Bacaini.ID, JAKARTA – Pensiun sering dipersepsikan sebagai fase berhenti. Padahal, bagi banyak warga kota, justru di sanalah dimulai kegelisahan baru: pengeluaran yang terus berjalan, rumah yang makin sunyi, dan kehidupan yang semakin mahal untuk sekadar dipertahankan.
Di kota-kota besar, masa pensiun kerap berarti tetap membayar mahal untuk hidup yang semakin sempit. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menjadi contoh yang jarang disorot. Rumah tinggal dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) menengah ke atas dapat dikenai PBB jutaan hingga puluhan juta rupiah per tahun—meski tidak lagi produktif secara ekonomi dan hanya dihuni satu keluarga kecil.
Dalam rentang 15–20 tahun masa pensiun, angka itu dapat berubah menjadi ratusan juta rupiah, hanya untuk mempertahankan alamat, bukan kualitas hidup.
Di sisi lain, muncul imajinasi alternatif tentang masa pensiun—hidup yang lebih tenang, sadar lingkungan, dan bermakna. Gambaran ini sering dilekatkan pada figur publik seperti Dian Sastro, bukan karena status selebritasnya, melainkan karena narasi hidup yang ia wakili: sederhana, reflektif, dekat dengan alam, dan berjarak dari hiruk-pikuk kota.
Pertanyaannya: bagaimana jika imajinasi semacam itu tidak berhenti sebagai gaya hidup personal, tetapi menjadi pilihan kolektif para pensiunan kota?
Desa sebagai Ruang Hidup Baru
Pensiun di desa kerap dianggap sebagai bentuk “mundur”. Padahal, jika dilihat lebih dekat, justru sebaliknya: ia adalah langkah rasional untuk menghentikan kebocoran biaya hidup dan mengubah aset pasif menjadi sumber kehidupan.
Di desa, beban PBB jauh lebih rendah. Tanah tidak sekadar menjadi objek pajak, tetapi ruang produktif: menanam padi untuk konsumsi sendiri, kebun sayur untuk kebutuhan harian, kolam ikan, ternak ringan, serta pemanfaatan energi matahari dan air hujan. Biaya hidup menurun drastis, sementara kualitas hidup meningkat.
Model ini bukan romantisme pedesaan. Ia telah lama dipraktikkan dalam berbagai bentuk pertanian berkelanjutan dan sistem pangan lokal. Yang membedakan adalah aktor utamanya: para pensiunan kota dengan pengalaman, pengetahuan, dan waktu.
Ketahanan Pangan dari Skala Rumah Tangga
Ketahanan pangan sering dibahas dalam kerangka besar—produksi nasional, impor, dan cadangan negara. Namun, fondasi paling dasar justru berada di tingkat rumah tangga.
Jika satu keluarga pensiunan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pangannya sendiri, maka tekanan terhadap pasar pangan berkurang. Jika ribuan keluarga melakukan hal serupa, dampaknya menjadi signifikan. Ketahanan pangan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem industri besar, tetapi tumbuh secara organik dari desa ke desa.
Model ini tidak menuntut tenaga kerja berat atau intensifikasi berlebihan. Sebaliknya, sistem yang berkelanjutan justru dirancang agar rendah perawatan, memanfaatkan siklus alam, dan minim limbah.
Menggerakkan Ekonomi Desa Tanpa Eksploitasi
Kekhawatiran bahwa urbanisasi balik ke desa akan mengganggu tatanan lokal sering muncul. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa kehadiran pensiunan kota justru dapat menjadi stimulus ekonomi yang sehat.
Pensiunan membawa konsumsi stabil, bukan spekulatif. Mereka menggunakan jasa tukang lokal, membeli bibit dari petani setempat, mempekerjakan tenaga desa secara wajar, dan membelanjakan uangnya di ekonomi lokal. Perputaran ini tidak menciptakan lonjakan harga tanah yang agresif, tetapi memperkuat ekonomi desa secara perlahan dan berkelanjutan.
Transfer Pengetahuan yang Sunyi tapi Penting
Aspek yang paling jarang dibahas adalah knowledge transfer. Para pensiunan kota membawa pengalaman panjang di bidang manajemen, pendidikan, teknologi, kesehatan, hukum, dan organisasi. Pengetahuan ini tidak perlu ditransfer lewat program formal. Ia mengalir melalui interaksi sehari-hari—pendampingan usaha kecil, diskusi santai, atau sekadar memberi contoh hidup terencana.
Dalam jangka panjang, ini membentuk modal sosial yang sulit digantikan oleh proyek pembangunan jangka pendek.
Slow Living sebagai Pilihan Rasional
Slow living sering disalahpahami sebagai kemewahan. Padahal, bagi usia senja, ia adalah strategi hidup yang masuk akal. Aktivitas fisik ringan, keterhubungan dengan alam, dan rasa memiliki tujuan terbukti meningkatkan kualitas hidup lansia secara signifikan.
Di desa, waktu tidak lagi dikejar, tetapi dihayati. Pensiun tidak menjadi masa menunggu, melainkan fase merawat—tanah, relasi, dan pengetahuan.
Lebih dari Sekadar Pilihan Individu
Jika semakin banyak pensiunan kota memilih jalan hidup ini, dampaknya melampaui ranah personal. Kota menjadi lebih ringan bebannya, desa memperoleh energi baru, dan ketahanan pangan tumbuh dari bawah. Tanpa slogan, tanpa baliho, tanpa anggaran besar.
Mungkin, masa depan Indonesia yang lebih seimbang tidak selalu dibangun oleh mereka yang sedang berlari paling cepat, tetapi oleh mereka yang sudah selesai mengejar—dan memilih untuk merawat.
Tim Riset Bacaini.ID telah menyiapkan beberapa skema rasional yang bisa dilakukan jika menginginkan pulang kampung. Berikut beberapa pilihan yang bisa kamu ambil:
Skema Lahan 5 Hektar

Sistem Terpadu Padi – Ikan

Sayuran Organik

Kebun Buah Terpadu

Tanaman Obat Keluarga

Peternakan Sapi dan Kambing

Peternakan Unggas

Kolam Ikan

Lahan Pakan

Rumah Ramah Lingkungan

Sistem Energi Terbarukan

Hutan Mini

Sistem Air Irigasi

Penulis : Danny Wibisono





