• Login
Bacaini.id
Wednesday, June 17, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Pengaruh Tionghoa dalam Sejarah Kuliner Pempek Palembang

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
16 May 2025 11:19
Durasi baca: 3 menit
Pengaruh Tionghoa dalam Sejarah Kuliner Pempek Palembang (foto ilustrasi/Pinterest)

Pengaruh Tionghoa dalam Sejarah Kuliner Pempek Palembang (foto ilustrasi/Pinterest)

Bacaini.ID, KEDIRI – Pempek Palembang yang lezat itu sebetulnya bukan bernama pempek. Makanan lokal ini memiliki nama asli ‘Kelesan’.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan Journal of Ethnic Foods menyebut bahan-bahan kelesan atau pempek terdiri dari daging ikan yang sudah dibersihkan dan dipirik atau dilumatkan.

Pirik dilakukan dengan cara ditekan dengan alat yang disebut piri’an, yaitu alat yang terbuat dari kuningan berbentuk bulat agak lonjong dengan jari-jari sekitar 8–10 cm.

Bagian bawah alat ini berlubang-lubang, sehingga daging yang dihaluskan dapat keluar melalui lubang-lubang tersebut.

Sejak zaman Kesultanan Palembang, sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19, Kelesan telah menjadi sajian istimewa masyarakat Palembang.

Perkembangan tradisi kuliner ini dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Cina dan Arab.

Seiring berjalannya waktu, sajian yang dulunya hanya dinikmati oleh para sultan dan bangsawan ini pun mulai dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kelesan viral di masanya. Produksinya pun meluas yang berujung pada munculnya berbagai bisnis makanan ini.

Para perempuan yang menyiapkan hidangan ini membutuhkan penjual untuk memperluas jangkauan penjualan.

Dari sinilah muncul pedagang-pedagang Kelesan, orang-orang Tionghoa yang sebelumnya memang sudah berdagang.

Para penjual ini yang sebagian besar adalah laki-laki, awalnya berjualan di sekitar wilayah Guguk Pengulon, sekitar Masjid Agung Palembang.

Wilayah ini sebagian terendam air pada awal abad ke-20, yang mengharuskan penggunaan perahu.

Ketika upaya reklamasi lahan dimulai pada awal abad ke-20, para pedagang ini beralih menjual Kelesan dari pintu ke pintu.

Para pedagang pria Tionghoa disapa dengan sebutan ‘Apek’. Sapaan dalam bahasa China untuk laki-laki yang lebih tua.

Dari sinilah nama Pempek muncul. Ketika pelanggan memanggil penjual Kelesan untuk membeli dagangan mereka.

Panggilan “Pek.. Ampek” lambat laun menjadi Pempek dan digunakan untuk menyebut nama dagangan mereka. Kelesan menjadi Pempek.

Pempek secara tradisional disajikan bersama saus cuko. Saus cuko dibuat dengan merebus air, gula merah, asam jawa, bawang putih, cabai, dan garam.

Saus cuko tidak dapat dipisahkan dari makanan tradisional, sampai-sampai ada pepatah, cuko dak becuko, tengah duo, yang berarti harga jual pempek tetap sama meskipun tanpa cuko.

Artinya, ketika pempek dibeli, maka secara otomatis disajikan dengan saus cuko.

Pada masa Kesultanan Palembang makanan tradisional berbahan dasar ikan dan tepung tapioka berkembang pesat, khususnya di Palembang sendiri.

Sebagai pusat pemerintahan, Palembang juga menjadi pusat masyarakat Uluan atau pedalaman dalam pengembangan dan penjualan Kelesan.

Adat istiadat masyarakat Kayu Agung di Sumatera Selatan pun mencatat Kelesan sebagai makanan ringan saat berdagang dan membawa gerabah dari tanah liat.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: kulinerpalembangpempek palembangpengaruh tionghoasejarah kulinertionghoa
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Seniman Gunadi menjelaskan proses pembuatan patung Bung Karno setinggi lima meter di Istana Gebang Kota Blitar

Dibalik Patung Baru Soekarno di Blitar, Seniman Gunadi Sebut Karakter Bung Karno Paling Sulit

Warga mengikuti tradisi Baritan dan ritual bulan Suro di wilayah Blitar Jawa Timur

Tradisi Bulan Suro di Blitar: Dari Baritan hingga Larung Sesaji, Masih Dilestarikan Warga

Ilustrasi perbedaan tampilan wajah carb face dan protein face akibat pola konsumsi karbohidrat dan protein

Carb Face vs Protein Face, Apa Pengaruh Makanan ke Wajah?

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In