Bacaini.ID, KEDIRI – Rencana uji coba manajemen dan rekayasa lalu lintas Jalan Stasiun Kota Kediri mendapat penolakan warga. Mereka meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan itu agar tidak merugikan warga.
Penerapan manajemen dan rekayasa lalu lintas ini sedianya dilakukan Dinas Perhubungan Kota Kediri mulai hari ini, Senin, 5 Januari 2026. Peraturan itu meliputi:
Jl. Stasiun: searah dari Barat (Jl. Dhoho) menuju Timur (Stasiun Kediri).
Jl. Tembus (samping Klinik KAI): searah ke Utara untuk semua jenis kendaraan.
Jl. Ade Irma Suryani: khusus kendaraan roda dua.
Jl. Untung Suropati & Jl. Tembus Hayam Wuruk: tetap berlaku dua arah.
Selain arus lalu lintas, petugas juga menerapkan aturan larangan parkir di sepanjang badan jalan Stasiun. Penataan ini untuk memperlihatkan wajah kawasan Jl Stasiun Kediri yang telah di-make over menyerupai kawasan Jl Malioboro Yogyakarta.

Salah satu warga Jalan Stasiun Kelurahan Balowerti RT 27 RW 07 bernama Deni mempertanyakan pertimbangan larangan parkir dan berdagang bagi pedagang kaki lima (PK5) di sana. “Saya ini asli warga Jalan Stasiun. Hari ini warga kompak menolak uji coba bebas parkir dan larangan berjualan,” kata Deni kepada Bacaini.ID, Senin, 5 Januari 2026.
Keputusan itu diambil saat menghadiri sosialisasi yang dilakukan pagi tadi oleh Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, dan Dinas Pariwisata Kota Kediri.
Setiap hari Deni berjualan kebutuhan harian di warung kelontong Jalan Stasiun. Ia dan pedagang lainnya menyasar para pejalan kaki dan karyawan toko yang makan dan ngopi di tempatnya. Karena itu ia mempertanyakan alasan pemerintah melarang para pedagang berjualan di sana.
“Kalau mau ada larangan, solusinya apa? Mereka melarang atas dasar apa? Keuntungan untuk PK5 apa?” kata Deni.

Ia juga mempertanyakan larangan parkir yang akan diterapkan di kawasan Jalan Stasiun. Alasannya, kawasan itu terdapat banyak permukiman, tempat pendidikan, rumah ibadah, dan kegiatan bisnis. Deni khawatir larangan parkir di tempat itu akan menyulitkan pengunjung rumah ibadah dan pertokoan di sana. Pengunjung dipastikan akan mencari toko yang berdekatan dengan tempat parkir.
Ia berharap Pemerintah Kota Kediri menyusun ulang rencana penataan kawasan itu agar tidak merugikan warga. Sebab para pedagang sudah hampir mati sejak dilakukannya pekerjaan proyek karena tak bisa berjualan. “Omzet kami di bawah 20 persen selama pembangunan. Ketika diresmikan kemarin, kami sempat berharap dapat mengembalikan lagi usaha. Tapi malah diusir Satpol PP,” keluh Deni.
Penulis: AK Jatmiko





