Bacaini.ID, KEDIRI – Erupsi Gunung Kelud berlangsung pada 13 Februari 2014. Di letusan termutakhir 12 tahun silam itu kubah atau anak Kelud yang mencuat sejak tahun 2008, lenyap. Hancur bersama semburan lava kemerahan.
Pukul 22.50 WIB, erupsi Kelud terlihat jelas. Dari belakang kantor Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, lava merah terlihat menyembur tinggi. Diiringi suara bergemuruh, terlontar ke udara berkali-kali.
Malam yang mencekam. Langit yang sebelumnya terang benderang oleh purnama, berangsur-angsur gelap. Ditutup material debu tebal vulkanis yang berarak-arak ditiup angin diiringi percikan arus listrik.
Baca Juga:
Di atas pematang sawah berdiri sekitar 12 orang laki-laki dewasa. Mereka tidak sesenti pun menggeser pandangan ke arah Utara. Terdengar lirih takbir dipanjatkan berkali-kali.
Sebelum debu hangat bercampur kerikil jatuh semakin deras, semuanya bergegas pergi. Sementara di jalan besar terlihat pemandangan hiruk pikuk. Jalan utama telah diblokade. Semua yang hendak ke Utara distop.
Seperti diketahui, sebagian besar wilayah Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar merupakan zona merah. Zona rawan. Malam itu sebagian besar warga dievakuasi ke arah selatan, menjauhi Nglegok.
Dampak erupsi Kelud, Kediri lebih parah dari Blitar
Di wilayah Blitar Raya, hujan abu akibat erupsi Kelud berhenti sekitar pukul 02.30 WIB dini hari atau 14 Februari 2014. Abu bertebaran di atas genting-genting rumah warga, namun tipis.
Begitu juga di jalan-jalan Blitar Raya. Debu Kelud yang bertebaran tidak tebal. Disapu guyuran hujan sehari pasca erupsi, abu vulkanis di jalan-jalan raya relatif bersih.
Pemandangan berbeda terlihat di Kediri Raya. Jalan Dhoho Kota Kediri berubah menjadi lautan pasir berhari-hari. Debu Kelud juga menebal di genting dan atap rumah warga.
Saat hujan mengguyur banyak atap rumah warga di Kediri yang ambrol karena tidak mampu menahan beban. Air membuat abu vulkanis semakin berat.
Banyak yang membandingkan erupsi Gunung Kelud pada 13 Februari 2014 lebih dahsyat ketimbang letusan tahun 1990.
Namun dampak kerusakan yang terjadi di Kediri lebih parah ketimbang Blitar, dan itu baru pertama kali terjadi dalam sejarah erupsi Kelud.
Pada erupsi 2014 dampak parah juga terjadi di wilayah Yogyakarta. Informasi warga, hujan abu di Yogyakarta dan sekitarnya berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB pagi.
Tebalnya hujan abu membuat jarak pandang pengendara motor dan mobil hanya sekitar 3-5 meter. Tebalnya abu vulkanik Kelud membuat sejumlah tempat wisata di Yogyakarta ditutup.
Jalan Malioboro ditutup. Kawasan Candi Borobudur dan Candi Prambanan ditutup. 7 bandar udara di Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap dan Bandung, juga ditutup.
Penutupan bandar udara mengakibatkan kerugian material miliaran rupiah. Belum lagi kerusakan di kawasan pertanian dan peternakan. Sebanyak 12.304 bangunan, termasuk rumah warga rusak.
Erupsi pada 13 Februari 2014 terjadi di saat Gunung Kelud menjadi perebutan antara Pemkab Blitar dengan Pemkab Kediri. Terjadi sengketa sengit 2 pemerintah daerah.
Masalah dipicu oleh terbitnya SK Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang menyatakan Gunung Kelud masuk wilayah Kabupaten Kediri. Milik Kediri. Pemkab Blitar menggugat ke PTUN.
Belakangan sengketa yang hingga dibawa sampai pusat itu diberi putusan status quo. Artinya Gunung Kelud bukan milik Blitar maupun Kediri.
Yang menarik, sengketa Kelud itu sempat menimbulkan pro kontra di media sosial dan dikaitkan dengan dampak parah erupsi yang menimpa Kediri dan Yogyakarta.
Konon, penandatanganan SK Gubernur Jawa Timur terkait status Kelud sebagai milik Kediri dilakukan di Yogyakarta.
Pada sisi lain, sejumlah orang melihat erupsi dengan sudut pandang lain. Sudut pandang kearifan lokal. Bahwa erupsi Kelud yang terjadi bukan bencana.
“Tapi Gunung Kelud sedang bagi-bagi pupuk. Sedang berbagi kesuburan. Karenanya abu Kelud menyebar di mana-mana,” katanya.
Penulis: Solichan Arif





