Bacaini.ID, JAKARTA – Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali memberikan pernyataan mengejutkan terkait potensi politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2029. Dalam podcast Gaspol yang tayang 22 Januari 2026, Ahmad Ali menyatakan bahwa Gibran berpotensi menjadi penantang serius bagi Presiden Prabowo Subianto.
Timing Kontroversial di Tengah Konsolidasi Pemerintahan
Pernyataan Ahmad Ali ini muncul di saat yang cukup sensitif – tepat ketika pemerintahan Prabowo-Gibran genap berusia 15 bulan sejak dilantik pada Oktober 2024. Saat Presiden Prabowo sedang fokus mengejar realisasi program-program ambisius yang dijanjikan selama kampanye 2024, seperti program makan siang gratis, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Hilirisasi dan Peningkatan Program Pendidikan dan berbagai reformasi struktural lainnya.
Yang menarik, pernyataan ini justru datang dari Ahmad Ali yang merupakan pengurus DPP PSI dimana adik kandung Wakil Presiden Gibran sendiri menjadi Ketua Umum PSI. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah PSI – partai yang dipimpin keluarga Gibran – sudah mulai mempersiapkan strategi politik jangka panjang untuk 2029, bahkan sebelum pemerintahan saat ini menyelesaikan agenda prioritasnya.
Modal Politik Strategis Gibran
Ahmad Ali menilai Gibran memiliki modal politik yang tidak dimiliki banyak tokoh seusianya. Pada 2029 mendatang, Gibran akan berusia 42 tahun – usia yang relatif muda dalam kancah politik nasional, namun sudah memiliki pengalaman strategis sebagai Wakil Presiden selama lima tahun.
“Gibran adalah kompetitor yang cukup kuat karena memiliki modal politik dan pengalaman strategis yang tidak dimiliki tokoh muda lainnya,” ujar Ahmad Ali.
Keunggulan Pengalaman Eksekutif
Ketua Harian PSI ini menekankan bahwa pengalaman eksekutif Gibran sebagai mantan Wali Kota Solo menjadi pembeda utama dibandingkan tokoh muda lain seperti:
- Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) – belum pernah menjabat sebagai kepala daerah
- Muhaimin Iskandar (Cak Imin) – tidak memiliki pengalaman setingkat wali kota sebelum terjun ke panggung nasional
“Pengalaman sebagai wali kota yang dipilih rakyat memberikan Gibran keunggulan dalam memahami tata kelola pemerintahan eksekutif,” tambah Ahmad Ali.
Sinyal Politik Dini atau Strategi Jangka Panjang?
Munculnya wacana kompetisi 2029 di tengah masa konsolidasi pemerintahan menimbulkan pertanyaan tentang soliditas koalisi Prabowo-Gibran. Apakah ini merupakan sinyal bahwa PSI sudah mulai memposisikan diri secara independen, ataukah bagian dari strategi politik jangka panjang untuk memperkuat posisi Gibran?
Beberapa pengamat politik menilai timing pernyataan ini kurang tepat, mengingat Presiden Prabowo masih dalam fase kritis menjalankan program-program prioritas seperti:
- Realisasi program makan siang gratis yang baru dimulai
- Percepatan pembangunan IKN yang masih menghadapi berbagai tantangan
- Reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi
- Stabilisasi ekonomi pasca pandemi
- Realisasi Hilirisasi Sektor SDA
Independensi Politik sebagai Nilai Tambah
Ahmad Ali juga menyoroti posisi Gibran yang relatif independen secara politik dan tidak terlalu terikat dengan struktur partai tertentu. Kondisi ini dianggap sebagai nilai tambah di mata pemilih, khususnya generasi muda yang cenderung pragmatis dalam memilih pemimpin.
Bahkan Ahmad Ali mempertanyakan retoris: “Apakah ada calon presiden yang lebih baik dari Gibran saat ini?” – menunjukkan keyakinannya terhadap potensi besar Gibran sebagai calon kuat di masa depan politik Indonesia.
Implikasi untuk Stabilitas Koalisi
Pernyataan Ahmad Ali ini berpotensi menciptakan dinamika baru dalam hubungan internal pemerintahan. Meskipun secara formal Gibran masih menjadi mitra Prabowo, sinyal politik dari keluarga dan partai pendukungnya menunjukkan adanya ambisi politik yang lebih besar.
Hal ini juga mengindikasikan bahwa meskipun pemerintahan baru saja genap setahun, kalkulasi politik untuk kontestasi 2029 sudah mulai dimainkan oleh berbagai pihak. PSI, sebagai partai yang dipimpin keluarga Gibran, tampaknya tidak ingin terlambat dalam mempersiapkan strategi politik jangka panjang.
Tantangan Fokus Pemerintahan
Di sisi lain, munculnya wacana kompetisi politik 2029 di tengah masa kritis pemerintahan menimbulkan kekhawatiran tentang fokus eksekutif. Saat Presiden Prabowo sedang berupaya keras merealisasikan janji-janji kampanye yang ambisius, spekulasi politik internal berpotensi mengalihkan perhatian dari agenda prioritas pembangunan.
Program-program strategis seperti makan siang gratis, yang baru dimulai implementasinya, membutuhkan koordinasi penuh antara presiden dan wakil presiden. Munculnya sinyal kompetisi politik dini berpotensi mengganggu sinergi yang dibutuhkan untuk kesuksesan program-program tersebut.
Pernyataan Ahmad Ali ini memberikan gambaran bahwa dinamika politik menjelang 2029 akan semakin menarik, dengan kemungkinan munculnya persaingan ketat antara incumbent Prabowo Subianto dan figur muda seperti Gibran yang memiliki modal politik strategis. Namun, timing pernyataan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang prioritas politik versus fokus pemerintahan di masa kritis konsolidasi kebijakan.
Penulis: Danny Wibisono





