• Login
Bacaini.id
Monday, February 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Satira dan Aroma Laut yang Tak Pernah Hilang dari Puger

ditulis oleh Redaksi
31 October 2025 09:52
Durasi baca: 2 menit
Satira (63) saat menjemur ikan asin di halaman rumahnya

Satira (63) saat menjemur ikan asin di halaman rumahnya

Bacaini.ID, JEMBER – Udara asin khas pesisir selatan langsung terasa begitu kaki melangkah ke kawasan Puger, Kabupaten Jember. Dari halaman rumah-rumah nelayan, aroma ikan asin yang dijemur bercampur dengan angin laut, menandai denyut hidup masyarakat pesisir yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di Kampung Mandaran, Puger Wetan, seorang perempuan tua tampak membalik ikan-ikan yang dijemur di atas anyaman bambu. Dialah Satira, 63 tahun, yang telah lebih dari empat puluh tahun hidup bersama ikan asin, menjadikannya bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian dari perjalanan hidup.

Setiap pagi sebelum matahari tinggi, Satira sudah sibuk dengan tumpukan ikan segar hasil tangkapan nelayan. Kulitnya legam, tangannya kapalan, tapi senyumnya tetap ramah. “Kalau tidak saya kerjakan sendiri, siapa lagi? Sudah dari muda begini,” ucapnya pelan, sambil membalik ikan satu per satu.

Sejak 1980-an, Satira menekuni usaha pengasinan ikan. Ikan benggol, lenguru, hingga siyak-siyak ia olah menjadi produk yang gurih dan tahan lama. Namun prosesnya tak sesederhana yang tampak. “Begitu ikan datang, harus langsung diasinkan tiga jam. Tidak boleh ditunda, nanti baunya berubah,” jelasnya.

Usai diasinkan, ikan dijemur di bawah sinar matahari. Di sinilah ketelatenan Satira diuji. Cuaca panas adalah berkah, tapi langit mendung bisa berarti kerja ekstra. “Kalau panas, sehari kering. Tapi kalau mendung, bisa sampai tiga hari baru bisa dijual,” tuturnya sambil menatap langit yang mulai berawan.

Musim hujan menjadi masa paling berat. Ia harus berulang kali memindahkan ikan ke tempat teduh agar tidak rusak. “Capek, iya. Tapi kalau berhenti, ya tidak dapat apa-apa,” katanya lirih.

Dalam sekali produksi, Satira bisa menghasilkan dua kuintal ikan asin. Dulu, ia hanya mengandalkan tengkulak yang datang membeli. Kini, berkat bantuan anak-anak muda di kampungnya, hasil olahannya mulai dijual lewat media sosial. “Sekarang sudah ada yang pesan online. Ada juga yang kirim ke luar daerah,” ujarnya bangga.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Harga ikan segar sering melonjak saat cuaca buruk, sementara harga jual harus menyesuaikan pasar. “Kalau lagi mahal, bisa Rp60 ribu per kilo. Tapi kalau musim ikan, paling Rp15 ribu sampai Rp16 ribu,” ceritanya. Ia juga kerap mendatangkan ikan dari Banyuwangi, Madura, dan Probolinggo demi menjaga kualitas.

Bagi Satira, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan. Ini adalah warisan hidup pesisir yang ingin ia jaga. Empat dekade ia habiskan berdampingan dengan panas matahari, asin garam, dan aroma laut yang melekat di kulit.

Ia tidak menyesali pilihannya. “Yang penting rezeki halal, bisa makan, bisa sekolah anak-anak,” katanya pelan, sebelum kembali menjemur harapan di bawah langit Puger yang mulai cerah.\

Penulis             : Mega

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Mahasiswa menuntut pembebasan aktivis yang ditangkap polisi. Foto: IG @mahasiswabergerak

Tiga Serikat Buruh Dukung Positioning Polri, Melawan Sejarah?!

Pantai Serang Blitar yang dikaitkan dengan laku spiritual Soeprijadi

Kebiasaan Ganjil Soeprijadi di Pantai Serang Blitar, Bertapa di Laut Selatan hingga Tantang Mitos Ratu Kidul

Wali Kota London Sadiq Khan menyalakan lampu Ramadan di kawasan West End

London Sambut Ramadan 2026, 30 Ribu Lampu LED Hiasi West End

  • Ilustrasi gerai Koperasi Desa Merah Putih yang diusulkan menggunakan gedung sekolah dasar

    Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Asal Makan Hasil Laut, Kenali 3 Kepiting Beracun yang Ada di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In