Bacaini.ID, KEDIRI – Generasi Z di Indonesia memiliki sikap politik yang unik di tahun 2026. Mereka tetap tertarik pada isu-isu politik, namun tidak loyal kepada partai politik.
Tim Riset Litbang Bacaini.ID menyebut jika Gen Z masih aktif mengikuti perkembangan politik. Namun cara mereka berpartisipasi berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lebih memilih menyuarakan pendapat melalui media sosial, kampanye digital, atau gerakan komunitas yang fokus pada isu lingkungan, pendidikan, dan teknologi.
“Interaksi digital, seperti Q&A, video pendek, dan konten isu sosial berhasil menarik perhatian Gen Z,” kata Danny Wibisono, Kepala Litbang Bacaini.ID, Jumat, 2 Januari 2026.
Meski begitu, sikap kritis mereka terhadap partai politik tetap kuat. Banyak anak muda menilai partai masih terlalu kaku, penuh dengan ritual seremonial, dan kurang transparan. Mereka lebih percaya pada gerakan berbasis isu yang nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih dari separuh Gen Z dan milenial kini aktif dalam aktivisme digital, terutama melalui kampanye isu lingkungan, pendidikan, hingga hak-hak sosial. Politik bagi mereka bukan lagi sekadar urusan bilik suara atau rapat umum, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dijalankan lewat media sosial, komunitas, dan gerakan berbasis isu.
Danny menambahkan, dominasi pemilih muda semakin terasa sejak Pemilu 2024, ketika lebih dari 50 persen suara berasal dari generasi milenial dan Gen Z. Angka ini menegaskan posisi mereka sebagai penentu arah politik nasional, sekaligus tantangan besar bagi partai politik untuk menyesuaikan strategi komunikasi.
Pandangan Gen Z terhadap partai politik pun semakin tegas. Mereka jarang hadir dalam rapat umum atau masuk ke struktur partai, tetapi lebih memilih mendukung gerakan berbasis isu seperti kampanye lingkungan, pendidikan, atau kesetaraan gender.
Meski aktif di ruang digital, hanya sekitar 14 hingga 15 persen Gen Z yang berminat mencalonkan diri sebagai legislatif atau kepala daerah. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, politik lebih bermakna sebagai ruang partisipasi sosial dan digital ketimbang jalur karier formal.
Dengan tren ini, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi partai politik. Jika tidak mampu beradaptasi dengan pola partisipasi baru generasi muda, partai berisiko kehilangan dukungan dari kelompok pemilih terbesar di Indonesia.
Danny Wibisono merekomendasikan kepada partai politik untuk bertransformasi digital dan hadir di platform yang digemari Gen Z, seperti Instagram dan TikTok. “Konten politik harus edukatif dan relevan, bukan sekadar ucapan seremonial,” katanya.
Ia juga merekomendasikan partai politik untuk berkolaborasi dengan komunitas sosial demi membangun kepercayaan. Sebab transparansi dan aksi nyata mereka akan menentukan Gen Z untuk memberi dukungan atau tidak.
Penulis: Hari Tri Wasono





