• Login
Bacaini.id
Sunday, May 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Kue Ladu, Jajanan Jadul Tradisi Lebaran di Kota Batu

ditulis oleh Editor
27 April 2022 17:33
Durasi baca: 3 menit
Ratih Rohali sedang membuat kue ladu. Foto: Bacaini/A.Ulul

Ratih Rohali sedang membuat kue ladu. Foto: Bacaini/A.Ulul

Bacaini.id, MALANG – Warga Desa Gunungsari, Kota Batu, menyebutnya Ladu. Jajanan jadul ini dijumpai hanya pada momen spesial, terutama pada bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri.

Jajanan tersebut dibuat sendiri oleh warga Desa Gunungsari, salah satunya Ratih Rohali. Perempuan 39 tahun itu mengatakan tidak hanya dirinya, bahkan hampir setiap warga selalu membuat kue ladu saat bulan Ramadan.

Kue ladu yang dibuat warga nantinya akan menjadi suguhan saat hari raya Idul Fitri. Praktis, jajanan jadul ini akan selalu ada di meja ruang tamu di setiap rumah warga desa yang terletak di bawah kaki Gunung Banyak Paralayang itu.

Bagi masyarakat Kota Batu, khususnya Desa Gunungsari, sensasi rasa kue ladu akan membuat penikmatnya bernostalgia. Nama Ladu sendiri merupakan akronim dari Langgeng Seduluran, istilah jawa yang mengandung makna mendalam yang berarti penyambung tali silaturahmi di hari yang fitri.

Sayangnya, kisah historis terkait kue ladu ini tidak bisa dilacak, mengingat generasi pertama dan kedua tetua warga di sana sudah banyak yang wafat. Alhasil, asal muasal jajanan ladu hingga saat ini belum dapat diketahui.

“Asalnya seperti apa saya tidak tahu pasti, yang jelas ini sudah jadi tradisi. Setiap bulan Ramadan, warga di sini selalu bikin kue ladu sekaligus untuk jajan lebaran,” kata Ratih kepada Bacaini.id, Rabu, 27 April 2022.

Ratih menjelaskan, kue ladu terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan gula pasir. Kue ladu buatan warga Gunungsari masih dibuat dengan cara tradisional. Mulai dari beras ketan yang ditumbuk menggunakan lumpang hingga halus dan menjadi adonan kemudian dipanggang hingga matang dengan sempurna.

Bentuk kue ladu sendiri cukup lucu, seperti bantalan yang menggelembung. Saat digigit, akan terasa sensasi pecah di mulut berpadu dengan tekstur lembut dan manisnya gula pasir.

Ratih dan suaminya mengaku termasuk salah satu warga yang beruntung, karena masih bisa mewarisi resep kue ladu dari ibunya. Hingga kini mereka dapat menjadikan kue ini sebagai ladang bisnis, terutama pada momen lebaran.

Menurut Ratih, kue ladu sekarang sudah terbilang cukup langka karena hanya bisa ditemukan pada momen-momen tertentu. Selain itu, generasi pembuat kue ladu perlahan juga mulai terkikis seiring dengan perkembangan zaman.

”Sekarang sudah jarang yang bikin kue ladu, karena memang prosesnya memakan waktu lama. Untuk membuat adonan itu biasanya butuh proses sampai empat hari, mulai menumbuk, jadi adonan hingga dipanggang menggunakan oven,” terangnya.

Hampir setiap hari, Ratih bersama dengan enam orang karyawannya yang merupakan tetangga sekitar rumahnya bisa memproduksi 30 sampai 50 ton kue ladu. Hasil produksi tersebut dikirim ke sejumlah toko oleh-oleh dan warung di wilayah Malang Raya, Sidoarjo juga Jombang.

Ratih berharap, kue ladu khas Kota Apel ini bisa semakin dikenal khalayak luas. Menurutnya, sejauh ini, kue ladu masih terbilang belum populer di telinga wisatawan.

“Kalau dikenal banyak orang kan juga bisa sekaligus jadi tambahan penghasilan warga, khususnya ibu-ibu di sini,” harap Ratih.

Penulis: A.Ulul
Editor: Novira

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: hari raya idul fitriKota Batukue ladukue lebaran
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan simbol kebebasan berekspresi dan aktivitas jurnalis

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026: Tema Perdamaian hingga Tantangan Kebebasan Media di Indonesia

Hamparan bunga liar berwarna-warni di Namaqualand saat musim semi

Wisata Bunga Liar Mendunia: Alternatif Selain Sakura, Ini Destinasi Terbaiknya

Ilustrasi Gojek. Foto: istimewa

Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Gojek-Grab, Ini Perhitungannya

  • Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

    Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In