KEDIRI – Goa Selomangleng adalah tempat paling asyik untuk refreshing. Namun tidak untuk pasangan yang sedang memadu kasih jika tak ingin mendapat petaka.
Sebagai satu satunya tempat wisata alam di Kota Kediri, Goa Selomangleng menjadi jujukan warga untuk berwisata. Di sini kamu bisa menikmati suasana alam yang asri, plus benda-benda bersejarah yang menjadi peninggalan leluhur.
Namun untuk kamu yang sedang berpacaran, jangan sekali-kali berkunjung ke tempat ini jika tak ingin mendapat petaka. Yakni hubungan asmaramu bakal kandas.
Masyarakat di sekitar Goa Selomangleng mempercayai bahwa kutukan Dewi Kilisuci berlaku di area goa hingga sekarang. Dalam legenda yang dipercaya masyarakat, Dewi Kilisuci memiliki ikisah romansa yang kandas dan tidak pernah menikah. Konon di goa itulah dia muksa atau menghilang untuk selamanya. Untuk mengenang kisah tersebut, sebuah patung Dewi Kilisuci berukuran besar dibangun di area Goa Selomangleng.
Alhasil, tempat wisata alam yang berada di Kecamatan Mojoroto ini menjadi pantangan bagi muda-mudi yang sedang berpacaran. “Bisa putus kalau berani main kesana,” kata Sujinem, salah satu warga di kawasan itu kepada Bacaini, Sabtu 9 Januari 2021.
Sebagai warga asli Kelurahan Sukorame yang tak jauh dari Goa Selomangleng, nenek berusia 71 tahun ini mengaku faham dengan seluk beluk goa itu. Sejak kecil Sujinem sudah terbiasa mencari kayu bakar di sekitar goa yang berada di kaki Gunung Klotok. Di goa itu pula dia dan orang tuanya pernah mengungsi saat terjadi agresi penjajahan Belanda jaman dulu.
Oleh leluhurnya, Sujinem selalu diwanti-wanti untuk tidak pernah bermain ke Goa Selomangleng jika sedang menjalin hubungan asmara. Pesan itu berkembang turun temurun di lingkungan warga sekitar goa hingga sekarang.
Menurut kesaksian warga setempat, kisah kutukan Dewi Kilisuci kerap terbukti. Dengan berbagai penyebab, pasangan kekasih yang berpacaran di tempat itu tak bisa melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan. “Tak terhitung anak muda yang pacaran di sini langsung putus,” kata Sujinem.
Joko Suyanto, remaja yang pernah berpacaran di tempat itu memberikan kesaksian serupa. Saat masih duduk di bangku sekolah, Joko mengaku pernah mengalami putus cinta tak lama usai berpacaran di tempat itu. “Awalnya bertengkar biasa, akhirnya putus. Tapi tidak langsung, selang beberapa bulan dari sana (goa Selomangleng),” kata Joko.
Meski banyak yang memberikan kesaksian tentang kutukan itu, namun tak sedikit pasangan yang mengabaikan. Mereka kerap berkunjung ke tempat itu untuk berpacaran, terutama saat berlangsung pertunjukan di tempat itu. Sebelum pandemi Covid 19 terjadi, hampir tiap Ahad Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri menggelar hiburan rakyat di Goa Selomangleng. Mulai pentas kesenian Jaranan, musik, hingga fasilitas hiburan keluarga.
Tak hanya itu, pemerintah juga membangun infrastruktur wisata di lokasi goa seperti kolam renang, pusat kuliner, hingga mainan anak-anak.
Tak jauh dari lokasi goa, sebuah areal terbuka menjadi zona motor cross yang dikelola kesatuan Brigade Infantri 16 Kediri. Tak heran jika tiap hari libur kawasan itu dipenuhi kunjungan wisatawan lokal dan luar kota.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Nurmuhyar tak mau berspekulasi tentang rumor itu. Tanpa bermaksud mengabaikan keyakinan penduduk setempat, dia memaknai kutukan itu sebagai perilaku moral. “Larangan berpacaran di tempat itu agar tak melakukan tindak asusila di sana,” katanya. (HTW)