Bacaini.ID, KEDIRI – Disfungsi Ereksi (DE) pada pria berkaitan erat dengan masalah ekonomi atau stres finansial.
Dua hal ini saling memengaruhi dan jadi permasalahan yang kerap menimpa para pria. Stres finansial mempengaruhi gairah ranjang.
Jurnal dari Frontiers of Psychology menyebut stres finansial terbukti menurunkan kesejahteraan seksual dan emosional pria dalam menjalin hubungan.
Penelitian tersebut menguatkan banyak penelitian lain yang menghubungkan masalah DE dengan stres.
DE ditandai dengan ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup selama berhubungan.
Penyebabnya tidak hanya oleh stres atau kondisi psikologis namun juga kondisi neurologis misal karena stroke, Alzheimer maupun cedera tulang belakang.
Selain itu kondisi hormonal dan obat-obatan juga bisa memengaruhi.
Secara spesifik penelitian telah membuktikan bahwa beban finansial yang ditanggung pria berbanding lurus dengan masalah seksual yang dialami.
Sebaliknya, DE yang dialami oleh pria dapat secara signifikan memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi.
Sebuah jurnal yang diterbitkan di National Institutes of Health mengatakan bahwa DE memiliki dampak terhadap kualitas hidup pria.
Paparan DE dapat meningkatkan risiko depresi hingga 192%.
Dampak DE bukan hanya mengganggu hubungan dengan pasangan, tapi juga produktivitas kerja pria.
Studi menemukan pria dengan DE memiliki tingkat absensi lebih tinggi, gangguan kerja saat hadir dan masalah produktivitas kerja lainnya.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pria dengan DE mengalami gangguan produktivitas kerja lebih dari dua kali lipat ketimbang pria tanpa DE.
Hal ini berpotensi menciptakan masalah finansial baru akibat kualitas kerja yang turun menurun.
Sebagian besar pria menganggap DE sebagai masalah serius sementara sebagian kecil lainnya mengabaikannya.
Sebuah studi survei di kawasan Asia (2005) tentang perilaku seksual dan DE pada pria dewasa usia 40–80 tahun di perkotaan negara-negara Asia menemukan 45% pria dengan DE tidak mencari bantuan atau saran untuk kondisi mereka.
Hanya 21% pria yang mencari perawatan medis.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif