Bacaini.ID, KEDIRI – Seorang ibu berusia 44 tahun di Kebumen, Jawa Tengah, mengakhiri hidup bersama anak bungsunya, 6 Januari 2026. Anak sulungnya yang berusia tujuh tahun berhasil selamat dan meminta pertolongan warga.
Kasus ini bukan sekadar kabar kriminal, melainkan cermin pahit tentang bagaimana kemiskinan, depresi, dan lemahnya kepedulian sosial bisa berujung pada tragedi kemanusiaan.
Kemiskinan bukan hanya angka statistik dalam laporan Badan Pusat Statistik. Ini adalah realitas yang menekan psikologis dan sosial keluarga.
Hidup dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan berarti setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan. Kombinasi beban ekonomi dan keterasingan sosial menciptakan ruang gelap yang akhirnya menelan nyawa.
Menyedihkannya tragedi ini terjadi di tengah masyarakat desa yang dikenal dengan budaya gotong royong. Fakta bahwa penderitaan keluarga ini tidak terdeteksi lebih awal menunjukkan adanya retaknya kepedulian komunitas. Tetangga, tokoh masyarakat, bahkan lembaga sosial tampak absen dalam memberikan dukungan.
Baru setelah tragedi terjadi, warga tersadar bahwa ada keluarga di sekitar mereka yang hidup dalam kesepian dan keputusasaan.
Bantuan pemerintah sering kali berhenti pada angka penerima, tanpa evaluasi dampak nyata. Program sosial yang ada lebih berfungsi sebagai pencitraan ketimbang solusi struktural.
Padahal, keluarga seperti korban membutuhkan lebih dari sekadar sembako. Mereka butuh pendampingan psikologis, dukungan komunitas, dan sistem pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
Tragedi Kebumen adalah alarm keras bagi kita semua. Ini mengingatkan bahwa kemiskinan bisa berujung pada tragedi jika tidak diimbangi dengan kepedulian sosial.
Pemerintah harus memperkuat jaring pengaman, sementara masyarakat harus kembali menumbuhkan solidaritas. Jangan sampai ada lagi keluarga yang merasa sendirian menghadapi tekanan hidup, hingga memilih jalan paling tragis.
Kita tidak boleh hanya berduka. Kita harus berbenah.
Penulis: Hari Tri Wasono





