Bacaini.ID, KEDIRI – Pangeran Diponegoro hanya menurut ketika seorang pegawai kehakiman di Batavia dengan sopan meminta melukisnya.
Jan Bik, nama pegawai kehakiman itu, yang karirnya berawal dari seorang juru gambar Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Sejak 1828, Jan Bik menjabat sebagai baljauw, hakim daerah yang kedudukannya setara residen.
Pangeran Diponegoro dibiarkan duduk dengan gestur lengan kiri bertumpu pada sandaran kursi. Posisinya berhadap-hadapan dengannya.
Dipandanginya baik-baik wajah Diponegoro dari jarak dekat. Seorang bangsawan Jawa yang selama 5 tahun (1825-1830) mengobarkan perang dan membuat kas negara terkuras habis.
Seorang Pangeran yang di akhir pemberontakannya mengalami penderitaan fisik yang berat: tiga bulan terpojok di hutan Begelen Purworejo dengan wajah rusak akibat demam malaria dan hanya ditemani dua pengawal setia.
Manusia yang begitu ditakuti dan telah menjadi pesakitan. Jenderal De Koch berhasil menjebaknya dengan perundingan di Magelang Jawa Tengah.
Jan Bik memulai sketsanya di atas kertas putih. Paras Diponegoro muncul dalam goresan halus dengan tatapan mata yang tajam.
Gestur yang kemudian disebut sebagai pancaran yang bermartabat.
Diponegoro mengenakan busana model kebaya tertutup kancing dan jas longgar yang menyampir pada bahu. Sebilah keris terselip pada selempang berhias sulaman.
Jan Bik menuntaskan bagian kepala Diponegoro dalam sketsa kasar: tertutup serban dengan ujung tergantung di atas bahu kiri.
Dikutip dari buku Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600, Jan Bik menuntaskan sketsa Pangeran Diponegoro separuh badan antara 8 April dan 4 Mei 1830.
Ia menuliskan dua judul di sebelah kiri bawah dan tengah lukisan: A.J. Bik, digambar dari model hidup, Batavia 1830 dan Diponegoro, kepala para pemberontak di Jawa.
Pada tahun 1898 atau 68 tahun kemudian, Jan Bik menghadiahkan album bersampul kain linnen merah kepada Rijksmuseum di Amsterdam Belanda.
Album itu berisi 98 lembar halaman yang tertempel 74 gambar dan beberapa litografi. Salah satu gambar yang tertempel dan jadi yang terpenting adalah lukisan sketsa Pangeran Diponegoro.
“Sketsa pensil dari seorang pria, yang digambarkan hanya separuh badan: dia duduk di atas kursi,” tulis Harm Stevens dalam Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600.
Penulis: Solichan Arif