• Login
Bacaini.id
Monday, February 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sudah 1 Bulan Nelayan di Tulungagung Enggan Pergi Melaut

ditulis oleh Editor
28 October 2022 17:52
Durasi baca: 2 menit
Tampak Nelayan di Tulungagung sedang menarik kapal menuju ke laut. Foto: Bacaini/Setiawan

Tampak Nelayan di Tulungagung sedang menarik kapal menuju ke laut. Foto: Bacaini/Setiawan

Bacaini.id, TULUNGAGUNG – Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib nayalan di Teluk Popoh Tulungagung. Cuaca ekstrem serta rusaknya ekosistem terumbu karang menyebabkan para nelayan kesulitan untuk menangkap ikan.

Puluhan kapal nelayan di Teluk Popoh Tulungagung, tampak berjejer rapi. Padahal biasanya kapal-kapal itu sudah berangkat melaut untuk mencari ikan. Namun ternyata puluhan kapal itu menganggur karena sebagian besar pemiliknya memilih melakukan pekerjaan lain.

Ketua Nelayan Teluk Popoh, Sadat mengatakan bahwa saat ini kondisi alam sedang tidak bersahabat bagi para nelayan untuk menaikkan jangkar. Sudah hampir satu bulan cuaca di laut selatan tidak menentu.

“Waktu pagi dan sore terjadi ombak besar, siang ombaknya landai. Jadi cuaca sekarang ini sering berubah dan tidak bisa ditebak, akhirnya banyak nelayan menjadi ragu berangkat melaut. Sudah hampir sebulan seperti ini,” kata Sadat kepada Bacaini.id, 28 Oktober 2022.

Terlebih ketika terjadi hujan lebat, lanjut Sadat, jarak pandang yang sangat terbatas membuat nelayan yang sudah terlanjur melaut menjadi kesulitan menentukan arah kapal. Tentu saja hal itu membuat mereka khawatir hingga akhirnya mengurungkan niatnya untuk melaut.

“Kami lebih baik tidak melaut untuk sementara waktu, karena ini menyangkut keselamatan,” ujarnya.

Sadat juga mengungkapkan, selain faktor cuaca, nelayan Teluk Popoh juga dihadapkan dengan sulitnya menangkap ikan akibat kerusakan lingkungan. Banyak terumbu karang di kawasan Teluk Popoh yang rusak dan tertimbun tanah dari aliran banjir di Terowongan Niyama.

“Memang banyak terumbu karang yang sudah rusak akibat ulah manusia sendiri. Selain itu, setiap terjadi banjir, debit air dari Terowongan Niyama yang tinggi disertai lumpur diduga mengalir ke laut sehingga terumbu karang tertutup endapan lumpur,” paparnya.

Rusaknya terumbu karang membuat para nelayan harus pergi melaut dengan jarak yang lebih jauh. Menurut Sadat, ketika masih banyak terumbu karang, banyak ikan yang bisa ditangkap di pinggiran Teluk Popoh. Tetapi sekarang, para nelayan harus melaut jauh hingga puluhan mil untuk bisa mendapat ikan.

“Biasanya nelayan kapal kecil hanya bisa mencari ikan di jarak 10 Mil itupun ikannya juga sedikit, kalau kapal besar jangkauanya 30 mil,” sebutnya.

Banyaknya nelayan yang memilih tidak melaut pada akhirnya berdampak pada harga ikan. Saat ini, ikan laut dari nelayan sudah mengalami kenaikan harga mencapai Rp17.000 sampai Rp18.000 per kilogram.

Penulis: Setiawan
Editor: Novira

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: cuaca ekstremnelayan tulungagung
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Petugas mengevakuasi korban ke RSUD dr Soedomo Trenggalek

Penemuan Mayat di Dam Cangkring Trenggalek, Wildan Ditemukan Bersama Motor di Dasar Bendungan

Resort overwater villa di Maladewa yang memperbolehkan turis mengonsumsi alkohol

Maladewa 100 Persen Muslim, Tapi Turis Bebas Minum Alkohol? Ini Sistem Uniknya

Ritual sakral Imlek Tuan Yuan Fan di meja bundar keluarga Tionghoa

Ritual Sakral Imlek yang Bikin Haru: Ada Kursi Kosong untuk Leluhur dan Ikan yang Tak Boleh Dihabiskan

  • Ilustrasi gerai Koperasi Desa Merah Putih yang diusulkan menggunakan gedung sekolah dasar

    Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Asal Makan Hasil Laut, Kenali 3 Kepiting Beracun yang Ada di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In