• Login
Bacaini.id
Sunday, May 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Gaya Politik Bung Hatta yang Gegerkan Tentara

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
9 August 2025 19:53
Durasi baca: 3 menit
Bung Hatta keluarkan kebijakan ReRa yang menggegerkan tentara Indonesia

Gaya politik Bung Hatta menggegerkan tentara Indonesia (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI – Pemerintah Indonesia melakukan kebijakan demobilisasi (membebastugaskan) tentara secara besar-besaran.

Hingga bulan Juni 1948, sebanyak 60.000 tentara dibebastugaskan. Berikutnya segera menyusul 40.000 tentara.

Mereka kebanyakan berasal dari laskar-laskar, tentara rakyat yang lahir pada masa perjuangan kemerdekaan. Termasuk di antaranya Hizbullah.

Sebagian besar usai bertempur hidup dan mati pada 10 November 1945 di Surabaya. Mereka yang selamat dari gempuran pasukan Sekutu.

Perdana Menteri Mohammad Hatta merangkap Menteri Pertahanan menamakan kebijakan demobilisasi di tubuh TNI ini dengan program ReRa: Reorganisasi dan Rasionalisasi.

Program ReRa didasarkan pada Perpres No 9 dan No 14 tahun 1948 dan harus dilaksanakan.

“Dengan memperkecil angkatan perang, kemudian menyusunnya (melalui reorganisasi tentara), Hatta percaya bahwa efektivitas mereka akan bertambah. Prinsip people’s defence tetap dijalankan,” demikian dikutip dari buku Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997).

Di mata Bung Hatta jumlah tentara yang dimiliki republik terlalu besar. Jumlah yang tidak efektif sekaligus jadi beban keuangan negara.

Hatta mengembalikan mereka yang terkena program ReRa pada pekerjaan lamanya. Yang sebelumnya guru kembali mengajar.

Yang sebelumnya kerja di bidang swasta diminta menekuni pekerjaan lamanya.

Hatta memasrahkan ribuan bekas tentara itu kepada Kementerian Pembangunan dan Pemuda untuk dikembalikan ke desa.  

Hatta melihat ada ribuan desa di Indonesia yang bisa menampung 10 orang per desa. Mereka bisa menjadi penjaga keamanan desa.

Juga bisa bertani, menanam singkong, membangun saluran irigasi atau mendirikan tiang listrik. “Mengembalikan seratus ribu orang ke dalam masyarakat desa”.

Pemerintah Indonesia memberikan uang ganti jabatan kepada para bekas tentara yang terkena program ReRa sebesar 3 bulan gaji.

Hatta juga meringkas struktur komando militer hanya menjadi dua: Jawa dan Sumatera. Kemudian juga banyak menempatkan tentara sebagai pasukan cadangan.

Penolakan ReRa

Perlawanan terhadap program ReRa datang dari laskar Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia pimpinan Bung Tomo.

Perlawanan pecah di Solo Jawa Tengah. Mereka tegas menyatakan menolak ReRa. Perlawanan berhasil dipadamkan oleh pasukan Tentara Pelajar yang dikenal paling disiplin dan dihormati.

“Pertempuran mengepung barak-barak mereka terjadi di Solo. Setelah dua hari Tentara Pelajar berhasil melucuti mereka,” seperti dikutip dari Sejarah TNI Kodam VII Diponegoro.

Perlawanan program ReRa Hatta juga ditunjukkan kelompok FDR (Front Demokrasi Rakyat). Mereka merasa habis manis sepah dibuang.

Program ReRa dituding upaya memperlemah tentara dan rakyat. Pada 18 September 1948, FDR bersama PKI melakukan pemberontakan di Madiun.

Hatta tetap tidak mengubah pendiriannya. Program ReRa harus ditegakkan. Laskar-laskar yang merusak nama tentara harus dibersihkan.

Para oknum perwira laskar tentara yang menyalahgunakan jabatan juga dibersihkan.

Penulis: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: Bung Hattagaya politik bung hattagaya-politikReratentaraTNI
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan simbol kebebasan berekspresi dan aktivitas jurnalis

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026: Tema Perdamaian hingga Tantangan Kebebasan Media di Indonesia

Hamparan bunga liar berwarna-warni di Namaqualand saat musim semi

Wisata Bunga Liar Mendunia: Alternatif Selain Sakura, Ini Destinasi Terbaiknya

Ilustrasi Gojek. Foto: istimewa

Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Gojek-Grab, Ini Perhitungannya

  • Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

    Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In