Bacaini.ID, KEDIRI – Orang-orang KGB (Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti) atau Komite Keamanan Negara Uni Soviet masih bertahan di Indonesia meski Soekarno telah lengser dan digantikan Soeharto.
Mereka masih melakukan kerja-kerja intelijen. Kerja-kerja senyap. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di sejumlah daerah. Di beberapa kegiatan berkolaborasi dengan GRU (Dinas intelijen militer Soviet).
Baca Juga:
- Upaya Jahat CIA Siapkan Film Porno dengan Aktor Mirip Bung Karno
- CIA Pantau 10 Negara dengan Pertumbuhan Penduduk Terbesar di Dunia, Termasuk Indonesia?
- Sleman Viral Lagi! Lawan Klitih Berujung Penjara 10 Tahun dan Denda 1 Miliar
Pada medio 1970-an, jumlah orang-orang KGB di Indonesia sebanyak 24 orang. Beberapa orang bahkan berhasil menempati posisi penting di pemerintahan Orde Baru.
“Mereka adalah dua puluh empat pejabat KGB dan GRU yang ditempatkan di Jakarta, Medan dan Surabaya sejak awal 70-an,” demikian dikutip dari buku Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia Rabu (11/2/2026).
Lembaga resmi negara menjadi tempat strategis bagi para agen asing. Termasuk di Indonesia. Menjadi tempat paling aman untuk berkamuflase. Salah satunya adalah Atase Kebudayaan.
Buku Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia menyebut nama Boris Liapine. Liapine merupakan salah satu pejabat Atase Kebudayaan yang dicurigai sebagai agen KGB.
Segala gerak-gerik Boris Liapine dalam pantauan tim Satsus Intel (Satuan Khusus Intelijen) Soeharto. Satsus Intel adalah sebuah unit baru Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) yang berdiri 16 November 1968.
Satsus Intel berdiri setelah Pemerintahan Soeharto menerima kunjungan Clarence “Ed” Barbier, salah seorang pejabat CIA (Central Intelligence Agency), agen intelijen Amerika Serikat.
Clarence Barbier kemudian bekerja di kedutaan. Ia merupakan Kepala Stasiun CIA yang khusus mengawasi hubungan dengan Bakin. Pada Perang Dunia II tercatat sebagai intelijen angkatan laut dengan keahlian bahasa Jepang.
Juga pernah bergabung dalam marinir Amerika Serikat pada Perang Pasifik. Ia mendorong Kolonel Nicklany, Wakil Asisten Intelijen Kopkamtib untuk mewujudkan gagasan Satsus Intel.
Sebelumnya Nicklany berharap adanya unit khusus di Bakin yang memiliki tugas kontra intelijen asing. Termasuk menangkap mata-mata asing yang beroperasi di Indonesia.
Boris Liapine teridentifikasi sebagai agen lapangan KGB yang berkedok Deputi Atase Kebudayaan. Satsus Intel menjuluki setiap agen KGB dan GRU dengan sebutan ‘Gatot’.
Boris tanpa sadar terus diikuti. Termasuk di tempat-tempat hiburan malam di kawasan Menteng hingga dini hari. Ia kerap menikmati malam dengan menenggak minuman hingga tidak sadarkan diri.
Satsus Intel Soeharto juga memantau gerak-gerik Vladislav Romanov. Romanov seorang Rusia ahli bahasa yang bekerja di Atase Politik. Kemudian juga mengawasi Oleg Brykin.
Dari semua yang diawasi Satsul Intel, Oleg Brykin lah yang dianggap paling berbahaya karena piawai membangun jaringan. Brykin pandai merekrut anggota baru.
Pada awal 1970-an Brykin terungkap merekrut 2 orang yang bekerja di kedutaan Inggris. Untuk memastikan identitas itu Satsus Intel melacak data mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di blok Soviet.
Pelacakan melalui data mahasiswa tidak berhasil lantaran banyak arsip yang hancur saat peristiwa penyerbuan massa di Departemen Luar Negeri pada tahun 1966.
Perang melawan agen Intelijen Soviet
Satsus Intel rezim Soeharto tidak berhenti melakukan kegiatan kontraintelijen guna menangkal kerja-kerja senyap agen rahasia Soviet.
Pada pertengahan tahun 1972, Satsus Intel berhasil mengkooptasi Nikolai Grigoryevich Petrov, seorang Kapten GRU berusia 33 tahun.
Petrov 5 tahun belajar bahasa Indonesia dan cakap ngobrol bahasa Jawa. Ia agen Soviet yang awalnya menyamar juru bahasa dalam Proyek 055 di Surabaya.
Proyek 055 merupakan proyek pemberian sisa bantuan Soviet kepada Angkatan Laut Indonesia. Petrov yang bekerja di kedutaan Soviet datang ke Jakarta bersama kontingen GRU berjumlah 10 orang.
Tim ini dipimpin oleh Kolonel Nikolai Khakalin, rezident GRU yang berkedok Atase Pers Senior.
Satsus Intel banyak mendapat pasokan informasi dari Petrov. Termasuk mengetahui adanya infiltrasi (penyusupan) mata-mata Soviet di tubuh militer Indonesia.
Diinformasikan kalau GRU telah merekrut seorang letnan angkatan udara produktif yang bertugas di bagian tekhnik. Juga adanya agen yang menduduki posisi penting di Pangkalan Angkatan Laut Surabaya.
Terungkap perekrut dari operasi telik sandi asing di militer Indonesia adalah Vladimir Abromov. Abromov merupakan salah satu dari 10 orang kontingen GRU yang datang ke Indonesia bersama Petrov.
Abromov juga berhasil merekrut Yamin, seorang karyawan sipil berumur 31 tahun yang bekerja di Markas Besar Angkatan Laut Indonesia. Yamin mendapat upah cukup besar tiap bulan. Ia juga melibatkan istrinya.
Terungkap juga sejumlah sandi yang menjadi kebiasaan mata-mata Soviet. Mereka suka memakai kode lampu dim mobil dalam mengirim pesan kepada agen lain yang menanti di trotoar.
Juga gemar memakai sandi meletakkan secarik kertas putih di atas dashboard, gulungan koran di tangan kanan atau koran yang dijepit pada ketiak.
Agen Soviet juga diketahui suka merekrut anggota baru dengan sasaran lembaga legislatif, utamanya tenaga ahli di MPR. Kemudian juga para pegawai Kantor Pos. Namun yang paling disukai adalah merekrut anggota baru dari tubuh militer Indonesia.
Pada pertengahan Juni 1972 kerja-kerja Petrov untuk Satsus Intel Soeharto dan CIA terbongkar agen Soviet. Ia teridentifikasi sebagai agen ganda. Petrov diburu karena dianggap berkhianat, namun berhasil lolos.
Bakin dan CIA menerbangkan Petrov ke Filipina dengan pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat dan kemudian dipindahkan ke Washington DC. Petrov mendapat suaka di Virginia.
Dua tahun kemudian Petrov kembali melakukan kerja-kerja intelijen dengan nama sandi Houdini. Namun tidak lama nasibnya tidak diketahui. Informasinya setelah mencoba menemu anak dan istrinya di Soviet.
Penulis: Solichan Arif





