Bacaini.ID, KEDIRI — Bagi masyarakat umum, Imlek identik dengan warna merah menyala, suara petasan yang memecah kesunyian, dan tarian Barongsai. Namun, bagi etnis Tionghoa, jantung dari perayaan ini sebenarnya terletak di atas meja makan: Tuan Yuan Fan, tradisi ‘makan besar’ atau makan bersama.
Tradisi ‘makan besar’ atau yang secara internasional dikenal sebagai Reunion Dinner (Tuan Yuan Fan), adalah momen paling sakral yang melampaui urusan perut.
Makan malam Imlek ini begitu krusial dengan menu yang ‘pakem’: disajikan hampir selalu sama setiap tahunnya. Filosofi yang terkandung dalam acara ‘makan besar’ ini sangat dalam, tidak hanya sekedar berkumpul dan makan bersama.
Berikut beberapa tradisi dalam Tuan Yuan Fan etnis Tionghoa yang penuh makna:
Baca Juga:
- Ini Hidangan Imlek yang Diyakini Bawa Keberuntungan
- Bulan Hantu Imlek: Waktunya Arwah Leluhur Turun ke Dunia
- Februari 2026 Langka: Tiga Momen Suci Datang Beruntun
Meja Bundar Simbol Keutuhan dan Ritual Pulang Kampung Etnis Tionghoa
Tradisi makan malam Imlek dilakukan pada malam sebelum hari H (malam Chuxi). Di Indonesia, momen ini sering kali menjadi alasan utama bagi para perantau untuk menembus kemacetan atau memesan tiket pesawat jauh-jauh hari. Ini adalah bentuk mudik versi masyarakat Tionghoa.
Acara ‘makan besar’ bersama semua anggota keluarga dilakukan di sebuah meja bundar dengan hidangan khas Imlek yang melimpah.
Keluarga Tionghoa lazimnya lebih memilih meja bundar (round table). Bukan tanpa alasan, meja bundar memiliki makna filosofis tersendiri.
Dalam budaya Tionghoa, bentuk bulat melambangkan Yuanman atau kesempurnaan dan keutuhan. Tidak ada sudut tajam, tidak ada yang duduk di ‘ujung’ lebih tinggi dari yang lain.
Semua orang yang duduk melingkar memiliki posisi yang setara, melambangkan persatuan keluarga yang tidak terputus.
Bagi banyak keluarga, meja makan adalah ruang diplomasi. Di sinilah orang tua memberikan restu, anak-anak menunjukkan bakti, dan perselisihan antar saudara sering kali mencair melalui tawaran lauk yang hangat.
Makan besar bukan sekadar mengunyah, melainkan momen untuk melakukan obrolan hangat, deep talk. Bertukar cerita tentang keberhasilan setahun lalu dan harapan untuk tahun depan.
Kuliner sebagai Doa Visual: Menu Wajib dan Maknanya
Dalam tradisi Tionghoa, makanan bukan hanya soal rasa, namun juga soal pelafalan (homofon) dan bentuk.
Berikut adalah deretan menu wajib di meja makan Imlek Indonesia dan makna filosofisnya:
• Ikan Utuh (Yu): Simbol Kelimpahan
Dalam bahasa Mandarin, kata ikan (Yu) terdengar sama dengan kata yang berarti ‘kelebihan’ atau ‘surplus’.
Menyajikan ikan secara utuh, dari kepala hingga ekor, melambangkan harapan agar rezeki di awal tahun hingga akhir tahun selalu bersisa untuk ditabung.
Di banyak keluarga, ikan tidak boleh dihabiskan dalam satu malam. Sebagian harus disisakan untuk dimakan esok hari, sebagai simbol bahwa keberuntungan tahun lalu terbawa ke tahun baru.
• Siu Mie: Mie Panjang Umur
Mie yang disajikan saat Imlek biasanya berukuran sangat panjang. Maknanya sederhana namun dalam: harapan akan umur yang panjang dan rezeki yang tidak terputus.
Ada ‘pantangan’ untuk tidak memotong atau menggigit mie hingga putus saat dimakan. Mie harus diseruput utuh sebagai simbol kesinambungan hidup.
• Ayam atau Bebek Utuh
Ayam atau bebek biasanya disajikan utuh dengan kepala dan kaki. Ini melambangkan keutuhan, kesetiaan, dan kemakmuran.
Secara historis, menyajikan daging utuh menunjukkan bahwa keluarga tersebut mampu menyediakan hidangan terbaik bagi anggota keluarganya setelah bekerja keras setahun penuh.
• Lapis Legit dan Kue Keranjang (Nian Gao)
Di Indonesia, Lapis Legit menjadi adaptasi budaya yang sangat kuat. Lapisan-lapisan kue ini melambangkan rezeki yang berlapis-lapis dan keberuntungan yang bertumpuk.
Sementara itu, Kue Keranjang yang lengket melambangkan keeratan hubungan antaranggota keluarga agar selalu ‘lengket’ dan harmonis.
Tradisi Yee Sang: Doa yang Dilambungkan
Khusus di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ada tradisi unik bernama Yee Sang atau Yu Sheng. Ini adalah salad ikan mentah yang dicampur dengan berbagai sayuran warna-warni.
Keluarga akan berdiri melingkar, memegang sumpit, lalu mengaduk dan mengangkat bahan makanan setinggi-tinggi mungkin, sambil meneriakkan doa-doa baik (Loh Hei).
Semakin tinggi bahan makanan diangkat, dipercaya semakin tinggi pula peluang doa tersebut dikabulkan. Ini adalah momen yang paling penuh tawa dan energi dalam makan malam Imlek.
Kursi Kosong: Penghormatan untuk Leluhur
Makan besar Imlek juga memiliki sisi spiritual yang menyentuh. Di beberapa keluarga tradisional, mereka masih menyiapkan kursi kosong atau piring tambahan di meja makan. Ini bukan tanpa alasan.
Kursi tersebut diperuntukkan bagi anggota keluarga yang telah tiada. Hal ini menunjukkan bahwa dalam budaya Tionghoa, kematian tidak memutuskan ikatan keluarga. Para leluhur tetap dianggap hadir dan ‘ikut merayakan’ kegembiraan anak cucunya.
Ini adalah pengingat bagi generasi muda tentang akar mereka (bakti atau Xiao).
Angpao: Penutup Manis yang Dinanti
Makan malam biasanya ditutup dengan pembagian Angpao dari mereka yang sudah menikah kepada yang belum menikah atau yang lebih muda.
Secara harfiah berarti ‘dompet merah’, Angpao bukan sekadar soal uang tunai. Warna merah melambangkan energi, keberuntungan, dan pengusir roh jahat.
Pemberian ini adalah simbol transfer energi positif dari orang tua kepada anak-anaknya, atau dari yang telah dewasa kepada yang lebih muda, agar mereka memulai tahun dengan perlindungan dan bekal yang cukup.
Makan besar Imlek merupakan ‘bahan bakar’ emosional bagi etnis Tionghoa untuk menghadapi tantangan setahun ke depan. Tradisi makan malam ini adalah cara keluarga Tionghoa merayakan kehidupan.
Di meja makan, perbedaan dikesampingkan, kasih sayang diprioritaskan, dan harapan baru dilangitkan bersama.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





