Bacaini.ID, KEDIRI – Pranata mangsa merupakan kalender musim tradisional Jawa yang digunakan sebagai pedoman aktivitas pertanian.
Kalender pertanian ini berdasar pada peredaran matahari dan gejala alam yang diamati dan dilakukan sejak zaman dulu.
Sistem pertanian dalam pranata mangsa lahir dari kearifan lokal berdasar kombinasi ilmu dan pengalaman turun temurun.
Hingga tercipta pedoman pertanian yang membagi musim (mangsa) menjadi 12. Membagi kapan waktu tepat untuk menanam, panen dan lainnya.
Pranata mangsa tidak hanya dimanfaatkan oleh petani, tapi juga digunakan oleh nelayan menandai kapan waktu yang tepat dalam pekerjaan mereka.
Baca Juga:
- Prakiraan Cuaca Buruk di Jawa Timur Seminggu ke Depan
- Cuaca Panas, BMKG Ingatkan Resiko Paparan Sinar UV Tinggi
- Cuaca Ekstrem Paksa Nelayan Trenggalek Berhenti Melaut
Fungsi dan Pembagian Waktu dalam Pranata Mangsa
Pranata mangsa merupakan kearifan lokal yang sudah ada sejak berabad-abad lampau di Jawa.
Pengamatan terhadap alam selama ribuan tahun, menciptakan satu sistem kalender musim yang diyakini dan diterapkan turun temurun.
Sekitar tahun 1855, Sri Paduka Susuhunan Pakubuwono VII menetapkan pranata mangsa sebagai kalender resmi pertanian di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berikut fungsi pranata mangsa.
• Menentukan Musim Tanam
Sebagai pedoman untuk mengetahui musim yang datang dan jenis tanaman apa yang cocok untuk ditanam.
• Pengelolaan Irigasi
Dalam pranata mangsa juga terdapat pedoman untuk manajemen air dalam pertanian, terutama untuk menghadapi musim (hujan/kemarau).
• Prediksi Cuaca dan Bencana
Pranata mangsa memberi pedoman tanda-tanda alam yang bisa dilihat untuk memprediksi cuaca maupun bencana.
Sementara untuk pembagian waktu, pranata mangsa dibagi menjadi 12 periode musim yang memiliki karakteristik alam berbeda-beda. Periode musim ini dibagi menjadi empat musim utama.
• Ketiga
Terdiri dari Mangsa Kasa, Karo dan Katelu, biasanya terjadi pada musim kemarau. Dalam kalender Masehi ada di antara akhir Juni hingga pertengahan September.
Mangsa Kasa adalah puncak musim kemarau yang ditandai dengan daun meranggas, tanah mulai kering, sumber air mengecil.
Mangsa ini petani bisa memulai persiapkan lahannya. Mangsa Karo ditandai dengan tanah yang retak-retak, pohon randu dan mangga yang mulai berbunga.
Sementara di Mangsa Katelu, ditandai dengan pohon-pohon yang mulai tumbuh tunas, dan suhu udara dingin di malam hari, bedhidhing.
• Labuh
Terdiri dari Mangsa Kapat, Kalima dan Kanem, menandai awal musim hujan. Dimulai pada pertengahan September sampai akhir Desember.
Mangsa ini ditandai dengan angin yang berhembus kencang dan suhu terasa panas. Hujan mulai turun di Mangsa Kalima, dan ini waktunya petani menyemai padi.
Di Mangsa Kanem, hujan turun secara rutin dan petani sudah waktunya menanam padi.
• Rendheng
Terdiri dari Mangsa Kapitu, Kawolu dan Kasanga saat hujan sedang deras-derasnya. Dimulai pada akhir Desember hingga akhir Maret.
Mangsa Kapitu saat hujan sedang deras-derasnya, waktunya petani untuk membuat saluran air atau mengatur irigasi.
• Mareng
Terdiri dari Mangsa Kasepuluh, Dhesta dan Saddha, menandai akhir musim hujan dan awal musim kemarau. Dimulai dari akhir Maret hingga Juni.
Saatnya pagi petani untuk bersiap panen. Mangsa ini biasanya ditandai dengan burung kecil yang mencari makan, buah nanas yang mulai masak dan curah hujan sedikit.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





