Bacaini.ID, KEDIRI – Jumat sore suasana di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri berubah tegang. Jalan yang biasanya lengang dipenuhi deru knalpot dan sorak sorai remaja yang menonton balap liar.
Tak berlangsung lama, keseruan itu seketika buyar ketika sirene polisi meraung. Ratusan remaja berhamburan. Ada yang nekat kabur dengan motornya, ada pula yang lari tunggang-langgang meninggalkan kendaraan.
Razia balap liar yang digelar Satlantas Polres Kediri Kota berhasil menjaring ratusan remaja, termasuk lima pelajar berseragam sekolah.
Kasat Lantas Polres Kediri Kota, AKP Afandy Dwi Takdir, menegaskan razia ini dilakukan setelah banyak aduan masyarakat yang resah dengan aksi balap liar. “Ratusan remaja yang diamankan diberikan hukuman untuk berjalan mendorong motor ke markas Satlantas Polres Kediri Kota. Sanksi itu diberikan untuk memberikan efek jera,” ujarnya kepada Bacaini.ID, Jumat, 28 November 2025.
Bayangkan, remaja yang biasanya gagah di atas motor, sore itu harus menunduk malu, mendorong kendaraan mereka di depan tatapan warga. Hukuman sederhana, tetapi sarat makna.
Petugas tidak berhenti pada razia. Para remaja yang terjaring dikumpulkan di Mako Satlantas Kediri Kota untuk diberikan sosialisasi tentang bahaya balap liar. Orang tua mereka pun dipanggil, agar pengawasan lebih ketat dilakukan di rumah.
Bagi sebagian remaja, balap liar adalah hiburan murah, ajang eksistensi, sekaligus pelarian dari rutinitas. Namun, bagi warga sekitar, suara bising knalpot dan ancaman kecelakaan adalah mimpi buruk.
Di balik razia ini, ada kisah remaja yang mungkin hanya ingin mencari teman, ingin diakui, atau sekadar mengisi malam dengan sesuatu yang “seru.” Namun, mereka harus belajar bahwa keseruan itu bisa berakhir dengan rasa malu, hukuman, bahkan kehilangan masa depan.
Solusi mengatasi balap liar
Pemerintah daerah bersama komunitas otomotif bisa menyediakan arena balap resmi atau drag race track yang aman. Remaja diarahkan mengikuti lomba resmi dengan pengawasan, sekaligus mendapat pelatihan safety riding.
Balap liar sering muncul karena minimnya ruang ekspresi. Kita bisa menginisiasi dengan menggelar festival musik, kompetisi e-sport, atau kegiatan kreatif berbasis komunitas. Dengan wadah ini, remaja tetap bisa mencari pengakuan sosial tanpa harus mempertaruhkan nyawa di jalan raya.
Penulis: AK Jatmiko
Editor: Hari Tri Wasono





