Bacaini.ID, KEDIRI — Syarifah Suraidah Abidien Harum, istri dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, mendadak viral di media sosial karena gaya busananya yang disebut warganet serupa Noni Belanda.
Salah satu video yang menjadi sorotan adalah saat Bunda Harum, nama sapaannya, sedang berbagi bantuan kepada warga. Penampilannya yang glamor di tengah kegiatan sosial memantik respon warganet, sebagian di antaranya mengaitkan dengan estetika kolonial masa lalu.
Topi lebar bergaya Eropa klasik, kalung mutiara berlapis, beberapa kali juga terlihat menggunakan payung ‘cantik’, serta gaun panjang dengan siluet vintage mengingatkan orang pada penampilan noni-noni Belanda di masa penjajahan.
Indonesia memiliki sejarah kolonial yang panjang, dan memori kolektif tentang masa itu masih hidup dalam imajinasi visual masyarakat. Ketika elemen fashion yang mengingatkan pada aristokrasi Eropa awal abad 20 muncul di ruang publik Indonesia, respon masyarakat pun tak terelakkan.
Baca Juga:
- Gaya Ngortis ala CORTIS: Berantakan, Rebel, tapi Jadi Tren Fashion 2026
- Model Gamis Rompi Lepas Jadi Tren Baju Lebaran 2026
Edwardian Style: Gaya Bangsawan Eropa Awal Abad ke-20
Melihat gaya busana Bunda Harum, warganet seperti diingatkan pada gaya busana aristokrat Eropa. Elemen paling kuat adalah topi lebar (wide-brim hat), yang secara historis populer pada era Edwardian (awal 1900-an).
Topi seperti ini lazim digunakan dalam garden party aristokrat Eropa dan menjadi simbol status sosial kelas atas.
Kalung mutiara berlapis juga bukan aksesori sembarangan. Dalam sejarah fashion Barat, mutiara identik dengan aristocratic femininity dan old money aesthetic.
Coco Chanel pada awal abad ke-20 bahkan mempopulerkan mutiara sebagai simbol elegansi klasik.
Gaun panjang dengan siluet fitted di bagian atas dan volume di bagian bawah semakin memperkuat kesan gaya Edwardian.
Potongan pinggang yang tegas membentuk hourglass silhouette, ciri khas busana perempuan Eropa era tersebut. Gaya seperti ini bukanlah sesuatu yang asing dalam beberapa tahun terakhir.
Busana dengan sentuhan vintage menjadi tren seperti tren ‘old money aesthetic’, ‘vintage revival’, hingga ‘indische style’ yang memberi kesan romantis dengan permainan renda-renda.
Artinya, secara global, gaya ini adalah tren. Namun di Indonesia, konteks sejarah membuatnya dibaca berbeda. Indonesia sebagai negara bekas jajahan, simbol visual tertentu kerap memicu sensitivitas historis.
Fashion Statement dan Citra Pejabat Publik
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu dalam teorinya tentang distinction menjelaskan bahwa selera, termasuk selera berpakaian, bukan sekadar preferensi pribadi, namun juga penanda kelas sosial dan identitas budaya. Busana menjadi alat komunikasi nonverbal.
Di ruang publik Indonesia, terutama dalam acara sosial atau kenegaraan, ada ekspektasi tidak tertulis tentang representasi budaya. Batik, kebaya, busana muslim modern, atau busana formal nasional dianggap sebagai simbol yang lebih ‘aman’ secara kultural.
Ketika gaya Eropa klasik muncul, publik tidak membacanya hanya sebagai tren, namun sebagai simbol yang memiliki resonansi sejarah. Fashion berubah menjadi wacana sosial.
Topi aristokrat Eropa dan mutiara mungkin hanya elemen fashion di Paris atau London, namun di Indonesia, ia bisa memicu asosiasi kolonial.
Dalam praktik komunikasi politik, fashion kerap digunakan untuk membangun citra diri di ruang publik. Fashion menjadi pernyataan sikap tentang bagaimana ia ingin dipandang masyarakat.
Itulah sebabnya istilah ‘noni Belanda’ muncul spontan di media sosial. Bukan semata-mata karena detail teknis busana, melainkan karena asosiasi historis yang melekat.
Di sisi lain, tren vintage dan old money aesthetic memang tengah populer secara global dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pembacaan publik bisa berbeda-beda, tergantung pada perspektif sejarah dan preferensi estetika masing-masing.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





