• Login
Bacaini.id
Friday, February 27, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Setelah 783 Tahun, Sejarah Islam Kembali Bergema di Katedral Silves Portugal

Festival Al-Mutamid menghidupkan kembali Sejarah Islam di Portugal lewat kumandang adzan di Katedral Silves, simbol rekonsiliasi dan penghormatan terhadap warisan peradaban Muslim setelah 783 tahun

ditulis oleh Editor
27 February 2026 13:32
Durasi baca: 5 menit
Katedral Silves Portugal saat adzan dikumandangkan dalam Festival Al-Mutamid

Adzan kembali menggema di Katedral Silves, menghidupkan memori Sejarah Islam di Portugal yang telah terdiam selama 783 tahun (foto/ist)

Bacaini.ID, PORTUGAL – Suara adzan itu menggema pelan dari balkon Katedral Silves, Portugal. Di antara dinding batu tua bergaya gotik, lantunan panggilan salat itu terdengar syahdu—seolah membangunkan memori yang telah terlelap selama 783 tahun.

Sebuah rekaman video singkat itu mendadak jadi perbincangan hangat di media sosial setelah suara adzan terdengar dari balkon Katedral Silves, Algarve, Portugal. Sejarah Islam di Portugal tidak hanya dibicarakan, tapi juga dirayakan.

Momen itu merupakan bagian dari Festival Al-Mutamid, agenda budaya tahunan yang didedikasikan untuk mengenang kejayaan peradaban Muslim di Portugal. Kumandang adzan bukan sebagai ritual rutin, melainkan simbol rekonsiliasi—pengakuan bahwa identitas Portugal modern dibangun dari perjumpaan berbagai peradaban.

Baca Juga:

  • Empat Ormas Islam Terbesar di Indonesia, NU Nomor Satu
  • Tragedi Ratu Malang: Intrik Istana dan Titik Balik Amangkurat I di Mataram Islam

Adzan yang Menggetarkan Kota Tua Silves

Peristiwa berkumandangnya Adzan di Katedral Silves bukanlah penanda perubahan fungsi rumah ibadah, melainkan bagian dari Festival Budaya Al-Mutamid.

Festival ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan tiap musim panas dan dirancang untuk memperingati sejarah Islam di wilayah Algarve, khususnya di kota Silves yang dulunya bernama Xelb atau Shilb.

Secara historis, Silves jatuh ke tangan pasukan Kristen di bawah kepemimpinan Raja Dom Afonso III pada tahun 1242. Penaklukan ini menandai berakhirnya era kekuasaan Muslim di wilayah tersebut.

Katedral Silves sendiri dibangun tepat di atas situs yang dulunya merupakan Masjid Agung Silves. Setelah 783 tahun berlalu, otoritas setempat memutuskan untuk menghidupkan kembali ‘suara’ masa lalu tersebut.

Kumandang adzan yang hampir lima abad lamanya menyertai kota ini, dihidupkan lagi. Bukan sebagai ritual ibadah harian, melainkan bentuk pengakuan bahwa identitas Portugal modern dibangun di atas fondasi keberagaman budaya, termasuk warisan Islam.

Al-Mutamid dan Kerinduan pada Tanah Kelahiran

Nama festival ini diambil dari sosok Al-Mutamid bin Abbad (1040–1095), penguasa Muslim dari dinasti Abbadid.

Ia bukan sekadar raja. Ia adalah salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra Arab-Andalusia.

Al-Mutamid lahir di Silves ketika kota itu menjadi pusat intelektual yang menandingi kemegahan Baghdad di Timur.

Dalam catatan sejarah, Silves pada masa itu dikenal sebagai ‘kota para penyair dan ilmuwan’. Keindahan alam Silves dan keramahan penduduknya sering kali dituangkan Al-Mutamid dalam bait-bait puisi yang emosional.

Bahkan setelah ia kehilangan kekuasaannya dan dibuang ke Aghmat, Maroko, Al-Mutamid terus menulis tentang kerinduannya pada Silves.

‘Sampaikan salamku pada Silves’, tulisnya dalam salah satu puisinya yang paling terkenal: Kenangan akan Silves atau Qasida Silves dalam bahasa Arab.

​“Sampaikan salamku pada Silves, wahai saudaraku,
Tanyakan padaku apakah tempat-tempat indah itu masih merindukanku.

Salam untuk ‘Al-Qasr al-Mu’tadid’ (Istana yang indah),
Tempat di mana singa-singa mengaum dan para pejuang berkumpul…”

Festival ini merupakan cara Portugal menjawab kerinduan sang raja penyair setelah berabad-abad lamanya.

Festival Al-Mutamid: Mesin Waktu ke Abad Pertengahan

Festival Budaya Al-Mutamid mengubah wajah kota Silves menjadi sebuah souk sebutan lokal untuk pasar tradisional raksasa ala abad pertengahan.

Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan bangunan bersejarah, namun juga beragam pengalaman.

• Arsitektur dan Cahaya

Selama festival, benteng Silves yang terbuat dari batu pasir merah diterangi oleh ribuan lampu tradisional dan obor. Pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong sempit yang masih mempertahankan tata ruang kota Islam kuno.

• Musik dan Tarian Sufi

Alunan instrumen Oud (kecapi Arab) dan Ney (seruling bambu) memenuhi udara. Pertunjukan musik Andalusi yang merupakan perpaduan harmonis antara ritme Arab dan harmoni Eropa menjadi sajian utama. Seringkali, pertunjukan ini melibatkan penari darwis, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.

• Gastronomi ‘Moor’

Kuliner menjadi jembatan budaya yang paling kuat. Pengunjung dapat mencicipi hidangan yang menggunakan rempah-rempah yang diperkenalkan oleh bangsa Moor ke Portugal, seperti kunyit, kayu manis, dan ketumbar.

Manisan berbahan dasar almond dan buah ara yang sangat populer di Algarve hingga kini adalah warisan langsung dari era Al-Andalus.

Otoritas Portugal dan Gereja Katolik setempat mengizinkan adzan berkumandang di katedral, sesuai dengan konsep ‘Convivencia’ yang mereka anut, kehidupan berdampingan yang harmonis.

Portugal merupakan salah satu negara di Eropa yang sangat progresif dalam mengakui masa lalu Islamnya. Alih-alih menghapus jejak sejarah tersebut, pemerintah Portugal justru merangkulnya sebagai aset budaya dan pariwisata.

Mendengarkan adzan di tempat yang kini menjadi gereja dianggap bukan menjadi ancaman bagi keimanan siapapun.

Portugal dan Cara Elegan Merangkul Masa Lalu Islamnya

Pengaruh peradaban Muslim di Portugal tidak hanya berhenti pada festival setahun sekali. Jejaknya ada di mana-mana.

• Bahasa: Lebih dari 1.000 kata dalam bahasa Portugis berakar dari bahasa Arab. Kata-kata seperti almofada (bantal), azeite (minyak zaitun), dan arroz (nasi) misalnya.

• Arsitektur: Desain ubin keramik berwarna-warni yang dikenal sebagai Azulejos adalah adaptasi dari seni mosaik Islam. Selain itu, cerobong asap khas Algarve yang artistik merupakan warisan desain Moor.

• Sistem Pertanian: Bangsa Moor-lah yang memperkenalkan sistem irigasi canggih dan berbagai jenis tanaman buah ke Semenanjung Iberia, yang mengubah wilayah Algarve yang gersang menjadi kebun buah yang subur.

Secara ekonomi, Festival Al-Mutamid telah menempatkan Silves sebagai destinasi unggulan dalam peta wisata sejarah dunia. Ribuan turis dari seluruh Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara datang setiap tahun untuk menyaksikan harmoni unik ini.

Bagi para pelancong Muslim, destinasi ini menawarkan kenyamanan emosional karena merasa dihargai. Bagi turis non-Muslim, ini adalah edukasi berharga mengenai kontribusi peradaban Islam bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni di Barat.

Festival ini menjadi jembatan budaya yang menghubungkan dua benua, dua agama, dan dua masa dengan harmoni.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: sejarah islam portugal
Via: festival al-mutamid
Tags: adzan di Eropafestival al-mutamidportugalsejarah islamsilvestoleransiwisata sejarah dunia
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Suasana pertemuan pengruus DPK GMNI Kom FH Untag Surabaya dengan alumni.

Menjaga Arah Ideologi Organisasi, DPK GMNI Hukum Untag Surabaya Gelar Pertemuan Strategis dengan Alumni

Maling cerdik bobol Alfamart Pogalan Trenggalek dengan menjebol atap dan merusak CCTV sebelum menggasak uang Rp12 juta dari brankas

Maling Cerdik Gasak Rp12 Juta di Alfamart Trenggalek, Masuk Lewat Atap dan Hancurkan CCTV

Kota Atraktif 2026, DPRD Trenggalek Tekankan Pembangunan Inklusif dan Berdaya Saing

  • Pensiunan polisi di Blitar ditemukan tewas tergantung di gudang rumahnya

    Pensiunan Polisi di Blitar Tewas Tergantung di Gudang Rumah, Diduga Ada Masalah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Rusak Mulai Mulus di Kabupaten Blitar, Komitmen Rijanto-Beky Dikebut Bertahap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Efek Narkoba yang Picu AKBP Didik Kuncoro Lakukan Penyimpangan Seksual

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In