• Login
  • Register
Bacaini.id
Thursday, January 15, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Jejak Kekejaman Belanda di Alun-alun Bondowoso

ditulis oleh redaksi
1 August 2020 14:26
Durasi baca: 1 menit
Jejak Kekejaman Belanda di Alun-alun Bondowoso

Gerbong maut yang menewaskan para pejuang kemerdekaan di kawasan alun-alun Bondowoso. Foto: Bacaini

BONDOWOSO – Tak hanya dikenal sebagai penghasil tape singkong, Kabupaten Bondowoso juga memiliki jejak sejarah kemerdekaan fenomenal. Diantaranya adalah gerbong maut yang menjadi koleksi museum kereta api satu-satunya di Jawa Timur.

Di Indonesia, jumlah museum perkeretaapian hanya empat. Mereka adalah Museum Ambarawa, Museum Sawahlunto, Museum Lawang Sewu, dan Museum Kereta Api Stasiun Bondowoso. Museum ini pertama kali diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2016 dan menjadi satu-satunya museum kereta api di Jawa Timur.

Salah satu koleksinya yang terkenal adalah gerbong barang dengan nomor GR 10152. Gerbong itu adalah satu dari tiga gerbong barang yang mengangkut 116 pejuang Indonesia yang ditangkap Belanda. Peristiwa kelam ini terjadi pada tanggal 23 November 1947.

Dalam peristiwa agresi militer Belanda I usai proklamasi kemerdekaan, pasukan Belanda berusaha menguasai aset penting Indonesia, salah satunya jalur kereta api. Para pejuang yang ditangkap kemudian diarak ke Stasiun Bondowoso untuk dikirim ke penjara Bubutan di Surabaya.

Di sinilah kisah memilukan itu terjadi. Sebanyak 116 pejuang dipaksa masuk ke dalam tiga gerbong barang yang tak memiliki ventilasi udara. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing membawa 38 tawanan, 29 tawanan, dan 33 tawanan.

Perjalanan panjang dari Bondowoso menuju Surabaya yang ditempuh selama 16 jam tersebut memakan banyak korban jiwa. Para pejuang yang kesulitan bernafas karena minimnya ventilasi berguguran di dalam gerbong. Mereka juga tak diberi makan atau minum selama perjalanan tersebut. Kondisi gerbong yang sempit dengan bahan baja dan atap seng menambah terik suhu udara hingga menyiksa para pejuang di dalamnya. Inilah kebengisan penjajah Belanda yang sulit dilupakan.

Kisah pilu para pejuang itu bisa kita kenang saat berkunjung di museum Stasiun Kereta Api Bondowoso. Gerbong bernomor GR 10152 kini dipajang di kawasan alun-alun Bondowoso dengan dilengkapi diorama.

Lokasi ini kerap menjadi tempat berswafoto masyarakat. Sambil ngeceng, mereka bisa mengabadikan monumen gerbong maut agar tak dilupakan zaman. (HTW)

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: gerbong mautstasiun bondowoso
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Menakar Pilkada Langsung dan Tidak Langsung: Antara Kedaulatan Rakyat dan Kenyamanan Elite

Menakar Pilkada Langsung dan Tidak Langsung: Antara Kedaulatan Rakyat dan Kenyamanan Elite

Kunjungan Prabowo ke IKN Bantah Spekulasi Proyek Mubazir

Kunjungan Prabowo ke IKN Bantah Spekulasi Proyek Mubazir

Perjuangan Distribusi Bantuan di Tengah Longsor Aceh

Perjuangan Distribusi Bantuan di Tengah Longsor Aceh

mount paltry
Tekno & Sains

Mount Paltry Gunung Terkecil di Dunia Sukses Kecoh Netizen Internasional

Bacaini.ID, KEDIRI – Mount Paltry diklaim sebagai gunung terkecil di dunia. Lantaran tingginya hanya 7 cm, informasi beserta visual itu...

Baca ini..

Napi Lapas Blitar Diduga Dianiaya Hingga Koma

Kebanyakan Kuliner di Blitar yang Ramai Karena Murah, Bukan Enak, Itu Tak Diragukan

Lapas Blitar Blak-blakan Soal Penganiayaan Napi yang Berujung Kematian

Paradigma Realisme dalam Hubungan Internasional

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In