Bacaini.ID, KEDIRI — Dalam film saga Avatar yang sukses di tiap sekuelnya, penonton dikenalkan dengan tokoh sentral suku Na’vi. Meskipun hanya rekaan namun itu berdasarkan fenomena nyata dalam peradaban dunia.
Salah satu senjata tradisional suku dalam film Avatar ini adalah panah beracun yang dikisahkan dapat membunuh korbannya hanya dalam waktu satu menit.
Panah beracun merupakan senjata mematikan ciptaan manusia paling tua untuk berburu dan bertahan. Tradisi penggunaan panah beracun juga ada di suku-suku Indonesia.
Suku Mentawai, Dayak dan suku-suku di Papua dikenal menggunakan panah beracun untuk berburu yang dibuat dari campuran tumbuhan hutan. Dan baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan jejak panah beracun tertua dari zaman batu di Afrika Selatan.
Baca Juga: Ragam Black Magic Nusantara: Ngeri, di Luar Nalar Tapi Nyata
Jejak Racun Tumbuhan di Mata Panah Kuno
Penemuan tersebut dilaporkan oleh para arkeolog yang meneliti artefak dari Border Cave, sebuah situs prasejarah penting di Afrika Selatan yang telah lama menjadi rujukan studi evolusi manusia.
Dalam penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Science Advances, para ilmuwan menemukan residu kimia racun tumbuhan pada mata panah batu yang diperkirakan berusia sekitar 60.000 tahun.
Temuan ini dianggap sebagai bukti langsung tertua penggunaan racun pada senjata berburu oleh manusia modern awal (Homo sapiens). Sebelumnya, penggunaan racun panah hanya diduga dari konteks etnografi dan artefak yang lebih muda, tanpa bukti kimia yang jelas.
Analisis dilakukan menggunakan teknik chemical residue analysis dan microscopy, yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi senyawa toksik alami yang berasal dari tumbuhan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa racun tersebut bukan hasil kontaminasi alami, melainkan sengaja diaplikasikan pada mata panah.
Baca Juga: Viral! Sabrang Noe Letto Putra Cak Nun Dilantik Menhan Sjafrie Jadi Tenaga Ahli DPN
Racun untuk Melemahkan, Bukan Membunuh Seketika
Racun yang ditemukan bukan jenis yang mematikan secara instan seperti yang sering digambarkan dalam film.
Menurut peneliti, racun tersebut kemungkinan bekerja dengan cara melumpuhkan atau melemahkan mangsa secara perlahan, memungkinkan pemburu mengikuti hewan yang terluka hingga akhirnya mati kelelahan atau mudah ditangkap.
Hal ini sejalan dengan praktik berburu tradisional di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Suku Mentawai, Dayak, dan masyarakat adat Papua menggunakan racun dari tumbuhan tertentu, seperti getah atau ekstrak akar, yang efeknya memperlambat gerak dan melemahkan sistem saraf, bukan membunuh seketika.
Dengan kata lain, konsep panah beracun sebagai senjata berburu efisien dan strategis sudah dikenal manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.
Bukti Kecanggihan Kognitif Manusia Zaman Batu
Para arkeolog menilai temuan ini sebagai bukti penting kecerdasan manusia purba. Membuat panah beracun bukanlah proses sederhana. Berikut ini yang dibutuhkan.
• pengetahuan mengenali tumbuhan beracun,
• kemampuan mengekstrak dan mengolah racun,
• pemahaman dosis agar efektif namun tidak merusak senjata,
• serta teknik penyimpanan agar racun tetap aktif
Menurut para peneliti, kombinasi kemampuan tersebut menunjukkan bahwa manusia Zaman Batu sudah memiliki pengetahuan ekologis dan kimia alami yang kompleks, jauh sebelum berkembangnya pertanian atau peradaban modern.
Penemuan ini sekaligus menepis anggapan lama bahwa manusia purba berburu hanya dengan kekuatan fisik dan senjata kasar. Sebaliknya, mereka telah mengembangkan teknologi berburu berbasis pengetahuan, bukan sekadar tenaga.
Border Cave dan Jejak Awal Budaya Manusia
Border Cave sendiri bukan situs biasa. Lokasi ini sebelumnya telah menghasilkan berbagai temuan penting, termasuk alat tulang berusia puluhan ribu tahun, bukti penggunaan api, perekat berbasis resin tumbuhan, serta artefak yang menunjukkan praktik simbolik awal.
Dengan ditemukannya panah beracun di lokasi yang sama, para ilmuwan menilai bahwa penggunaan racun merupakan bagian dari tradisi budaya dan pengetahuan yang diwariskan antar generasi, bukan sebuah kebetulan atau eksperimen sesaat.
Beberapa antropolog bahkan berpendapat bahwa pengetahuan tentang racun kemungkinan dimiliki oleh individu tertentu dalam kelompok, dan diwariskan secara lisan, bentuk awal dari spesialisasi sosial.
Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat konservatif. Ada kemungkinan penggunaan racun panah sudah lebih tua dari 60.000 tahun, tetapi bukti kimianya belum ditemukan.
Namun sejauh ini, artefak dari Border Cave menjadi bukti tertua yang dapat diverifikasi secara ilmiah. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang evolusi manusia, sekaligus menunjukkan bahwa kecerdasan, kreativitas, dan pengetahuan ekologis telah menjadi bagian dari Homo sapiens sejak awal kemunculannya.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





