Patung macan putih di Desa Balongjeruk Kecamatan Kunjang Kabupaten Kediri Jawa Timur masih viral. Sejak Desember 2025 sampai hari ini orang belum juga bosan. Belum waleh.
Mereka datang dari mana-mana. Dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat. Termasuk dari Jakarta. Ada yang berrombongan pakai bus. Semua demi melihat patung macan Kediri beranatomi tak lazim.
Sebuah anomali yang unik di era digital. Faktanya warga desa gembira. Yang datang gembira. Bahagia bisa berfoto dengan si macan. Berfoto dengan Mbah Suwari, si pencipta patung macan. Semua bahagia. Itu yang terpenting di tengah ekonomi sulit.
Sepulang dari lokasi mereka masih bisa bawa oleh-oleh, buah tangan pula. Merchandise berlogo patung macan putih. Ya, lokasi monumen patung macan Kediri di Desa Balongjeruk telah jadi wisata dadakan. Wisata murah meriah.
Baca Juga: Mau Coba Frugal Living di Blitar, Tapi Diganggu MBG
Saat ini kurang lebih 20-an UMKM tumbuh. Jualan makanan, minuman dan merchandise. Mayoritas warga setempat. Ekonomi kerakyatan telah hidup. Apalagi belakangan CFD juga digelar di lokasi patung macan.
Terpujilah mbah Suwari!
Orang pertama Kediri yang patut dilimpahi terima kasih plus puja puji siapa lagi kalau bukan Mbah Suwari. Bekas seniman ludruk keliling yang rendah hati. “Saya tidak menduga kalau jadinya seperti ini,” katanya.
Berkat sentuhan tangan emasnya, modal 2 juta dengan waktu garap 18 hari itu telah memberi kebahagiaan banyak orang. Tentu saja ada peran besar dari para netizien pencibir.
Mereka yang di awal terus menerus mengulas estetika patung macan di media sosial. Poinnya menyerang anatomi patung. Diejek berwajah perpaduan macan dan kuda nil. Yang gagap seni ikut-ikutan membully.
Itulah situasi the death of expertise, matinya kepakaran. Contoh mutakhir dari buku karya Tom Nichols. Semua berkomentar, menilai dan betindak seolah sebagai pakar patung.
Titik baliknya ketika muncul testimoni Kades Balongjeruk. Bahwa biaya pembuatan patung macan putih Kediri hanya 3,5 juta. Dirogoh dari kocek pribadi pula. Clep klakep.
Arus algoritma di media sosial berbalik. Dari olok-olok berubah puja puji. Viral patung macan Kediri berlanjut hingga kini. Orang terus berdatangan. No viral no terkenal.
Baca Juga: 41 dapur MBG Milik Anak Dewan, Apa Salahnya yang Kaya Makin Kaya?
Viralnya patung macan putih Kediri untungnya berlangsung tahun 2025. Sehingga tidak dicemari kepentingan politik. Kemeriahan yang terjadi berlangsung natural. Betul-betul datang dari, oleh dan untuk masyarakat.
Bayangkan patung macan Kediri viral tahun 2024. Apalagi saat berlangsung Pilkada Kediri. Haqqul yaqin Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito tidak akan melewatkan kesempatan itu.
Doi pasti akan melesat ke lokasi lebih awal. Bertemu kades Balongjeruk, menjunjung tinggi-tinggi Mbah Suwari. Memberinya penghargaan. Apalagi Mas Dhito cabup petahana. Tidak sulit untuk menunggangi patung macan.
Menunggang dalam arti harfiah: berfoto di atas punggung macan. Juga menunggangi untuk kebutuhan elektoral. Berikutnya algoritma di media sosial akan berseliweran foto dan video: Mas Dhito with patung macan putih Kediri.
Berhubung Mas Dhito sudah menjabat bupati Kediri periode ke-2 dan tidak bisa mencalonkan lagi, maka wajar jika tidak berhasrat mendatangi lokasi patung macan putih.
Sampai hari ini tidak terlihat sikap Mas Dhito terkait viralnya patung macan Kediri yang berimba tumbuhnya ekonomi kerakyatan. Ini berbeda saat Pilkada 2024. Apapun terkait warga Kediri didatanginya.
Mas Dhito sudah benar. Buat apa repot-repot menemui Mbah Suwari untuk sekedar mengucap terima kasih? Toh tak ada kepentingan elektoral yang dikejar. Cukup mengirim utusan dari dinas perhubungan. Berbicara soal ketertiban CFD.
Toh kalau memang punya cita-cita politik setelah ini, misalnya ke DPR RI dari dapil 6 atau ke provinsi Jawa Timur, momentumnya masih panjang: 2029. Antum sudah benar Mas Dhito!
Baca Juga: Berkah Patung Macan Putih Kediri: Jadi Wisata Dadakan Tapi Sampai Kapan?
Penulis: Garendi
*) Penulis adalah penyuka MBG (Makanan Berkuah Gurih) yang bertempat tinggal di perbatasan Blitar-Kediri





