Bacaini.ID, KEDIRI – Urap atau salad Jawa sering dipandang sebagai hidangan sederhana di tengah kekayaan kuliner Nusantara.
Membuat urap hanya butuh sayuran rebus dengan parutan kelapa berbumbu.
Urap bukan sekadar pelengkap nasi. Khususnya bagi masyarakat jawa hidangan ini kerap hadir dalam acara syukuran, slametan, dan berbagai ritus sosial. Menjadi simbol kehidupan, doa, dan harapan akan keseimbangan.
Kesederhanaan urap justru menyimpan lapisan makna historis dan filosofis yang panjang.
Sejarawan kuliner Fadly Rahman dalam bukunya ‘Jejak Rasa Nusantara’ menjelaskan bahwa makanan tradisional Jawa tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai masyarakat agraris.
Urap yang berbahan dasar sayuran dan kelapa, merefleksikan kedekatan manusia Jawa dengan alam sekaligus cara mereka memaknai hasil bumi sebagai anugerah yang patut disyukuri, bukan dieksploitasi berlebihan.
Asal-usul Urap dalam Sejarah Jawa
Urap secara harfiah dalam bahasa Jawa adalah sesuatu yang dicampur. Sementara secara etimologis, kata urap dalam bahasa Jawa kerap dihubungkan dengan makna urip atau hidup.
Menurut Koentjaraningrat dalam ‘Kebudayaan Jawa’, konsep hidup dalam pandangan Jawa tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.
Karena itu, makanan dalam tradisi Jawa sering diberi muatan simbolik.
Fadly Rahman mencatat bahwa tradisi mengonsumsi sayuran rebus dengan kelapa telah dikenal sejak masa pra-kolonial, ketika masyarakat Jawa mengembangkan pola hidup agraris yang bergantung pada sawah dan kebun.
Urap lahir dari konteks ini: bahan-bahannya mudah didapat, tidak eksklusif, dan mencerminkan prinsip kesederhanaan yang egaliter.
Urap dalam Slametan: Makanan sebagai Medium Doa
Dalam praktik ritual slametan atau syukuran, urap hampir selalu hadir. Antropolog Clifford Geertz dalam ‘The Religion of Java’ menyebut slametan sebagai ritual inti masyarakat Jawa yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos dan hubungan sosial.
Makanan dalam slametan bukan sekadar konsumsi, melainkan sarana menyampaikan doa secara kolektif.
Urap dengan beragam sayuran yang disatukan oleh kelapa berbumbu, dimaknai sebagai simbol persatuan.
Setiap unsur berbeda, namun menyatu tanpa saling meniadakan. Urap menjadi representasi ideal masyarakat Jawa: rukun, seimbang, dan menghindari konflik terbuka.
Makna Simbolik Bahan-bahan Urap
Menurut Koentjaraningrat, simbolisme makanan dalam budaya Jawa sering terletak pada bahan-bahannya. Sayuran hijau seperti bayam dan kangkung melambangkan ketenteraman dan kesejukan hidup.
Kacang panjang kerap dimaknai sebagai simbol umur panjang dan kesinambungan, sementara tauge merepresentasikan pertumbuhan dan awal kehidupan baru.
Kelapa yang menjadi unsur utama bumbu urap, memiliki makna khusus. Dalam kajian simbolik Jawa, kelapa dipandang sebagai lambang kesempurnaan karena seluruh bagiannya bermanfaat.
Ketika kelapa diparut dan dicampur dengan aneka sayuran, ia berfungsi sebagai perekat, baik secara rasa maupun filosofi.
Nilai Pluralisme dalam Sepiring Urap
Urap juga sering dibaca sebagai simbol pluralisme. Beragam sayuran dengan warna, tekstur, dan rasa berbeda hadir dalam satu hidangan tanpa ada yang lebih dominan.
Nilai ini sejalan dengan sejarah masyarakat Jawa yang hidup dalam persinggungan berbagai kepercayaan dan budaya.
Clifford Geertz mencatat bahwa kebudayaan Jawa terbentuk dari pertemuan tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.
Urap dalam kesederhanaannya, mencerminkan kemampuan masyarakat Jawa merangkul perbedaan tanpa menghapus identitas masing-masing unsur.
Urap juga mencerminkan struktur masyarakat. Masyarakat agraris Jawa menempatkan kebersamaan dan gotong royong sebagai nilai utama.
Urap yang kerap dimasak dan disantap bersama, menjadi bagian dari praktik sosial tersebut.
Tidak membutuhkan bahan mahal, urap dapat dinikmati semua lapisan masyarakat. Inilah yang membuatnya hadir dalam berbagai ritus, dari keluarga sederhana hingga komunitas desa, tanpa kehilangan makna simboliknya.
Urap di Era Modern, Makanan Sehat dan Jadi Salad Favorit
Seiring modernisasi, fungsi ritual urap mulai berkurang. Ia kini lebih sering hadir sebagai menu rumah tangga atau sajian restoran tradisional, tidak hanya sebagai sajian ritual slametan.
Urap menjadi salah satu pilihan salad khas Indonesia yang dinilai lebih sehat dan bergizi. Menjadi pilihan makan sayur-sayuran dengan rasa yang enak.
Namun di banyak wilayah pedesaan, urap masih mempertahankan perannya sebagai makanan simbolik dalam syukuran dan slametan.
Menurut Fadly Rahman, tantangan utama makanan tradisional saat ini bukan pada kepunahan resep, melainkan hilangnya pemahaman makna.
Generasi muda kerap mengenal urap sebatas rasa, tanpa memahami nilai filosofis yang menyertainya.
Memahami urap artinya membaca ulang cara masyarakat Jawa memaknai kehidupan: sederhana, kolektif, dan selaras dengan alam.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





