Saan Mustopa yang juga Wakil Ketua DPR RI melakukan doa tahlil bersama yang ditutup dengan tabur bunga.
Terlihat mendampingi Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, Wakil Wali Kota Blitar Elim Tyu Samba, dan Bupati Blitar Rijanto. Juga terlihat Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Blitar Nurhadi dan Ketua DPD Partai Nasdem Kota Blitar Komarudin.
Saan Mustopa mengatakan Bung Karno merupakan tokoh milik bangsa Indonesia, milik rakyat Indonesia, milik semua. Dalam kehidupan berbangsa spritnya harus terus dijaga dan dirawat.
Kehadirannya di makam Bung Karno, tambah Saan, juga dalam rangka menghormati, menghargai dan sekaligus mengapresiasi jasa-jasa besarnya bagi bangsa Indonesia.
“Nasionalismenya harus terus kita tumbuhkan terutama di kalangan anak muda,” pungkasnya.
Penulis: Solichan Arif





