• Login
Bacaini.id
Monday, May 4, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Rukayah, Dari Buruh Migran Menjadi Bos Tenun

ditulis oleh
26 April 2020 12:23
Durasi baca: 3 menit
Rukayah saat membuat pola. Foto istimewa

Rukayah saat membuat pola. Foto istimewa

Sejak tahun 1950 kawasan barat sungai Brantas Kota Kediri dikenal sebagai kampung penenun. Ratusan warga bekerja di industri tenun rakyat yang dikelola secara sporadis menciptakan lembaran kain motif dan sarung.

Tak banyak yang tahu jika sebelum kawasan industri di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini muncul, terdapat kisah pilu dan berdarah-darah yang dialami para penenun. Salah satunya Rukayah, penenun yang kini pasarnya merambah hampir seluruh Indonesia.

“Industri ini sempat ambruk setelah peristiwa gerakan 30 September PKI meletus,” kata Rokayah, 50 tahun, memulai kisahnya.

Sempat mati suri selama 20 tahun, satu per satu pemilik mesin tenun kembali memulai usaha, tak terkecuali Rokayah. Setelah menikah dengan Munawar yang merupakan bekas buruh tenun di Kelurahan Bandar Kidul, perlahan-lahan Rokayah membangun kembali usaha itu di rumah suaminya yang menjadi sentra perajin tenun.

Bermodal dua mesin tenun, pasangan suami istri ini memproduksi sendiri kain sarung yang menjadi produk utama perajin tenun. Menurut dia, tak banyak penenun yang membuka kembali usaha itu paska terjadinya pergolakan politik nasional.  Sehingga ketika memunculkan produk sarung di tahun 1989, tak banyak pesaing yang mengancam bisnis Rokayah. Dari lima desa yang menjadi kawasan perajin tenun di wilayah barat Kota Kediri, hanya Kelurahan Bandar Kidul saja yang membangun kembali bisnis ini.

Usaha pasangan suami istri ini terus berjaya dan merekrut banyak tenaga kerja dari penduduk sekitar. Mereka juga mampu menggandakan jumlah mesin tenun yang semula hanya dua unit menjadi 15 unit meski berupa mesin manual.  Mesin tenun yang dibuat dari kayu ini digerakkan oleh tenaga manusia dan masih dipertahankan oleh Rokayah hingga sekarang.

Kejayaan industri tenun ini kembali diuji setelah terjadi krisis ekonomi besar-besaran di tahun 1997. Mahalnya harga bahan baku benang dan pewarna menjadi tak terkejar dengan harga jual sarung yang kala itu dibanderol Rp 25.000 per potong. “Saya akhirnya menyerah dan menutup usaha ini,” kata Rokayah.

Tidak adanya peluang kerja di luar tenun memaksa Rokayah menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi. Namun tak seperti TKW lain yang betah berlama-lama memburu Real, Rokayah memutuskan pulang ke tanah air setelah dua tahun merantau. Uang pesangon dan hasil kerja sebesar Rp 14 Juta menjadi modal membangun kembali usaha tenunnya. Dari jumlah itu, Rokayah menyisihkan Rp 2,5 juta untuk membeli televisi berwarna. Sedangkan sisanya habis diperuntukkan membeli benang dan zat warna.

Bermodal 15 unit mesin tenun yang masih terawat baik, Rokayah dan suaminya memulai kembali pembuatan sarung di tahun 2001. Perlahan-lahan bekas pekerjanya yang sempat menganggur ditarik kembali. “Tiap hari Kamis saya keliling hingga ke gunung menjual sarung sendiri. Sebab hari Sabtu harus membayar gaji pekerja,” kenang Rokayah.

Untuk mempertahankan usahanya, Rokayah memberanikan diri memproduksi bentuk lain. Ia melakukan diversifikasi dengan membuat tas dan sepatu. Ppembuatan produk ini memanfaatkan kain perca atau sisa potongan sarung dan pakaian untuk diserahkan kepada perajin sepatu dan tas yang menjadi rekanannya.

Diversifikasi ini pula yang membuat usaha kain tenun di Kelurahan Bandar Kidul lebih bertahan dibanding industri serupa di Nusa Tenggara Timur. Selain perbedaan benang dan teknik mengikat, perajin tenun di propinsi itu lebih menyukai membuat syal, jok kursi, taplak, gorden, dan jas. Hal ini dinilai Rokayah menjadi kelemahan karena barang-barang itu sangat jarang dipergunakan masyarakat. “Jatuhnya hanya menjadi souvenir yang dibeli turis,” kata Rokayah.

Nasib Rokayah makin membaik setelah Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar melalui SK Walikota menerbitkan aturan pemakaian batik tenun Bandar Kidul sebagai seragam wajib PNS di Hari Kamis. “Kebetulan permintaan itu dipercayakan kepada saya,” kata Rokayah yang memberi label Medali Emas pada produknya.

Kini produksi tenun ikat Bandar Kidul benar-benar menjadi ikon Kota Kediri di pasar tenun tanah air. Tak sulit menemukan lokasi kampung ini. Di ujung gang dengan gapura warna ungu terukir tulisan warna emas “Kampung Industri Tenun Ikat Bandar Kidul”. Sepanjang perjalan menyusuri gang akan terlihat deretan papan nama produk tenun ikat warga.

Banyaknya papan nama ini tak seluruhnya milik perajin. Sebagian dari mereka adalah para reseller atau penjual yang tak memproduksi kain sendiri. Beberapa perajin juga hanya mengambil bahan kain untuk digunting menjadi produk pakaian. (*)

 

 

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Agus (kiri) dan Bambang Soesatyo. Foto: Instagram @agus_hadsoe

Staf Bamsoet Flexing Naik Jet Pribadi, Warganet: Bingung Sumber Hartanya

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan simbol kebebasan berekspresi dan aktivitas jurnalis

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026: Tema Perdamaian hingga Tantangan Kebebasan Media di Indonesia

Hamparan bunga liar berwarna-warni di Namaqualand saat musim semi

Wisata Bunga Liar Mendunia: Alternatif Selain Sakura, Ini Destinasi Terbaiknya

  • Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

    Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In