• Login
  • Register
Bacaini.id
Thursday, January 15, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Urap Jawa Bukan Hanya Salad, Ini Filosofi dan Makna dalam Tradisi Slametan

ditulis oleh Editor
14 January 2026 11:27
Durasi baca: 4 menit
Urap Jawa Bukan Hanya Salad, Ini Filosofi dan Makna dalam Tradisi Slametan

Bacaini.ID, KEDIRI – Urap atau salad Jawa sering dipandang sebagai hidangan sederhana di tengah kekayaan kuliner Nusantara.

Membuat urap hanya butuh sayuran rebus dengan parutan kelapa berbumbu.

Urap bukan sekadar pelengkap nasi. Khususnya bagi masyarakat jawa hidangan ini kerap hadir dalam acara syukuran, slametan, dan berbagai ritus sosial. Menjadi simbol kehidupan, doa, dan harapan akan keseimbangan.

Kesederhanaan urap justru menyimpan lapisan makna historis dan filosofis yang panjang.

Sejarawan kuliner Fadly Rahman dalam bukunya ‘Jejak Rasa Nusantara’ menjelaskan bahwa makanan tradisional Jawa tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai masyarakat agraris.

Urap yang berbahan dasar sayuran dan kelapa, merefleksikan kedekatan manusia Jawa dengan alam sekaligus cara mereka memaknai hasil bumi sebagai anugerah yang patut disyukuri, bukan dieksploitasi berlebihan.

Asal-usul Urap dalam Sejarah Jawa

Urap secara harfiah dalam bahasa Jawa adalah sesuatu yang dicampur. Sementara secara etimologis, kata urap dalam bahasa Jawa kerap dihubungkan dengan makna urip atau hidup.

Menurut Koentjaraningrat dalam ‘Kebudayaan Jawa’, konsep hidup dalam pandangan Jawa tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.

Karena itu, makanan dalam tradisi Jawa sering diberi muatan simbolik.

Fadly Rahman mencatat bahwa tradisi mengonsumsi sayuran rebus dengan kelapa telah dikenal sejak masa pra-kolonial, ketika masyarakat Jawa mengembangkan pola hidup agraris yang bergantung pada sawah dan kebun.

Urap lahir dari konteks ini: bahan-bahannya mudah didapat, tidak eksklusif, dan mencerminkan prinsip kesederhanaan yang egaliter.

Urap dalam Slametan: Makanan sebagai Medium Doa

Dalam praktik ritual slametan atau syukuran, urap hampir selalu hadir. Antropolog Clifford Geertz dalam ‘The Religion of Java’ menyebut slametan sebagai ritual inti masyarakat Jawa yang berfungsi menjaga keseimbangan kosmos dan hubungan sosial.

Makanan dalam slametan bukan sekadar konsumsi, melainkan sarana menyampaikan doa secara kolektif.
Urap dengan beragam sayuran yang disatukan oleh kelapa berbumbu, dimaknai sebagai simbol persatuan.

Setiap unsur berbeda, namun menyatu tanpa saling meniadakan. Urap menjadi representasi ideal masyarakat Jawa: rukun, seimbang, dan menghindari konflik terbuka.

Makna Simbolik Bahan-bahan Urap

Menurut Koentjaraningrat, simbolisme makanan dalam budaya Jawa sering terletak pada bahan-bahannya. Sayuran hijau seperti bayam dan kangkung melambangkan ketenteraman dan kesejukan hidup.

Kacang panjang kerap dimaknai sebagai simbol umur panjang dan kesinambungan, sementara tauge merepresentasikan pertumbuhan dan awal kehidupan baru.

Kelapa yang menjadi unsur utama bumbu urap, memiliki makna khusus. Dalam kajian simbolik Jawa, kelapa dipandang sebagai lambang kesempurnaan karena seluruh bagiannya bermanfaat.

Ketika kelapa diparut dan dicampur dengan aneka sayuran, ia berfungsi sebagai perekat, baik secara rasa maupun filosofi.

Nilai Pluralisme dalam Sepiring Urap

Urap juga sering dibaca sebagai simbol pluralisme. Beragam sayuran dengan warna, tekstur, dan rasa berbeda hadir dalam satu hidangan tanpa ada yang lebih dominan.

Nilai ini sejalan dengan sejarah masyarakat Jawa yang hidup dalam persinggungan berbagai kepercayaan dan budaya.

Clifford Geertz mencatat bahwa kebudayaan Jawa terbentuk dari pertemuan tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.

Urap dalam kesederhanaannya, mencerminkan kemampuan masyarakat Jawa merangkul perbedaan tanpa menghapus identitas masing-masing unsur.

Urap juga mencerminkan struktur masyarakat. Masyarakat agraris Jawa menempatkan kebersamaan dan gotong royong sebagai nilai utama.

Urap yang kerap dimasak dan disantap bersama, menjadi bagian dari praktik sosial tersebut.

Tidak membutuhkan bahan mahal, urap dapat dinikmati semua lapisan masyarakat. Inilah yang membuatnya hadir dalam berbagai ritus, dari keluarga sederhana hingga komunitas desa, tanpa kehilangan makna simboliknya.

Urap di Era Modern, Makanan Sehat dan Jadi Salad Favorit

Seiring modernisasi, fungsi ritual urap mulai berkurang. Ia kini lebih sering hadir sebagai menu rumah tangga atau sajian restoran tradisional, tidak hanya sebagai sajian ritual slametan.

Urap menjadi salah satu pilihan salad khas Indonesia yang dinilai lebih sehat dan bergizi. Menjadi pilihan makan sayur-sayuran dengan rasa yang enak.

Namun di banyak wilayah pedesaan, urap masih mempertahankan perannya sebagai makanan simbolik dalam syukuran dan slametan.

Menurut Fadly Rahman, tantangan utama makanan tradisional saat ini bukan pada kepunahan resep, melainkan hilangnya pemahaman makna.

Generasi muda kerap mengenal urap sebatas rasa, tanpa memahami nilai filosofis yang menyertainya.
Memahami urap artinya membaca ulang cara masyarakat Jawa memaknai kehidupan: sederhana, kolektif, dan selaras dengan alam.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Warga Wonodadi Blitar Protes Lokasi Gedung KDMP, Dinas: Kurang Sosialisasi

Warga Wonodadi Blitar Protes Lokasi Gedung KDMP, Dinas: Kurang Sosialisasi

Tips Atasi Rasa Canggung Bersama Keluarga Pasangan Saat Liburan Bareng

Long Weekend Isra Mikraj, Saatnya Healing dan Quality Time

Urap Jawa Bukan Hanya Salad, Ini Filosofi dan Makna dalam Tradisi Slametan

Urap Jawa Bukan Hanya Salad, Ini Filosofi dan Makna dalam Tradisi Slametan

mount paltry
Tekno & Sains

Mount Paltry Gunung Terkecil di Dunia Sukses Kecoh Netizen Internasional

Bacaini.ID, KEDIRI – Mount Paltry diklaim sebagai gunung terkecil di dunia. Lantaran tingginya hanya 7 cm, informasi beserta visual itu...

Baca ini..

Napi Lapas Blitar Diduga Dianiaya Hingga Koma

Kebanyakan Kuliner di Blitar yang Ramai Karena Murah, Bukan Enak, Itu Tak Diragukan

Lapas Blitar Blak-blakan Soal Penganiayaan Napi yang Berujung Kematian

Paradigma Realisme dalam Hubungan Internasional

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In