• Login
Bacaini.id
Monday, February 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Kenali Languishing: Hidup Terasa Hampa Padahal Tak Punya Problem

ditulis oleh Editor
11 July 2025 18:24
Durasi baca: 3 menit
Kenali Languishing: Hidup Terasa Hampa Padahal Tak Punya Problem (foto ilustrasi/freepik)

Kenali Languishing: Hidup Terasa Hampa Padahal Tak Punya Problem (foto ilustrasi/freepik)

Bacaini.ID, KEDIRI – Languishing jadi istilah yang sering muncul dalam obrolan ahli psikologi, pekerja kantoran, dan media sosial.

Languishing muncul di tengah makin tumbuhnya kesadaran pada kesehatan mental.

Meski terdengar asing bagi sebagian orang, kondisi ini sebenarnya sangat umum, terutama setelah pandemi COVID-19.

Languishing digambarkan sebagai ‘the neglected middle child of mental health’ atau anak tengah yang terabaikan dari kesehatan mental.

Adam Grant, seorang psikolog dan penulis dari Wharton School yang menyebutnya demikian.

Languishing dan ciri-cirinya

Languishing merupakan keadaan mental di mana seseorang tidak merasa depresi, tetapi juga tidak merasa bahagia atau produktif.

Mereka tidak sedang berjuang secara klinis, tapi juga tidak berkembang. Hidup terasa datar, kosong, dan tanpa semangat.

Ciri-ciri languishing meliputi:

• Sulit fokus atau mengalami ‘mental fog’

• Kehilangan motivasi untuk melakukan hal-hal yang biasanya disukai

• Merasa hampa, stuck, atau hidup dalam mode autopilot.

Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Adam Grant menyebut languishing sebagai ‘musuh kebahagiaan’.

Ia juga menyatakan kondisi itu sangat umum terjadi pascapandemi, ketika banyak orang merasa kelelahan emosional tanpa alasan yang jelas.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Psychiatry, lebih dari 1 dari 3 responden di negara-negara dengan lockdown berkepanjangan saat pandemi, menunjukkan gejala mental health yang termasuk dalam spektrum languishing.

Sementara itu, survei dari Mental Health America (MHA) menemukan bahwa sekitar 60% orang dewasa di AS yang tidak mengalami gangguan mental berat justru mengaku merasa ‘flat’ atau ’emotionally numb’.

Fenomena ini juga tercermin di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat peningkatan signifikan dalam keluhan burnout, kelelahan emosional, dan penurunan motivasi kerja pascapandemi.

Indikator yang selaras dengan gejala languishing meskipun belum mendapat sebutan nama.

Bahaya languishing

Masalah terbesar dari languishing adalah sifatnya yang tidak kentara.

Karena tidak seekstrem depresi, banyak orang mengabaikannya.

Namun, menurut riset dari American Psychological Association (APA), seseorang yang mengalami languishing secara terus-menerus memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan atau depresi dalam 12 bulan berikutnya.

Harvard Business Review mengatakan, di tempat kerja, karyawan yang mengalami languishing menunjukkan penurunan produktivitas hingga 40%.

Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak secara emosional atau mental, fenomena ini sering disebut ‘presenteeism’.

Cara mengatasi languishing

Ada beberapa langkah kecil berbasis penelitian yang bisa membantu kondisi ini:

• Flow Activities

Melakukan aktivitas yang membuat kita ‘tenggelam’ dalam momen. Seperti menulis, menggambar, berkebun, atau berolahraga, dapat membantu otak keluar dari mode autopilot.

Riset menunjukkan bahwa flow activities dapat meningkatkan mood dan motivasi.

• Mengatur batas digital

Doomscrolling dan notifikasi nonstop memperparah perasaan hampa.

Coba atur waktu untuk detoks digital, termasuk menghindari media sosial saat bangun tidur atau sebelum tidur.

• Memberi nama pada emosi

Hanya dengan memberi nama pada perasaan, seperti “Saya sedang languishing”, bisa membantu otak memprosesnya dengan lebih baik.

Ini disebut ‘labeling emotion’, dan terbukti secara neurologis mengurangi aktivitas amigdala, pusat stres di otak.

• Koneksi sosial ringan

Bicara dengan teman, bahkan percakapan ringan, bisa membangkitkan perasaan koneksi dan makna. Isolasi sosial diam-diam sering jadi penyebab munculnya languishing.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: hidup hampaKesehatan mentallanguishingmengenal languishing
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Resort overwater villa di Maladewa yang memperbolehkan turis mengonsumsi alkohol

Maladewa 100 Persen Muslim, Tapi Turis Bebas Minum Alkohol? Ini Sistem Uniknya

Ritual sakral Imlek Tuan Yuan Fan di meja bundar keluarga Tionghoa

Ritual Sakral Imlek yang Bikin Haru: Ada Kursi Kosong untuk Leluhur dan Ikan yang Tak Boleh Dihabiskan

Mahasiswa menuntut pembebasan aktivis yang ditangkap polisi. Foto: IG @mahasiswabergerak

Tiga Serikat Buruh Dukung Positioning Polri, Melawan Sejarah?!

  • Ilustrasi gerai Koperasi Desa Merah Putih yang diusulkan menggunakan gedung sekolah dasar

    Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Asal Makan Hasil Laut, Kenali 3 Kepiting Beracun yang Ada di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In