Bacaini.ID, KEDIRI – Hari ini Jumat tanggal 13. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, ini hanyalah hari biasa. Namun di banyak negara Barat, tanggal ini memicu kecemasan massal. Takhayul Friday 13 dipercaya membawa kesialan, kegagalan, bahkan malapetaka.
Tak sedikit orang yang memilih menunda transaksi bisnis, perjalanan, hingga keputusan penting karena takut bernasib buruk. Kepercayaan ini bukan sekadar mitos modern, melainkan berakar dari sejarah agama, legenda kuno, hingga diperkuat budaya pop dan film horor.
Friday 13 atau hari Jumat yang tepat menunjukkan tanggal 13 memiliki makna khusus yang cenderung negatif bagi masyarakat yang masih memegang nilai tradisional. Budaya populer Barat menganggap Friday the 13th sebagai salah satu tanggal yang paling identik dengan kesialan.
Lalu, benarkah Jumat tanggal 13 memang lebih berbahaya ketimbang hari lain? Ataukah semua ini hanya efek sugesti kolektif yang diwariskan turun-temurun?
Asal-Usul Angka 13 yang Dianggap Sial
Angka 13 sudah lama dianggap sebagai angka sial dalam tradisi Eropa. Dalam Kekristenan, Perjamuan Terakhir dihadiri oleh 13 orang, Yesus dan 12 murid, dan Yudas, sang pengkhianat, disebut sebagai tamu ke-13. Sejak itu, angka 13 kerap diasosiasikan dengan pengkhianatan dan malapetaka.
Dalam mitologi Nordik, ada kisah tentang 12 dewa yang sedang berpesta di Valhalla ketika Loki datang sebagai tamu ke-13 dan menyebabkan kematian dewa Balder.
Kisah ini semakin menguatkan reputasi buruk angka 13 dalam budaya Barat. Bahkan hingga kini, banyak gedung di Amerika dan Eropa yang melewati nomor lantai 13 atau maskapai yang tidak memiliki baris kursi nomor 13.
Fenomena ini mirip dengan tradisi di beberapa negara Asia Timur, seperti China, yang menganggap angka 4 sebagai angka sial karena pelafalannya mirip dengan kata ‘mati’.
Alasan Hari Jumat Menjadi Berkonotasi Negatif
Jika dalam tradisi Nusantara hari Jumat atau malam Jumat identik dengan hal-hal mistis dan gaib, di dunia Barat pun memiliki keyakinan serupa.
Hari Jumat punya reputasi ambigu dalam sejarah Barat. Dalam tradisi Kristen, Yesus diyakini disalibkan pada hari Jumat. Di Inggris abad pertengahan, Jumat juga sering dikaitkan dengan hari hukuman mati.
Ketika angka 13 yang dianggap sial bertemu dengan hari Jumat yang juga punya konotasi negatif, kombinasi ‘Friday the 13th’ pun dianggap membawa nasib buruk berlipat.
Salah satu teori populer lainnya mengaitkan Jumat, 13 Oktober 1307, dengan penangkapan massal Ksatria Templar oleh Raja Prancis Philip IV.
Namun, banyak sejarawan menilai kaitan ini lebih bersifat spekulatif dan baru dipopulerkan jauh di era modern.
Phobia Friday 13: Keyakinan yang Timbulkan Masalah Psikologis
Keyakinan pada budaya hingga menumbuhkan ketakukan tertentu ini bahkan memiliki istilah ilmiahnya sendiri. Phobia Friday the 13th dinamakan paraskevidekatriaphobia. Sementara ketakutan terhadap angka 13 saja disebut triskaidekaphobia.
Menurut sejumlah survei di Amerika Serikat, jutaan orang mengaku merasa cemas atau menghindari aktivitas penting pada Jumat tanggal 13.
Beberapa laporan menyebutkan adanya penurunan transaksi bisnis dan perjalanan pada tanggal tersebut karena faktor psikologis. Namun, penelitian statistik tidak menunjukkan bukti konsisten bahwa kecelakaan atau peristiwa buruk meningkat secara signifikan pada Friday 13 dibanding hari lain.
Baca Juga:
- Mitos Siklus Minta Tumbal di Erupsi Semeru, Benarkah?
- Siapa Eyang Djojodigdo? Patih Blitar yang Dikaitkan dengan Mitos Lahar Gunung Kelud
- Benarkah Berbuat Jahat di 2 Desa di Kediri ini akan Dimangsa Harimau?
Popularitas Friday the 13th makin menguat setelah munculnya film horor berjudul sama pada 1980, yang menampilkan karakter ikonik Jason Voorhees. Sejak itu, tanggal ini identik dengan aura mencekam, misterius, dan horor.
Budaya pop memperkuat sugesti bahwa Jumat tanggal 13 adalah hari yang ‘tidak biasa’, meski tidak ada dasar ilmiah yang kuat.
Fakta Unik Friday 13
Friday the 13th lebih merupakan konstruksi budaya daripada fenomena mistis. Ia hidup karena diwariskan dari cerita ke cerita, diperkuat film, dan dipelihara oleh sugesti kolektif.
Namun ada beberapa fakta unik mengenai Friday 13:
• Dalam setahun, Jumat tanggal 13 bisa terjadi minimal satu kali dan maksimal tiga kali.
• Jika suatu bulan dimulai pada hari Minggu, maka tanggal 13 akan jatuh pada hari Jumat.
• Beberapa budaya justru menganggap angka 13 sebagai simbol keberuntungan.
• Friday 13 menjadi ajang promosi dan menjadi hari keberuntungan bagi pemilik usaha. Beberapa kota di AS menjadikan Friday the 13th sebagai hari promosi dan memberi diskon khusus pada pelanggan. Hasilnya, ramai pelanggan dan untung lebih banyak.
• Sebuah studi di Inggris sempat menyebutkan angka kecelakaan lalu lintas sedikit lebih tinggi pada Friday the 13th dibanding Jumat biasa. Namun penelitian lain yang mungkin berkorelasi dengan hal ini menyebutkan bahwa sugesti bisa memengaruhi perilaku.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa ketika orang percaya suatu hari membawa sial, mereka cenderung lebih cemas, kurang fokus, lebih waspada atau justru ceroboh.
Percaya atau tidak, Jumat tanggal 13 tetaplah satu hari biasa dalam kalender, kecuali jika kita membiarkannya terasa luar biasa.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





