• Login
Bacaini.id
Monday, January 26, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Terinspirasi Film Avatar, Panah Beracun Manusia Zaman Batu Ada Sejak 60.000 Tahun Lalu

Panah beracun merupakan senjata mematikan ciptaan manusia paling tua untuk berburu dan bertahan. Tradisi penggunaan panah beracun juga ada di suku-suku Indonesia

ditulis oleh Editor
18 January 2026 20:15
Durasi baca: 4 menit
Ilustrasi panah beracun manusia Zaman Batu yang digunakan untuk berburu, teknologi berbasis racun tumbuhan sejak 60.000 tahun lalu

Panah beracun manusia zaman batu yang menginspirasi film Avatar (foto ilustrasi/AI)

Bacaini.ID, KEDIRI — Dalam film saga Avatar yang sukses di tiap sekuelnya, penonton dikenalkan dengan tokoh sentral suku Na’vi. Meskipun hanya rekaan namun itu berdasarkan fenomena nyata dalam peradaban dunia.

Salah satu senjata tradisional suku dalam film Avatar ini adalah panah beracun yang dikisahkan dapat membunuh korbannya hanya dalam waktu satu menit.

Panah beracun merupakan senjata mematikan ciptaan manusia paling tua untuk berburu dan bertahan. Tradisi penggunaan panah beracun juga ada di suku-suku Indonesia.

Suku Mentawai, Dayak dan suku-suku di Papua dikenal menggunakan panah beracun untuk berburu yang dibuat dari campuran tumbuhan hutan. Dan baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan jejak panah beracun tertua dari zaman batu di Afrika Selatan. 

Baca Juga: Ragam Black Magic Nusantara: Ngeri, di Luar Nalar Tapi Nyata

Jejak Racun Tumbuhan di Mata Panah Kuno

Penemuan tersebut dilaporkan oleh para arkeolog yang meneliti artefak dari Border Cave, sebuah situs prasejarah penting di Afrika Selatan yang telah lama menjadi rujukan studi evolusi manusia.

Dalam penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Science Advances, para ilmuwan menemukan residu kimia racun tumbuhan pada mata panah batu yang diperkirakan berusia sekitar 60.000 tahun.

Temuan ini dianggap sebagai bukti langsung tertua penggunaan racun pada senjata berburu oleh manusia modern awal (Homo sapiens). Sebelumnya, penggunaan racun panah hanya diduga dari konteks etnografi dan artefak yang lebih muda, tanpa bukti kimia yang jelas.

Analisis dilakukan menggunakan teknik chemical residue analysis dan microscopy, yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi senyawa toksik alami yang berasal dari tumbuhan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa racun tersebut bukan hasil kontaminasi alami, melainkan sengaja diaplikasikan pada mata panah.

Baca Juga: Viral! Sabrang Noe Letto Putra Cak Nun Dilantik Menhan Sjafrie Jadi Tenaga Ahli DPN

Racun untuk Melemahkan, Bukan Membunuh Seketika

Racun yang ditemukan bukan jenis yang mematikan secara instan seperti yang sering digambarkan dalam film.

Menurut peneliti, racun tersebut kemungkinan bekerja dengan cara melumpuhkan atau melemahkan mangsa secara perlahan, memungkinkan pemburu mengikuti hewan yang terluka hingga akhirnya mati kelelahan atau mudah ditangkap.

Hal ini sejalan dengan praktik berburu tradisional di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Suku Mentawai, Dayak, dan masyarakat adat Papua menggunakan racun dari tumbuhan tertentu, seperti getah atau ekstrak akar, yang efeknya memperlambat gerak dan melemahkan sistem saraf, bukan membunuh seketika.

Dengan kata lain, konsep panah beracun sebagai senjata berburu efisien dan strategis sudah dikenal manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.

Bukti Kecanggihan Kognitif Manusia Zaman Batu

Para arkeolog menilai temuan ini sebagai bukti penting kecerdasan manusia purba. Membuat panah beracun bukanlah proses sederhana. Berikut ini yang dibutuhkan.

• pengetahuan mengenali tumbuhan beracun,

• kemampuan mengekstrak dan mengolah racun,

• pemahaman dosis agar efektif namun tidak merusak senjata,

• serta teknik penyimpanan agar racun tetap aktif

Menurut para peneliti, kombinasi kemampuan tersebut menunjukkan bahwa manusia Zaman Batu sudah memiliki pengetahuan ekologis dan kimia alami yang kompleks, jauh sebelum berkembangnya pertanian atau peradaban modern.

Penemuan ini sekaligus menepis anggapan lama bahwa manusia purba berburu hanya dengan kekuatan fisik dan senjata kasar. Sebaliknya, mereka telah mengembangkan teknologi berburu berbasis pengetahuan, bukan sekadar tenaga.

Border Cave dan Jejak Awal Budaya Manusia

Border Cave sendiri bukan situs biasa. Lokasi ini sebelumnya telah menghasilkan berbagai temuan penting, termasuk alat tulang berusia puluhan ribu tahun, bukti penggunaan api, perekat berbasis resin tumbuhan, serta artefak yang menunjukkan praktik simbolik awal.

Dengan ditemukannya panah beracun di lokasi yang sama, para ilmuwan menilai bahwa penggunaan racun merupakan bagian dari tradisi budaya dan pengetahuan yang diwariskan antar generasi, bukan sebuah kebetulan atau eksperimen sesaat.

Beberapa antropolog bahkan berpendapat bahwa pengetahuan tentang racun kemungkinan dimiliki oleh individu tertentu dalam kelompok, dan diwariskan secara lisan, bentuk awal dari spesialisasi sosial.

Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat konservatif. Ada kemungkinan penggunaan racun panah sudah lebih tua dari 60.000 tahun, tetapi bukti kimianya belum ditemukan.

Namun sejauh ini, artefak dari Border Cave menjadi bukti tertua yang dapat diverifikasi secara ilmiah. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang evolusi manusia, sekaligus menunjukkan bahwa kecerdasan, kreativitas, dan pengetahuan ekologis telah menjadi bagian dari Homo sapiens sejak awal kemunculannya.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: panah beracun
Via: film avatar
Tags: afrika selatanfilm avatarhomo sapienspanah beracun
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi gerai Koperasi Desa Merah Putih yang diusulkan menggunakan gedung sekolah dasar

Sekolah atau Koperasi? 9 SD di Tulungagung Diusulkan Jadi Gerai KDMP, 3 Masih Aktif

Ilustrasi Ratu Kalinyamat, Ratu Jepara abad ke-16 yang memimpin armada laut melawan Portugis di Malaka

Ratu Kalinyamat: Ratu Jepara yang Membuat Portugis Ketar-ketir

Ilustrasi GERD atau penyakit asam lambung yang viral dikaitkan dengan kematian selebgram Lula Lahfah

GERD Bisa Mematikan? Polemik Kematian Lula Lahfah dan Fakta yang Terungkap

  • Angin kencang dan awan gelap melanda wilayah Jawa Timur saat BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem

    Cuaca Ekstrem Melanda Jawa Timur, BMKG Sebut Blitar Raya hingga Madura Jalur Utama Angin Kencang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bus Harapan Jaya Terobos Lampu Merah, Tabrak Mobil, Motor, dan Rumah di Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Perlu Wisata Alam, Kuliner Khas Nganjuk Ini Bikin Orang Rela Balik Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In