Bacaini.ID, PORTUGAL – Suara adzan itu menggema pelan dari balkon Katedral Silves, Portugal. Di antara dinding batu tua bergaya gotik, lantunan panggilan salat itu terdengar syahdu—seolah membangunkan memori yang telah terlelap selama 783 tahun.
Sebuah rekaman video singkat itu mendadak jadi perbincangan hangat di media sosial setelah suara adzan terdengar dari balkon Katedral Silves, Algarve, Portugal. Sejarah Islam di Portugal tidak hanya dibicarakan, tapi juga dirayakan.
Momen itu merupakan bagian dari Festival Al-Mutamid, agenda budaya tahunan yang didedikasikan untuk mengenang kejayaan peradaban Muslim di Portugal. Kumandang adzan bukan sebagai ritual rutin, melainkan simbol rekonsiliasi—pengakuan bahwa identitas Portugal modern dibangun dari perjumpaan berbagai peradaban.
Baca Juga:
- Empat Ormas Islam Terbesar di Indonesia, NU Nomor Satu
- Tragedi Ratu Malang: Intrik Istana dan Titik Balik Amangkurat I di Mataram Islam
Adzan yang Menggetarkan Kota Tua Silves
Peristiwa berkumandangnya Adzan di Katedral Silves bukanlah penanda perubahan fungsi rumah ibadah, melainkan bagian dari Festival Budaya Al-Mutamid.
Festival ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan tiap musim panas dan dirancang untuk memperingati sejarah Islam di wilayah Algarve, khususnya di kota Silves yang dulunya bernama Xelb atau Shilb.
Secara historis, Silves jatuh ke tangan pasukan Kristen di bawah kepemimpinan Raja Dom Afonso III pada tahun 1242. Penaklukan ini menandai berakhirnya era kekuasaan Muslim di wilayah tersebut.
Katedral Silves sendiri dibangun tepat di atas situs yang dulunya merupakan Masjid Agung Silves. Setelah 783 tahun berlalu, otoritas setempat memutuskan untuk menghidupkan kembali ‘suara’ masa lalu tersebut.
Kumandang adzan yang hampir lima abad lamanya menyertai kota ini, dihidupkan lagi. Bukan sebagai ritual ibadah harian, melainkan bentuk pengakuan bahwa identitas Portugal modern dibangun di atas fondasi keberagaman budaya, termasuk warisan Islam.
Al-Mutamid dan Kerinduan pada Tanah Kelahiran
Nama festival ini diambil dari sosok Al-Mutamid bin Abbad (1040–1095), penguasa Muslim dari dinasti Abbadid.
Ia bukan sekadar raja. Ia adalah salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra Arab-Andalusia.
Al-Mutamid lahir di Silves ketika kota itu menjadi pusat intelektual yang menandingi kemegahan Baghdad di Timur.
Dalam catatan sejarah, Silves pada masa itu dikenal sebagai ‘kota para penyair dan ilmuwan’. Keindahan alam Silves dan keramahan penduduknya sering kali dituangkan Al-Mutamid dalam bait-bait puisi yang emosional.
Bahkan setelah ia kehilangan kekuasaannya dan dibuang ke Aghmat, Maroko, Al-Mutamid terus menulis tentang kerinduannya pada Silves.
‘Sampaikan salamku pada Silves’, tulisnya dalam salah satu puisinya yang paling terkenal: Kenangan akan Silves atau Qasida Silves dalam bahasa Arab.
“Sampaikan salamku pada Silves, wahai saudaraku,
Tanyakan padaku apakah tempat-tempat indah itu masih merindukanku.
Salam untuk ‘Al-Qasr al-Mu’tadid’ (Istana yang indah),
Tempat di mana singa-singa mengaum dan para pejuang berkumpul…”
Festival ini merupakan cara Portugal menjawab kerinduan sang raja penyair setelah berabad-abad lamanya.
Festival Al-Mutamid: Mesin Waktu ke Abad Pertengahan
Festival Budaya Al-Mutamid mengubah wajah kota Silves menjadi sebuah souk sebutan lokal untuk pasar tradisional raksasa ala abad pertengahan.
Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan bangunan bersejarah, namun juga beragam pengalaman.
• Arsitektur dan Cahaya
Selama festival, benteng Silves yang terbuat dari batu pasir merah diterangi oleh ribuan lampu tradisional dan obor. Pengunjung dapat menyusuri lorong-lorong sempit yang masih mempertahankan tata ruang kota Islam kuno.
• Musik dan Tarian Sufi
Alunan instrumen Oud (kecapi Arab) dan Ney (seruling bambu) memenuhi udara. Pertunjukan musik Andalusi yang merupakan perpaduan harmonis antara ritme Arab dan harmoni Eropa menjadi sajian utama. Seringkali, pertunjukan ini melibatkan penari darwis, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.
• Gastronomi ‘Moor’
Kuliner menjadi jembatan budaya yang paling kuat. Pengunjung dapat mencicipi hidangan yang menggunakan rempah-rempah yang diperkenalkan oleh bangsa Moor ke Portugal, seperti kunyit, kayu manis, dan ketumbar.
Manisan berbahan dasar almond dan buah ara yang sangat populer di Algarve hingga kini adalah warisan langsung dari era Al-Andalus.
Otoritas Portugal dan Gereja Katolik setempat mengizinkan adzan berkumandang di katedral, sesuai dengan konsep ‘Convivencia’ yang mereka anut, kehidupan berdampingan yang harmonis.
Portugal merupakan salah satu negara di Eropa yang sangat progresif dalam mengakui masa lalu Islamnya. Alih-alih menghapus jejak sejarah tersebut, pemerintah Portugal justru merangkulnya sebagai aset budaya dan pariwisata.
Mendengarkan adzan di tempat yang kini menjadi gereja dianggap bukan menjadi ancaman bagi keimanan siapapun.
Portugal dan Cara Elegan Merangkul Masa Lalu Islamnya
Pengaruh peradaban Muslim di Portugal tidak hanya berhenti pada festival setahun sekali. Jejaknya ada di mana-mana.
• Bahasa: Lebih dari 1.000 kata dalam bahasa Portugis berakar dari bahasa Arab. Kata-kata seperti almofada (bantal), azeite (minyak zaitun), dan arroz (nasi) misalnya.
• Arsitektur: Desain ubin keramik berwarna-warni yang dikenal sebagai Azulejos adalah adaptasi dari seni mosaik Islam. Selain itu, cerobong asap khas Algarve yang artistik merupakan warisan desain Moor.
• Sistem Pertanian: Bangsa Moor-lah yang memperkenalkan sistem irigasi canggih dan berbagai jenis tanaman buah ke Semenanjung Iberia, yang mengubah wilayah Algarve yang gersang menjadi kebun buah yang subur.
Secara ekonomi, Festival Al-Mutamid telah menempatkan Silves sebagai destinasi unggulan dalam peta wisata sejarah dunia. Ribuan turis dari seluruh Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara datang setiap tahun untuk menyaksikan harmoni unik ini.
Bagi para pelancong Muslim, destinasi ini menawarkan kenyamanan emosional karena merasa dihargai. Bagi turis non-Muslim, ini adalah edukasi berharga mengenai kontribusi peradaban Islam bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni di Barat.
Festival ini menjadi jembatan budaya yang menghubungkan dua benua, dua agama, dan dua masa dengan harmoni.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





