Bacaini.ID, KEDIRI — Di Indonesia petai atau pete identik dengan makanan ‘kampung’ atau ndeso yang murah dan tidak semua orang menyukainya.
Padahal faktanya pete memiliki kandungan nutrisi melimpah yang bermanfaat untuk kesehatan. Yang jarang diketahui adalah potensi ekonominya. Ekspor pete merupakan bisnis yang menjanjikan.
Baca Juga:
- Sleman Viral Lagi! Lawan Klitih Berujung Penjara 10 Tahun dan Denda 1 Miliar
- Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya
- Lagu-lagu Romi Jahat: Jejak Kritik Sosial Sang Legenda Punk Indonesia yang Berpulang
Di Indonesia, petai begitu melimpah. Harganya juga murah: sepuluh ribu dapat 3-4 papan petai ukuran besar. Siapa sangka di pasar global telah menjadi primadona.
Di luar negeri petai dilabeli sebagai ‘luxury ingredient’, bahan pangan premium. Sementara di Indonesia hanya menjadi pelengkap nasi uduk, sambal goreng atau lalapan.
Di banyak restoran Asia-Eropa, petai disajikan bersama udang, daging sapi maupun seafood sebagai signature dish karena aromanya unik dan membuat rasa umami lebih kuat.
Petai: Luxury Ingredient di Mancanegara
Di Indonesia atau negara Asia Tenggara lainnya, petai dianggap sebagai lauk sederhana. Hal berbeda terjadi di mancanegara, petai dipasarkan sebagai bahan makanan mewah dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Petai yang dikenal dengan nama Bitter Bean atau Stink Bean, memiliki harga yang fantastis. Di supermarket Asia di Eropa atau Amerika Serikat, beberapa papan petai kupas bisa dibanderol seharga puluhan Euro atau Dollar.
Di Eropa, harga petai bisa mencapai Rp 600.000 per kilogram. Sementara di Jepang, petai dibandrol dengan harga kisaran Rp 300.000 per kilogram.
Harga fantastis ini karena petai merupakan bahan makanan eksklusif di negara-negara tersebut. Petai sulit dibudidayakan di iklim nontropis. Karenanya langka dan diburu komunitas ekspatriat dan pecinta kuliner fusion.
Beberapa chef di restoran fine dining dikabarkan mulai bereksperimen dengan aroma tajam petai untuk memberikan dimensi rasa umami dan earthy yang unik pada hidangan modern.
Tren Ekspor Petai yang Menjanjikan
Indonesia merupakan salah satu eksportir utama petai. Daerah seperti Pati, Lumajang dan Probolinggo, secara rutin mengirimkan ratusan kuintal petai ke Jepang, Malaysia, Arab Saudi dan negara-negara lainnya.
Di luar negeri, petai biasanya dijual dalam bentuk frozen (beku), vacuum pack, atau sudah dikupas untuk menjaga kualitas aromanya.
Untuk Eropa, Belanda menjadi pintu masuk petai mengingat hubungan sejarah yang kental. Dari Belanda, petai didistribusikan ke negara-negara tetangga di Uni Eropa.
Data ekspor petai dari beberapa kementerian dan juga IBAI (Italian Bussiness Association in Indonesia) menunjukkan bahwa ekspor petai Indonesia terus mengalami ekspansi, baik dari volume maupun jangkauan pasar.
Meskipun Jepang tetap menjadi pasar premium yang paling aktif, namun peningkatan pengiriman petai ke negara-negara Eropa maupun Amerika Serikat terus terjadi.
Manfaat Petai Untuk Kesehatan
Meskipun aromanya sangat tajam karena kandungan senyawa sulfur, petai memiliki profil nutrisi yang sangat lengkap, menjadikannya makanan dengan berbagai manfaat kesehatan berikut:
• Menjaga Kesehatan Jantung dan Tekanan Darah
Petai merupakan sumber kalium (potasium) yang sangat baik namun rendah garam. Kalium berperan penting dalam menyeimbangkan kadar natrium di tubuh, sehingga dapat membantu menjaga denyut jantung tetap stabil dan menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).
• Mengontrol Gula Darah (Antidiabetes)
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa petai memiliki indeks glikemik rendah dan mengandung zat kimia seperti beta-sitosterol dan stigmasterol yang membantu menurunkan kadar gula darah. Ini menjadikannya pilihan makanan yang baik untuk membantu manajemen diabetes.
• Meningkatkan Mood dan Kualitas Tidur
Petai mengandung tryptophan, jenis asam amino yang diubah tubuh menjadi serotonin atau ‘hormon kebahagiaan’. Kandungan ini membantu merelaksasi tubuh, memperbaiki suasana hati, dan bahkan meredakan gejala depresi atau sindrom pramenstruasi (PMS).
• Mendukung Pencernaan yang Sehat
Kandungan serat pangan dalam petai membantu melancarkan sistem pencernaan dan mencegah sembelit. Selain itu, petai bersifat sebagai prebiotik yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus dan memiliki efek antibakteri terhadap kuman penyebab diare seperti Shigella.
• Mencegah Anemia
Karena kaya akan zat besi, konsumsi petai dapat merangsang produksi hemoglobin dalam darah. Hal ini sangat efektif untuk mencegah serta membantu mengatasi anemia yang sering menyebabkan gejala kelelahan dan pusing.
• Detoksifikasi dan Antioksidan
Petai kaya akan senyawa fenolik, flavonoid, dan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. Antioksidan ini membantu menangkal radikal bebas, mengurangi peradangan, mempercepat regenerasi kulit, serta berpotensi mencegah risiko kanker tertentu.
Meski bermanfaat, konsumsi petai tetap harus dibatasi terutama bagi mereka yang memiliki riwayat masalah ginjal, karena kandungan asam jengkolat dan kaliumnya yang tinggi bisa membebani kerja ginjal.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





