Bacaini.ID, KEDIRI – Olimpiade Musim Dingin Milano, Cortina 2026 dipastikan menjadi edisi paling unik dan menantang dalam sejarah. Ajang ini digelar secara paling tersebar di berbagai kota Italia Utara, termasuk Milan, Cortina d’Ampezzo, Valtellina, Val di Fiemme, hingga Verona.
Informasi resmi menyebut bahwa venue-venue tersebut membentang di berbagai wilayah pegunungan Alpen dan menjadi edisi dengan penyebaran lokasi terjauh sepanjang sejarah Olimpiade Musim Dingin.
Model penyelenggaraan multikota ini tidak hanya menantang atlet dunia, tetapi juga membuka peluang bagi negara-negara nontradisional, termasuk Indonesia, untuk memahami dinamika logistik, adaptasi iklim, dan persiapan teknis untuk tampil di event olahraga musim dingin terbesar di dunia.
Ajang Paling Tersebar dan Paling Kompleks dalam Sejarah
Dengan empat kluster utama penyelenggaraan dan jarak lokasi yang mencapai ratusan kilometer, Olimpiade Musim Dingin 2026 dikenali sebagai event paling luas secara geografis dalam sejarah penyelenggaraannya. Venue tersebut membentang dari pusat kota Milan hingga kawasan Alpen yang ekstrem seperti Cortina dan Valtellina.
Ini menjadi tantangan besar dalam mobilitas atlet, akurasi jadwal, hingga distribusi ofisial olahraga seluruh dunia. Mengutip dari aljazeera.com, struktur penyelenggaraan ini menjadi yang paling tersebar dalam sejarah Winter Games.
Tantangan dan Peluang untuk Atlet Indonesia
Adaptasi Iklim Ekstrem
Indonesia tidak memiliki iklim salju, sehingga tantangan pertama bagi atlet Indonesia adalah adaptasi terhadap suhu ekstrem pegunungan Alpen. Dengan venue tersebar yang mencakup berbagai ketinggian, adaptasi ini akan sangat menentukan performa.
Potensi Cabang Olahraga yang Lebih Terjangkau
Sejumlah cabang di Olimpiade Musim Dingin bisa diakses di fasilitas ice rink dalam ruangan di Indonesia, seperti:
- Short Track Speed Skating
- Figure Skating
- Ice Hockey (masih tahap komunitas)
Pengembangan Atlet Muda Indonesia
Indonesia memiliki potensi besar melalui atlet muda berbakat yang dapat mulai dilatih secara sistematis. Ajang Milan–Cortina dapat menjadi laboratorium observasi untuk mempelajari bagaimana negara lain membina atlet mereka di iklim dingin dan bagaimana program latihan lintas benua dijalankan.
Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai keterlibatan atlet Indonesia di Olimpiade 2026, peluang tetap terbuka melalui:
- Wildcard IOC untuk negara berkembang
- Kerja sama latihan dengan negara beriklim dingin
- Program pemusatan latihan di luar negeri
- Pemanfaatan ice rink nasional untuk pembinaan simultan
Olimpiade 2026 juga menghadirkan peluang studi lapangan mengenai bagaimana tuan rumah menggunakan venue tersebar secara efisien, termasuk beberapa venue legendaris di kawasan Alpen yang kembali dipakai untuk kompetisi internasional.
Penulis: Hari Tri Wasono





