Bacaini.ID, KEDIRI – Maldives atau Maladewa ternyata menjadi satu-satunya negara di dunia dengan penduduk 100 persen beragama Islam (Muslim).
Meski demikian negara yang identik dengan overwater villa dan resort mewah tetap digandrungi turis asing dari berbagai negara.
Baca Juga:
- Beda Liquor dan Liqueur yang Kerap Disalahpahami Penikmatnya
- Ritual Sakral Imlek yang Bikin Haru: Ada Kursi Kosong untuk Leluhur dan Ikan yang Tak Boleh Dihabiskan
- Kebiasaan Ganjil Soeprijadi di Pantai Serang Blitar, Bertapa di Laut Selatan hingga Tantang Mitos Ratu Kidul
Maladewa bukan sekadar destinasi bulan madu mewah dengan vila di atas air. Negara ini punya karakter yang sangat unik, mulai dari geografi fisiknya yang ekstrem hingga identitas budayanya yang sangat konservatif.
Negara ini memiliki kemiripan dengan Indonesia, berbentuk kepulauan dan terkenal dengan wisata alam. Tak hanya itu, nama mata uangnya pun mirip: rufiyaa.
Maladewa, Satu-satunya Negara 100% Muslim
Maladewa adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang menjadi Muslim sebagai syarat mutlak untuk menjadi warga negara.
Berdasarkan hukum setempat, warga negara Maladewa harus beragama Islam (Sunni). Praktik agama lain secara publik dilarang bagi warga lokal. Bagi warga Maladewa, Islam bukan sekadar pilihan keyakinan, melainkan identitas konstitusional.
Maladewa sebelumnya adalah kerajaan Buddha. Transformasi besar ini bermula pada tahun 1153 Masehi, ketika Raja Dhovemi meyakini Islam setelah terkesan oleh pengaruh para pedagang Arab dan ulama yang membawa pesan damai.
Legenda lokal menyebutkan peran Abul Barakat al-Barbari yang mengusir monster laut dengan bacaan Al-Qur’an.
Sejak saat itu, Maladewa berkembang menjadi pusat pembelajaran Islam di Samudra Hindia. Meskipun secara geografis terpencil, koneksi mereka dengan dunia Arab sangat kuat melalui jalur perdagangan rempah dan ikan.
Hal ini membentuk karakter masyarakat Maladewa yang sopan, menjunjung tinggi kekeluargaan, dan sangat religius.
Di setiap pulau yang berpenghuni, bangunan paling megah dan terjaga biasanya adalah masjid, yang menjadi pusat gravitasi kehidupan sosial warga.
Masjid ada di setiap sudut pulau, suara azan berkumandang serentak, dan toko-toko biasanya tutup sejenak saat waktu salat.
Di Maladewa, akhir pekan atau hari libur resmi jatuh pada hari Jumat dan Sabtu. Hari Minggu yang merupakan hari libur bagi sebagian besar warga dunia, adalah ‘hari Senin’ bagi masyarakat Maladewa, hari awal dimulainya aktifitas dalam seminggu.
Cara Maladewa Menjaga Nilai Islam Di tengah Bisnis Resort Mewah
Nilai Islam konservatif yang dijalankan oleh Maladewa, tidak menutup peluang bisnis nasional negara ini. Maladewa memiliki cara unik untuk tetap menjaga kearifan lokal ditengah masifnya kedatangan turis asing ke negara mereka.
Berbeda dengan Bali atau Phuket yang mengijinkan warga lokal dan turis untuk berbaur, Maladewa melakukan sebaliknya.
Pemerintah Maladewa memisahkan secara ketat antara Pulau Resort, yang dikhususkan untuk wisata, dan Pulau Lokal yang khusus untuk pemukiman warga.
Di Pulau Resort, alkohol dan makanan non-halal diizinkan untuk turis. Namun, di Pulau Lokal, alkohol sepenuhnya dilarang dan turis wajib berpakaian sopan dengan menutup bahu dan lutut apabila berkunjung.
Namun, sejak tahun 2009, pemerintah Maladewa mengizinkan pembangunan guesthouse di pulau-pulau berpenghuni.
Hal ini membuka mata dunia terhadap sisi asli Maladewa. Aturan Islam berlaku penuh, wisatawan harus berpakaian sopan, tidak ada alkohol, dan saat Ramadan, wisatawan dihimbau menghormati warga yang sedang berpuasa dengan tidak makan atau minum di area publik.
Interaksi ini menciptakan jembatan toleransi: wisatawan bisa melihat betapa hangatnya warga lokal saat mereka mengundang turis untuk ikut berbuka puasa bersama di rumah mereka.
Meskipun terdapat aturan ketat demikian, di Pulau Lokal terdapat Bikini Beach, satu-satunya area pantai yang mengijinkan turis asing boleh memakai pakaian renang minim. Di luar area tersebut, mereka harus menghormati norma lokal.
Ramadan di Maladewa, Tradisi ‘Roadha Mas’
Ramadan, atau yang secara lokal disebut Roadha Mas, merupakan momen paling transformatif di Maladewa. Jika di negara lain hiruk pikuk kota tetap berjalan meski sedikit melambat, di Maladewa, ritme hidup berubah total untuk menghormati bulan suci ini.
Menjelang Ramadan, warga Maladewa melakukan tradisi membersihkan rumah dan masjid secara gotong royong.
Salah satu tradisi unik yang masih bertahan adalah pembacaan puisi keagamaan dan persiapan makanan khas. Karena negara ini adalah negara kepulauan, menu berbuka puasa mereka sangat dipengaruhi oleh hasil laut.
Ikan tuna adalah ’emas’ bagi Maladewa. Saat berbuka puasa, meja makan warga lokal akan dipenuhi dengan aneka hidangan berbahan dasar ikan, terutama tuna.
Ikan tuna bagi warga Maladewa tidak hanya menjadi masakan untuk makan besar, namun juga bisa diubah menjadi kue khas Maladewa.
Pemerintah Maladewa biasanya secara resmi memangkas jam kerja selama Ramadan. Restoran di pulau-pulau lokal (non-resort) akan tutup sepanjang siang hari dan baru akan dibuka menjelang waktu berbuka.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





