Bacaini.ID, JAKARTA – Pengamat intelejen sekaligus dosen Universitas Indonesia, Dr. Ridwan Arifin, S.S., M.Hum., MPA, mengatakan pola terorisme di Indonesia telah mengalami pergeseran.
Ridwan menyebut pergeseran ini bukan sekedar taktik, tetapi transformasi epistemik. “Perubahan ini terjadi pada cara radikalisasi, aktor yang terlibat, hingga bagaimana ancaman tersebut mengeksekusi tindak kekerasan,” katanya, Sabtu, 29 November 2025.
Pengajar mata kuliah Keamanan Non-Tradisional dan Kajian Intelijen Stratejik ini menambahkan, pada era “terorisme klasik”, doktrin kekerasan dibangun melalui legitimasi pseudo-religius. Ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis dipotong dari konteksnya dan dijadikan amunisi ideologis. Narasi kafir, janji surga, dan imajinasi bidadari menjadi motor psikis.
Saat ini, narasi tersebut digantikan oleh motif yang jauh lebih cair, yakni kebencian personal, sentimen antipemerintah, anti-polisi/TNI, hingga anggapan pemerintah sebagai thogut. Pola baru ini mencerminkan radikalisasi yang lebih emosional ketimbang ideologis, lebih instan ketimbang dogmatis.
Perubahan serupa juga tampak dalam aspek pendanaan. Jika kelompok teror dulu mengandalkan perampokan toko emas atau kriminalitas terstruktur, kini pendanaan menjadi kabur. Sifatnya unknown, kerap berupa donasi kecil berbasis simpati, crowdfunding terselubung, hingga aliran dana dari jejaring digital yang sulit ditelusuri. Minimnya struktur membuat pendanaan sekaligus operasi menjadi lebih sulit dideteksi aparat.
Ridwan menambahkan, perubahan strategi lainnya adalah medium penyebarannya, yang dulu menggunakan buku fisik, ceramah langsung di pengajian, pesantren, atau masjid. Di era digital, radikalisasi berlangsung melalui blog, media sosial, YouTube, dan bahkan permainan daring (online games).
Ironisnya, generasi yang terpapar kini tidak lagi masuk melalui jalur ideologis formal, melainkan melalui algoritma digital yang mengantar individu ke ruang gema (echo chamber) berisi kebencian dan propaganda.
Target serangan pun berubah. Dulu para teroris menyasar gedung besar, warga negara asing, klub hiburan, atau simbol-simbol yang dianggap “kafir”. Kini target menjadi semakin acak: individu tertentu, kerumunan kecil, atau lokasi sepi yang tidak terduga. Pola ini sesuai dengan karakter lone wolf yang bertindak spontan dan tidak melalui perencanaan besar.
Media serangannya, menurut Ridwan, juga berubah. Jika dulu serangan berupa ledakan besar, bom mobil, atau bom bunuh diri skala signifikan, hari ini serangan kebanyakan dilakukan dengan alat sederhana, seperti bom panci, buku, atau ransel.
Sebagian besar pelaku bahkan tidak lagi memiliki afiliasi formal dengan kelompok teror mana pun. Mereka bertindak sendiri, terinspirasi dari konten digital.
Aspek paling mengkhawatirkan dari perubahan ini adalah pergeseran pelaku. Dari yang semula dewasa, baik WNI maupun WNA, kini radikalisasi menyasar anak sekolah SMP, SMA, bahkan remaja yang belum memiliki pemahaman agama atau politik yang matang. Inilah yang disebut Dr. Ridwan sebagai “demokratisasi radikalisme”, siapa pun dapat terlibat, tanpa struktur, tanpa pelatihan.
“Perubahan-perubahan ini menunjukkan satu hal penting, bahwa terorisme hari ini tidak lagi membutuhkan organisasi, hanya membutuhkan ekosistem digital yang permisif,” katanya.
Inilah tantangan terbesar keamanan non-tradisional Indonesia ke depan, bagaimana negara mengantisipasi ancaman yang justru lahir dari ruang personal dan digital, bukan lagi dari markas teror yang terstruktur.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono





