Bacaini.ID, KEDIRI – Nama RM Tirto Adhi Soerjo atau Tirto Adhi Suryo mulai dikenal luas setelah redaktur halaman Lentera Bintang Timur Pramoedya Ananta Toer, mengulas sosoknya secara istiqomah.
Profil Tirto Adhi Suryo muncul secara bersambung di Bintang Timur, kadang sepertiga halaman, dan bahkan pernah satu halaman penuh. Pram betul-betul membrandingnya ulang.
Pada 1950-an akhir itu, nama Tirto dan peran besarnya di masa pergerakan Kebangkitan Indonesia mulai dikenal khalayak luas, khususnya bagi kalangan wartawan.
Tirto Adhi Suryo diketahui lahir di Cepu, Kabupaten Blora Jawa Tengah 1880. Kawasan hutan jati yang juga tempat kelahiran Pramoedya Ananta Toer.
Tirto merupakan cucu Bupati Bojonegoro Raden Mas Tumenggung Tirtonoto. Namun bukan di sana sorotan Pramoedya Ananta Toer tertuju.
Tapi lebih kepada peran Tirto Adhi Suryo sebagai jurnalis, pebisnis media dan tokoh pergerakan.
Seorang jurnalis yang mula-mula menuliskan laporan-laporannya di media massa dengan bahasa pribumi, bahasa Melayu, bahasa Indonesia.
Pada tahun 1907, Tirto Adhi Suryo diketahui meluncurkan Medan Prijaji.
Sebuah surat kabar mingguan yang dianggap sebagai surat kabar pertama yang benar-benar “Indonesia”, karena dimiliki, dikelola, dan ditujukan untuk masyarakat pribumi.
Sebelumnya pada tahun 1903, protolan (DO) sekolah dokter STOVIA itu mendirikan surat kabar Soenda Berita, salah satu surat kabar pertama yang dimiliki dan dikelola oleh pribumi.
Tirto Adhi Suryo merupakan paket lengkap. Sebagai jurnalis yang piawai dalam bahasa dan sastra, penanggung jawab konten berita, sekaligus penjaga gawang kelangsungan bisnis media.
Ia yang mula-mula mengenalkan sistem bagi saham di dalam perusahaan media yang dipimpinnya. Termasuk mengawinkan peran media massa dengan aktifitas pergerakan nasional.
Pada ruang itu ia melahirkan banyak anak didik jurnalis radikal, salah satunya Mas Marco Kartodikromo.
Tirto juga merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah Sarekat Islam (SI), di mana namanya kemudian tenggelam oleh popularitas si Raja Tanpa Mahkota, H.O.S Tjokroaminoto.
Sebagai jurnalis, Tirto Adhi Suryo terkenal sebagai penulis yang kritis dan tajam, bukan wartawan yang melayani tulisan pesanan kekuasaan.
Imbas dari tulisan-tulisannya yang kerap menyudutkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda itu membuatnya dicap sebagai penghasut.
Ia dibuang ke Lampung. Namun hukuman pengasingan itu tidak membuatnya jera. Karenanya, ia diasingkan lagi lebih jauh, yakni di Pulau Bacan, Maluku.
Tirto Adhi Suryo tutup usia pada 7 Desember 1918 di Batavia (Jakarta) dengan gejala sakit yang misterius.
Sastrawan Pramoedya Ananta Toer mengabadikan sosok Tirto dalam roman Tetralogi Buru dengan tokoh bernama Minke atau Tuan TAS.
Pada tahun 2006, melalui Kepres RI No 85 Tahun 2006, Pemerintah Indonesia menobatkan Tirto Adhi Suryo sebagai pahlawan nasional.
Perannya sebagai pelopor jurnalisme di Indonesia membuatnya dijuluki sebagai Bapak Pers Nasional.
Namun ironisnya, pemilihan Hari Pers Nasional yang dirayakan setiap tahun di Indonesia, tidak memiliki kaitan apapun dengan Tirto Adhi Suryo.
Penulis: Solichan Arif