• Login
Bacaini.id
Friday, May 1, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Mengapa Soeharto Tidak Masuk Target Penculikan PKI

ditulis oleh Redaksi
30 September 2025 16:04
Durasi baca: 3 menit

Bacaini.ID, KEDIRI – Oktober 1965 menjadi titik balik sejarah Indonesia yang penuh luka dan teka-teki. Di tengah malam yang mencekam, enam jenderal Angkatan Darat diculik dan dibunuh oleh kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September (G30S).

Peristiwa ini bukan hanya mengguncang militer, tetapi juga membuka jalan bagi naiknya seorang jenderal yang kelak memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, yakni Jenderal Soeharto.

Namun, di balik narasi resmi Orde Baru yang menyebut Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang tunggal, muncul pertanyaan yang tak kunjung padam: apakah Soeharto hanya penumpas atau juga pemain dalam drama kelam ini?

Andrianto, Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, dalam jurnal berjudul Kontroversi Keterlibatan Soeharto Dalam Penumpasan G30S/PKI 1965 menulis sepak terjang Soeharto dalam peristiwa tersebut.

Saat peristiwa terjadi, Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Begitu mendengar kabar tewasnya Jenderal Ahmad Yani, ia segera mengambil alih komando dan memerintahkan pasukan untuk merebut kembali fasilitas vital seperti Radio Republik Indonesia (RRI) dan markas Angkatan Darat.

Dalam hitungan hari, Soeharto memimpin operasi penumpasan terhadap kelompok yang dianggap terlibat dalam G30S. PKI dituduh sebagai otak di balik gerakan tersebut. Penangkapan dan eksekusi terhadap simpatisan PKI menyebar ke seluruh penjuru negeri, terutama di Jawa dan Bali.

Supersemar dan Konsolidasi Kekuasaan

Maret 1966 menjadi momen krusial. Presiden Soekarno menyerahkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) kepada Soeharto, memberinya wewenang untuk memulihkan keamanan.

Dalam waktu singkat, Soeharto membubarkan PKI dan mengambil alih kekuasaan secara bertahap. Tahun 1967, ia diangkat sebagai Pejabat Presiden, dan setahun kemudian, resmi menjadi Presiden Indonesia.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Soeharto mungkin telah mengetahui rencana G30S sebelumnya dan membiarkannya terjadi demi kepentingan politik. Ada pula dugaan bahwa ia memanfaatkan situasi untuk menjatuhkan Soekarno dan mengamankan posisinya.

Narasi resmi Orde Baru menyebut PKI sebagai dalang tunggal. Namun, penelitian pasca-reformasi membuka kemungkinan keterlibatan faksi militer lain, bahkan campur tangan asing seperti Amerika Serikat dan Inggris yang khawatir dengan pengaruh komunis di Asia Tenggara.

Menariknya, Soeharto tidak menjadi target penculikan G30S, meski jabatannya sebagai Pangkostrad sangat strategis. Hal ini memunculkan spekulasi: apakah para pelaku sengaja melewatkannya? Atau ada komunikasi tersembunyi di balik layar?

Letnan Kolonel Untung, pemimpin G30S, menyatakan bahwa gerakan mereka bertujuan mencegah kudeta oleh “Dewan Jenderal” terhadap Presiden Soekarno. Namun, operasi yang semula dirancang sebagai penjemputan berubah menjadi tragedi berdarah. Soeharto, yang tidak termasuk dalam daftar target, justru tampil sebagai penyelamat dan pemimpin baru.

Penumpasan G30S/PKI meninggalkan luka mendalam. Ribuan orang ditangkap, diinterogasi, dan dibunuh tanpa proses hukum. Banyak di antaranya bukan anggota PKI, melainkan korban fitnah atau konflik lokal. Hingga kini, pembantaian massal 1965–1966 masih menjadi bayang-bayang sejarah yang belum sepenuhnya diungkap.

Soeharto membangun Orde Baru dengan fondasi stabilitas dan pembangunan, tetapi juga dengan kontrol ketat terhadap narasi sejarah. Andrianto mengajak pembaca untuk melihat ulang peran Soeharto, bukan sekadar sebagai penumpas, tetapi sebagai aktor politik yang mungkin memainkan peran lebih kompleks dari yang selama ini diajarkan di sekolah.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: G30SPKIIndonesialubang buayaPKIsoeharto
Advertisement Banner

Comments 1

  1. Pingback: Profil Soeharto: Lahir, Jadi Presiden dan Jemput Gelar Pahlawan – Bacaini.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi pajak. Foto:Istimewa

DJP Perpanjang Waktu Lapor SPT Badan

Gedung KPK usai OTT Wali Kota Madiun Maidi terkait dugaan korupsi

Skandal Pita Cukai Rokok, Dua Jalur Satu Jaringan Korupsi

Wiji Thukul penyair perlawanan Indonesia yang hilang sejak 1998

May Day 2026: 3 Puisi Perlawanan Wiji Thukul tentang Nasib Buruh dan Kekuasaan

  • Aktivis PMII Blitar Raya dampingi warga terdampak limbah

    Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In