Bacaini.id, TULUNGAGUNG – Omah Gajah menjadi saksi sejarah kejayaan batik di Tulungagung lebih dari 100 tahun yang lalu. Bangunan megah yang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda itu masih berdiri kokoh di Desa Simo, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Pada bagian depan bangunan tertulis angka 1916 yang menunjukkan awal bangunan itu berdiri. Praktis, bangunan tersebut sudah berusia 104 tahun. Sementara, disebut Omah Gajah karena terdapat ukiran gambar gajah sekaligus tulisan berbahasa Belanda di bagian depan bangunan itu.
Omah Gajah ini memiliki sejarah yang panjang, terutama kaitannya dengan keberadaan batik di Tulungagung. Bangunan itu didirikan oleh Haji Umar dan digunakan sebagai tempat produksi batik. Di rumah itulah produksi batik Tulungagung sudah dilakukan sejak sebelum Indonesia merdeka.
“Saya tidak mengetahui dengan pasti apa nama batik yang diprodukasi pada tahun itu. Yang jelas rumah ini dulu memang menjadi tempat produksi batik,” kata Jhon Heru, generasi kelima keluarga Haji Umar kepada Bacaini.id, Kamis, 31 Maret 2022.
Menurutnya, seratus tahun lalu, Omah Gajah menjadi tempat produksi batik dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Namun agresi militer Belanda tahun 1946 membuat produksi batik di Omah Gajah menurun. Bahkan saat itu, Omah Gajah digunakan sebagai poliklinik untuk merawat tentara perang yang mengalami luka.
“Setelah Indonesia benar-benar merdeka, produksi batik kembali dilakukan di Omah Gajah tapi hasil produksinya tidak sebanyak dulu. Sekitar tahun 1976 Omah Gajah diterjang banjir dan pada akhirnya tutup total,” jelas John Heru.
Pria berusia 56 tahun itu menyayangkan tidak adanya sisa-sisa batik hasil produksi Omah Gajah. Padahal dahulu, banyak orang dari luar negeri berdatangan untuk membeli batik hasil produksi Omah Gajah.
“Saya hanya melihat dari foto-foto keluarga, ada beberapa orang dari luar negeri membeli batik dari Omah Gajah,” ungkapnya.
Kepala Desa Simo, Mahmud menambahkan Omah Gajah menjadi bukti bahwa Desa Simo pernah menjadi pusat produksi batik di Tulungagung sekaligus menjadi saksi bisu kejayaan batik Tulungagung.
“Karena adanya Omah Gajah banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pembantik, dan tentu saja hal itu menjadi penopang perekonomian warga sekitar. Tak bisa dipungkiri bahwa Omah Gajah adalah bagian dari sejarah batik Tulungagung,” imbuhnya.
Selain Omah Gajah, sambungnya, banyak rumah produksi batik di Desa Simo yang juga terdampak banjir pada tahun 1976 silam. Namun dari sekian banyak rumah produksi, hanya Omah Gajah yang masih kokoh berdiri hingga sekarang.
Selain disebut Omah Gajah karena ada gambar gajah di bagian depan bangunan, gajah juga menjadi salah satu ikon pada batik yang diproduksi kala itu.
“Hasil produksi batik juga banyak diburu warga asing karena hasil produksinya tak heran baik hasil produksi omah gajah sangat terkenal pada saat itu,” paparnya.
Lebih lanjut, Mahmud mengungkapkan jika pihak desa tengah berupaya menjadikan Omah Gajah sebagai salah satu cagar budaya di Tulungagung. Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan ahli waris.
“Kami sudah mengajukan permohonan kepada Pemkab Tulungagung untuk membantu menjadikan omah gajah sebagai cagar budaya. Karena bangunan tersebut sarat akan nilai sejarah,” tandasnya.
Penulis: Setiawan
Editor: Novira