Bacaini.ID, KEDIRI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak pernah berhenti menuai respon masyarakat. Terbaru, emak-emak memprotes nilai ekonomi paket MBG yang dianggap jauh dari pagu pemerintah.
Komplain ini sering dilontarkan pada paket menu makanan kering yang diberikan kepada kelompok B3 (bumil, busui, dan balita). Berbeda dengan menu makanan siap santap, menu keringan terdiri dari berbagai jenis makanan non olahan dapur, seperti biskuit, roti, buah, susu, dan lainnya.
Karena produk pabrikan dijual bebas di pasaran, emak-emak bisa memantau harga belinya dan menghitung sesuai pagu yang ditetapkan Badan Gizi Nasional. Pagu untuk balita senilai Rp 8 ribu dan pagu untuk ibu hamil dan menyusui senilai Rp 10 ribu.
Komplain terjadi ketika paket MBG yang diterima, menurut perhitungan emak-emak, di bawah nilai tersebut. Sehingga komentar pedas pun berseliweran di media sosial.
Putri Lorenza, ahli gizi dari Satuan Pelayanan Penyedia Gizi (SPPG) Deyeng, Ringinrejo, Kabupaten Kediri mengatakan menu MBG yang diolah relawan dapur maupun pabrikan harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan BGN. “Mulai pilihan menu, kecukupan gizi, hingga harganya harus sesuai pagu,” kata Putri, Sabtu, 10 Januari 2026.
Ia mengatakan, transparansi pengelolaan program harus dilakukan SPPG kepada masyarakat, khususnya penerima manfaat. Salah satunya dengan mencantumkan keterangan harga di masing-masing item menu yang disajikan, sehingga masyarakat bisa memantau nilai ekonomi paket yang diterima.
“SPPG kami sudah membuka informasi harga per item melalui media sosial kami. Masyarakat juga bisa bertanya langsung kepada kami jika ingin mengetahui nilai ekonomi menu yang diberikan,” kata Putri.
Hari ini, SPPG Deyeng Ringirenjo menyajikan menu keringan kepada kelompok balita dengan item dan harga sebagai berikut:
- Chiffon pandan (3.500)
- Abon sapi 30 gram (5.250)
- Telur puyuh 4 biji (1.280)
- Pisang cavendish 2 biji (2.600)
- Susu UHT 125 ml (3.300)
- Plastik OPP (100)
Total nilai ekonomi paket tersebut sebesar Rp 16.030, lebih tinggi dari pagu pemerintah sebesar Rp 16.000. Paket tersebut adalah rapelan untuk dua hari distribusi yang diberikan sekaligus.
Untuk item menu ibu hamil dan menyusui sebagai berikut:
- Chiffon pandan (3.500)
- Marie Regal (1.200)
- Abon sapi 30 gram (5.250)
- Telur ayam 2 biji (4.600)
- Pisang cavendish 2 biji (2.600)
- Susu UHT 125 ml (3.300)
- Plastik OPP (100)
Total nilai ekonomi paket tersebut sebesar Rp 20.550, lebih tinggi dari pagu pemerintah sebesar Rp 20.000. Paket tersebut rapelan untuk dua hari distribusi yang diberikan sekaligus.
Putri menambahkan, distribusi untuk paket keringan ini merupakan kewenangan masing-masing SPPG. “Ada yang memberikan dua hari sekali seperti kami, ada juga yang sampai satu minggu sekali,” katanya.
Pola distribusi yang tidak sama ini sering menimbulkan kesalahpahaman masyarakat. Mereka kerap membandingkan paket yang diterima dari salah satu dapur atau SPPG dengan dapur lainnya. Sementara nilai ekonominya tentu berbeda menyesuaikan jumlah rapelan yang diterima.
“Paket untuk tujuh hari sudah tentu lebih banyak dibanding yang dikirim dua hari sekali,” imbuh Putri.
Untuk menghindari kesalahpahaman, ia menyarankan kepada siapapun untuk bertanya langsung kepada SPPG maupun melalui media sosial yang ada.
Penulis: Hari Tri Wasono





