Bacaini.ID, KEDIRI — Ungkapan life begins at 40, hidup dimulai di usia 40, kerap dipahami sebagai titik balik kehidupan: lebih tenang, lebih sadar, dan lebih jujur pada diri sendiri.
Secara psikologis, ungkapan hidup dimulai di usia 40 bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan cerminan dari transisi mental dan emosional yang signifikan.
Psikolog ternama Carl Jung menyatakan bahwa usia 40 adalah masa transisi dari ‘pagi hari’ ke ‘siang hari’ kehidupan.
Sebelum usia 40, individu sibuk membangun ego, mengejar karier, dan memenuhi ekspektasi sosial. Sedangkan setelah usia 40, seseorang mulai berhenti peduli pada standar orang lain dan mulai mencari makna hidup yang sebenarnya.
Pemahaman yang sama juga sering muncul dalam pembahasan kehidupan seksual. Banyak orang berpendapat bahwa usia 40-an sebagai fase paling memuaskan dalam urusan ranjang, khususnya bagi perempuan.
Bagi banyak perempuan, usia 40-an justru menjadi periode ketika kepuasan meningkat, meski frekuensi bisa menurun. Sementara pada laki-laki, pola yang muncul cenderung berbeda.
Baca Juga: Benarkah Seks Rutin Bikin Lebih Sehat? Simak Penjelasan Ilmiahnya
Perempuan dan Kepuasan Seksual di Usia Matang
Sejumlah studi menemukan bahwa kepuasan seksual perempuan sering meningkat pada usia 40–50-an.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sex Research (JSR) menunjukkan bahwa banyak perempuan melaporkan pengalaman seksual yang lebih konsisten dan memuaskan di usia paruh baya dibandingkan masa muda.
Faktor penentunya bukan semata hormon, melainkan perubahan psikologis yang signifikan. Di usia ini, perempuan lebih mengenal tubuhnya sendiri.
Memiliki pengalaman dalam kehidupan seksual selama bertahun-tahun juga membantu perempuan memahami apa yang memberi kenikmatan dan apa yang tidak.
Selain itu, di usia yang telah matang, perempuan memiliki keberanian untuk mengomunikasikan kebutuhan seksual mereka secara gamblang, tak lagi malu-malu seperti saat masih usia 20-an.
Banyak perempuan tidak lagi merasa perlu hanya menyenangkan pasangan saja, namun ia juga merasa memiliki hak yang sama untuk disenangkan.
Di usia ini, perempuan cenderung lebih terbuka pada apa yang mereka inginkan untuk urusan ranjang. Penelitian dari University of Texas juga menyoroti peran kepercayaan diri dan penerimaan tubuh.
Di usia 40-an, kecemasan soal penampilan dan penilaian pasangan cenderung menurun. Perempuan menjadi lebih terlibat dalam pengalaman intim alih-alih sibuk menilai diri sendiri, karena telah nyaman dan bisa menerima tubuhnya sendiri.
Kondisi mental inilah yang berkontribusi besar pada kualitas pengalaman seksual.
Baca Juga: Memoar Aurelie Moeremans Viral, Alasan Ilmiah Korban Child Grooming Baru Sadar Saat Dewasa
Peran Psikologi: Otak Lebih Tenang, Seks Lebih Nyata
Psikologi seksual menempatkan kesehatan mental dan emosi sebagai faktor kunci kepuasan seksual, terutama pada perempuan.
Seks bukan hanya respons biologis, melainkan pengalaman yang sangat dipengaruhi pikiran. Ketika tekanan sosial, rasa malu, dan kecemasan berkurang, tubuh merespons dengan lebih optimal.
Dalam psikologi, usia 40-an sering dipahami sebagai fase rekonsiliasi diri. Carl Jung menyebut paruh kedua kehidupan sebagai masa pergeseran fokus dari pencapaian eksternal menuju integrasi batin.
Pada fase ini, tiap ndividu cenderung lebih jujur pada keinginan terdalamnya, termasuk dalam relasi intim.
Perubahan orientasi ini membuat seks tidak lagi menjadi arena pembuktian atau kewajiban relasional, melainkan ruang koneksi dan kesadaran.
Jadi jika banyak perempuan menyebut usia 40-an sebagai periode ‘kebangkitan seksual’ mereka, hal ini adalah wajar.
Bagaimana dengan Laki-laki? Biologi Menurun, Kualitas Bisa Naik
Berbeda dengan perempuan, pola seksual laki-laki lebih kuat dipengaruhi faktor biologis. Testosteron umumnya mencapai puncak di usia 20–30-an dan menurun perlahan setelah 35–40 tahun.
Dampaknya bisa berupa penurunan libido atau perubahan respons ereksi. Namun, penurunan biologis ini tidak otomatis berarti kualitas seks memburuk.
Laporan dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa banyak laki-laki usia 40-an justru mengalami pergeseran fokus dari performa ke kedekatan emosional.
Tekanan untuk selalu ‘tampil maksimal’, gairah yang menggebu berkurang, digantikan oleh komunikasi dan keintiman yang lebih dalam.
Dengan kata lain, pada laki-laki kepuasan seksual di usia matang sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri dan adaptasi psikologis.
Laki-laki yang mampu melepaskan standar performa masa muda cenderung menikmati pengalaman seksual yang lebih tenang dan bermakna.
Alasan Mengapa Pola Seksualitas Perempuan dan Laki-laki Berbeda
Seksualitas perempuan lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dan kognitif, sementara pada laki-laki, aspek hormonal memegang peran lebih besar.
Pada usia muda, banyak perempuan menghadapi hambatan psikologis: mulai dari body image issues, rasa sungkan, hingga norma sosial yang membatasi kenikmatan.
Hambatan ini berkurang seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Sebaliknya, laki-laki di usia muda diuntungkan secara biologis, namun sering terbebani ekspektasi performa.
Ketika memasuki usia matang, posisi ini berbalik: perempuan menuai manfaat dari kematangan psikologis, sementara laki-laki ditantang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan biologis.
Hasil akhirnya tidak selalu sama, namun potensi kepuasan tetap tinggi bagi keduanya jika adaptasi berjalan sehat.
Seks di Usia 40: Dari Kuantitas ke Kualitas
Pakar seksologi sepakat bahwa perubahan utama di usia 40-an bukanlah soal ‘seberapa sering’, melainkan seberapa bermakna.
Frekuensi mungkin menurun karena tuntutan hidup, kesehatan, atau energi, tetapi kualitas bisa meningkat berkat komunikasi yang lebih jujur dan kedekatan emosional.
Bagi perempuan, ini sering berarti pengalaman seksual yang lebih memuaskan secara keseluruhan. Dan bagi laki-laki, ini menjadi kesempatan untuk membangun keintiman yang lebih dalam, selama perubahan biologis diterima dengan realistis.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif






Comments 1